Tampilkan postingan dengan label Dari Al Sofwa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dari Al Sofwa. Tampilkan semua postingan

6 Juli 2013

TANDA - TANDA KIAMAT

Tanda-Tanda Kiamat
Segala puji bagi Allah Ta'ala yang telah berfirman, artinya, “Maka sesungguhnya telah datang (hari Kiamat) tanda-tandanya.” (QS.Muhammad: 18)
Pembaca yang budiman...
Tanda-tanda Kiamat (Asyrath as-Sa’ah) adalah indikasi-indikasi Kiamat yang mendahuluinya dan menunjukkan kedekatan waktunya. Di antaranya yaitu;
1. Diutusnya Nabi Shalallahu 'alaihi Wasalam
Anas Radhiyallahu 'anhu berkata, “Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam bersabda, “(Masa) diutusnya aku dan (hari terjadinya) Kiamat seperti dua (jari) ini’.” Anas Radhiyallahu 'anhu berkata, “Dan beliau Shalallahu 'alaihi wasallam merapatkan jari telunjuk dengan jari tengahnya.” (HR. Muslim).
2. Wafatnya Nabi Shalallahu 'alaihi wasallam
Dari ‘Auf bin Malik Radhiyallahu 'anhu ia berkata, Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam bersabda,
اعْدُدْ سِتًّا بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ: وَذَكَرَ مِنْهَا: مَوْتِي
“Hitunglah enam (tanda) menjelang datangnya hari Kiamat ...” dan beliau Shalallahu 'alaihi wasallam menyebutkan di antaranya,‘Kematianku’.” (HR. al-Bukhari).
3. Penaklukan Baitul Maqdis
Dalam hadits ‘Auf bin Malik Radhiyallahu 'anhu berkata, Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam bersabda,
 اعْدُدْ سِتًّا بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ: فَذَكَرَ مِنْهَا: فَتْحُ بيتِ المقدس
“Hitunglah enam (tanda) menjelang datangnya hari Kiamat ...’ dan beliau Shalallahu 'alaihi wasallam menyebutkan di antaranya: ‘Penaklukan Baitul Maqdis’.” (HR. al-Bukhari).
4. Wabah Tha’un ‘Amwas
Masih dalam hadits ‘Auf bin Malik Radhiyallahu 'anhu sebelumnya, beliau bersabda,
اعْدُدْ سِتًّا بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ:فَذَكَرَ مِنْهَا: ثُمَّ مُوتَانٌ يأخذ فيكم كَقُعَاصِ الغنم
“Hitunglah enam (tanda) menjelang datangnya hari Kiamat .........’ dan beliau Shalallahu 'alaihi wasallam menyebutkan di antaranya: ‘Kemudian banyaknya kematian yang menimpa kalian bagaikan penyakit (qu’ash) kambing’.” (HR. al-Bukhari).
Qu’ash adalah penyakit yang menyerang hewan-hewan ternak. Ia menjangkitkan sesuatu (wabah) melalui kedua lubang hidung, lalu (hewan-hewan yang terjangkit) mati mendadak.
5. Berlimpahnya Harta dan Sulit Membayar Sedekah
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam bersabda,“Tidak akan terjadi hari Kiamat hingga harta benda banyak pada kalian, lalu melimpah ruah, sampai-sampai menyusahkan pemilik harta (mencari) orang yang menerima sedekah darinya, dan seorang dipanggil (untuk) menghadapnya, lalu dia berkata, ‘Aku tidak memiliki keperluan terhadapnya’.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).
6. Munculnya Beragam Fitnah
Al-Fitan bentuk plural dari fitnah, berarti cobaan dan ujian. Kemudian (kata ini) banyak digunakan untuk setiap hal yang mengandung ujian yang dibenci.
Dalam hadits dari Abu Musa al-Asy’ary Radhiyallahu 'anhu beliau berkata, Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya menjelang datangnya hari Kiamat (terjadi) banyak fitnah, bagaikan potongan malam yang gelap gulita. Seseorang yang di pagi hari dalam keadaan beriman, dan di sore harinya menjadi kafir. (Ada) yang di sore harinya dalam keadaan beriman, dan di pagi harinya menjadi kafir. ..(hingga sabda beliau): Jika (rumah) salah seorang dari kalian dimasuki (fitnah), maka jadilah seperti yang terbaik dari kedua anak Adam (yakni: Habil).” (HR. Imam Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan al-Hakim dalam al-Mustadrak.)
7. Fenomena Nabi Palsu
Nabi Shalallahu 'alaihi wasallam bersabda, “Tidak akan terjadi hari Kiamat hingga dibangkitkan ‘para dajjal (pendusta)’ yang (jumlahnya) mendekati tiga puluh, semuanya mengaku bahwa mereka adalah utusan Allah (Rasulullah).”(HR.al-Bukhari dan Muslim)
8. Munculnya Api di Hijaz
Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam bersabda, “Tidak akan terjadi hari Kiamat sampai api keluar dari tanah Hijaz yang menerangi leher-leher unta di Bashra.”
9. Hilangnya Amanat
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu menuturkan, Nabi Shalallahu 'alaihi wasallam bersabda, “Jika amanat telah disia-siakan, maka tunggulah Kiamat.’ Abu Hurairah bertanya, ‘Wahai Rasulullah, bagaimana amanat itu disia-siakan?’ Beliau Shalallahu 'alaihi wasallam menjawab, ‘Jika urusan diserahkan kepada selain ahlinya, maka tunggulah Kiamat!’.” (HR. al-Bukhari)
10. Diangkatnya Ilmu dan Banyaknya Kebodohan
Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam bersabda, “Di antara tanda-tanda Kiamat adalah ilmu dihilangkan dan kebodohan diteguhkan’.”
11. Merebaknya Perzinaan
Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya di antara tanda-tanda Kiamat adalah ...’ dan beliau Shalallahu 'alaihi wasallam menyebutkan di antaranya: ‘Merebaknya perzinaan’.”
12. Riba Merajalela
Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam bersabda, “Sungguh akan datang suatu zaman pada manusia, seseorang tidak peduli (lagi) dengan (status) kehalalan atau keharaman harta yang ia peroleh” (HR.al-Bukhari)
13. Maraknya Minuman Keras (Khamer) dan Dianggapnya Halal
Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam bersabda, “Di antara tanda-tanda Kiamat adalah.....’ dan beliau Shalallahu 'alaihi wasallam menyebutkan di antaranya: ‘(Maraknya) minuman khamer’.” (HR.Muslim)
14. Maraknya Pembunuhan
Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam bersabda, “Tidak akan datang hari Kiamat hingga banyak al-harj.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah al-harj itu?” Beliau Shalallahu 'alaihi wasallam menjawab, “Pembunuhan, pembunuhan.” (HR. Muslim).
15. Zaman Semakin Singkat
Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam bersabda, “Tidak akan terjadi hari Kiamat hingga zaman semakin singkat, maka jadilah setahun bagaikan sebulan, sebulan bagaikan sepekan, sepekan bagaikan sehari, sehari bagaikan sejam, dan sejam bagaikan seperti terbakarnya pelepah pohon kurma (cepat sekali, pent.).” (HR. Ahmad, at-Tirmidzi, dan al-Albani menshahihkannya).
16. Menjamurnya Fahsya (Perbuatan dan Ucapan Keji), Pemutusan Silaturahim, dan Buruknya Hubungan Bertetangga
Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam bersabda, “Tidak akan terjadi hari Kiamat hingga muncul (banyak) perbuatan dan perkataan keji, pemutusan silaturahim, dan jeleknya hubungan bertetangga.” (HR.Ahmad dan al-Hakim)
17. Orangtua Bergaya Anak Muda
Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam bersabda, “Akan ada di akhir zaman satu kaum yang menyemir rambut mereka dengan warna hitam bagaikan dada burung merpati, mereka tidak akan pernah mencium harumnya Surga’.” (HR. Ahmad)
18. Banyaknya Peristiwa Gempa Bumi
Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam bersabda, “Tidak akan terjadi hari Kiamat hingga terjadi banyak peristiwa gempa bumi.” (HR. al-Bukhari)
Demikianlah beberapa tanda-tanda kiamat yang bisa kami sebutkan, dan masih ada beberapa tanda yang lainnya. Namun, karena keterbatasan tempat yang tersedia, kami tidak bisa menyebutkannya. Sungguh telah dekat saat terjadinya kiamat. Namun, pastinya kapan kiamat itu terjadi? Maka kita katakan, “Allahu a’lam” (hanya Allahlah yang tahu) karena Allah Ta'ala menyatakan dalam firman-Nya,
يَسْأَلُونَكَ عَنِ السَّاعَةِ أَيَّانَ مُرْسَاهَا قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ رَبِّي لَا يُجَلِّيهَا لِوَقْتِهَا إِلَّا هُوَ
Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat: “Bilakah terjadinya?” Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu adalah pada sisi Tuhanku; tidak seorang pun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia”  (QS.al-A’raf : 187)  (Redaksi)

[Sumber: Mukhtashar Asyrathu as-Sa’ah ash-Shughra wal Qubra, ‘Awadh bin ‘Ali bin ‘Abdullah. Diberi pengantar oleh Syaikh Abdullah bin Abdurrahman al-Jibrin Rahimahullah ]

2 Juni 2013

Kesalahan Dalam Mendidik Anak

Faktor ketidaktahuan tentang cara mendidik boleh jadi melahirkan sebab terjadinya kesalahan dalam proses mendidik anak. Oleh karena itu agar hal tersebut dapat dihindari, adalah penting bagi para orangtua mengenal jenis-jenis kesalahan ini sehingga proses pendidikan anak dapat berjalan baik dan berhasil sukses. Berikut ini 7 contoh kesalahan orangtua dalam mendidik anak mereka;

1. Ucapan pendidik tidak sesuai dengan perbuatan

Ini adalah kesalahan besar karena anak belajar dari orangtua beberapa hal, akan tetapi ternyata mereka justru mendapatkan perkara yang bertolak belakang dari apa yang diajarkan itu pada diri orangtua mereka. Ini akan berpengaruh buruk terhadap perkembangan mental dan perilaku anak. Allah Ta'ala mencela perbuatan ini dengan firman-Nya, artinya, “Hai orang-orang yang beriman mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS.ash-Shaff: 2-3).

Bagaimana anak akan belajar kejujuran kalau ia mengetahui orangtuanya berdusta? Bagaimana anak akan belajar sifat amanah sementara ia melihat bapaknya menipu? Bagaimana anak akan belajar akhlak baik bila orang sekitarnya suka mengejek, berkata jelek dan berakhlak buruk?

2.  Kedua orangtua tidak bersikap sama dalam menyikapi perbuatan anak

Kadangkala seorang anak melakukan perbuatan tertentu di hadapan kedua orangtua. Tetapi akibatnya sang ibu memuji dan mendorong sedang sang bapak memperingatkan dan mengancam. Anak akhirnya menjadi bingung mana yang benar dan mana yang salah di antara keduanya. Dengan pengertiannya yang masih terbatas, ia belum mampu membedakan mana yang benar dan yang salah sehingga hal itu akan mengakibatkan anak menjadi bimbang dan segala urusan tidak jelas baginya.

Sementara, kalau kedua orangtua mempunyai cara dan sikap yang sama atau tidak menunjukkan perbedaan ini, niscaya tidak terjadi kerancuan tersebut.

3. Membiarkan anak jadi korban televisi

Media massa mempunyai pengaruh yang besar sekali dalam perilaku dan perbuatan anak. Televisi adalah media berbahaya bagi proses pendidikan anak. Hampir tidak ada rumah yang tidak mempunyai televisi. Padahal pengaruhnya demikian luas terhadap anak maupun orang dewasa, terhadap orang-orang berpengetahuan maupun yang terbatas pengetahuannya. Plomery, seorang peneliti mengatakan, “Anak pada umumnya, dan kebanyakan orang dewasa, cenderung menerima tanpa mempertanyakan segala informasi yang tampil di film-film dan kelihatan realistis. Mereka dapat mengingat materinya dengan cara yang lebih baik. Maka akal pikiran mereka menelan begitu saja nilai-nilai yang rendah itu.”

Banyak orangtua yang tidak menaruh perhatian bahwa anak mereka kecanduan menonton televisi. Padahal ini sangat berpengaruh terhadap akhlak dan fithrah mereka, sampai apa yang dinamakan dengan acara anak-anak pun penuh dengan pemikiran-pemikiran keji yang diperoleh anak melalui acara yang ditayangkan. Banyak film kartun yang berisi kisah cinta dan roman sampai di antara anjing atau binatang lainnya. Tidakkah Anda melihat bagaimana seekor kucing betina dalam acara TV ditampilkan sangat anggun, berdandan dengan bulu mata panjang dan mata yang bercelak indah, serta buah dada yang montok, berlenggak lenggok untuk menggaet hati sang kucing jantan. Tayangan ini semua menyerbu dunia anak dan menodai fithrah yang suci dengan dalih acara anak-anak.

Oleh karena itu anak-anak kita harus dilindungi dari perangkat yang merusak ini. Hal ini, tak diragukan lagi, bukan sesuatu yang mudah tetapi juga tidak mustahil, jika kita ingin menjaga akhlak putra-putri kita. Semoga Allah Ta'ala melimpahkan pertolongan-Nya kepada kita.

4. Menyerahkan tanggung jawab pendidikan anak kepada pembantu atau pengasuh

Kesalahan amat serius dan banyak terjadi di masyarakat adalah gejala kesibukan seorang ibu di luar rumah dan sibuk dengan aneka urusan lain sehingga peran utama mendidik anak dan merawat rumah terabaikan. Sibuk dengan karir, bisnis, kunjungan, pertemuan atau hanya bermalas-malasan dan enggan menangani langsung urusan anak sehingga dengan entengnya urusan anak, ia serahkan kepada pembantu atau pengasuh.

Padahal bimbingan dan kasih sayang seorang ibu dibutuhkan untuk mengiringi tahap pertumbuhan dan perkembangan kejiwaan anak menuju kedewasaan. Ini semua jelas tidak bisa tergantikan dengan peran pembantu atau pengasuh. Anakpun tumbuh berkembang tanpa kasih sayang dan bimbingan. Kehilangan dua hal ini bisa mempengaruhi kejiwaan seorang anak bahkan acap kali terbawa sampai dewasa dan mempengaruhi kepribadian dan perilakunya.

5. Berlebihan dalam memberi hukuman dan balasan

Tidak ada yang mengingkari bahwa pemberian hukuman adalah termasuk salah satu sarana yang bisa diterapkan untuk proses pendidikan. Bahkan pemberian hukuman juga disyariatkan di dalam agama ini. Karenanya sesekali mungkin diperlukan orangtua untuk diterapkan kepada anak-anak mereka.

Akan tetapi pemberian hukuman ini tidak bisa dipraktikkan semau-maunya tanpa mempertimbangkan kondisi psikologis dan fisik si anak. Berlebihan dalam memberikan hukuman bisa menjadi bumerang bagi si anak dan orangtua. Hasilnya malah jauh dari apa yang sedari awal diharap-harapkan. Alih-alih menjadi baik malah berubah menjadi buruk.

Di antara pemberian hukuman yang diperbolehkan dalam Islam adalah dengan pukulan, namun pukulan yang tidak menyakitkan. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallama bersabda,

مُرُوا أَوْلاَدَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرِ سِنِينَ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِى الْمَضَاجِعِ

Perintahkan anak-anak kalian untuk shalat saat berumur tujuh tahun dan pukullah mereka (jika tidak mau shalat) saat berumur sepuluh tahun, pisahkanlah mereka dalam tempat tidurnya.” (HR. Abu Dawud, no. 495).

Ada kaidah yang harus diperhatikan orangtua di dalam memukul, yaitu:
a. Jangan jadikan pukulan sebagai hukuman pertama sebelum menghukum dengan cara lain yang lebih ringan.
b. Jangan memukul anak dalam keadaan marah, dikhawatirkan akan membahayakan anak.
c. Jangan memukul daerah yang berbahaya seperti, wajah, kepala dan dada.
d. Jangan memukul pukulan yang keras dan menyakitkan, tidak lebih dari tiga kali pukulan kecuali karena darurat dan itupun tidak boleh lebih dari sepuluh kali pukulan.
e. Jangan memukul anak sebelum berumur 10 tahun.
f. Orangtua harus memukul sendiri anak yang salah, jangan mewakilkan pukulan kepada anak yang lain yang bisa menyebabkan kebencian dan hasad.

6. Berusaha mengekang anak secara berlebihan

Yaitu tidak diberi kesempatan bermain bercanda dan bergerak. Ini bertentangan dengan tabiat anak dan bisa membahayakan kesehatannya, karena permainan penting bagi pertumbuhan anak. “Permainan di tempat yang bebas dan luas termasuk faktor terpenting yang membantu pertumbuhan jasmani anak dan menjaga kesehatannya.”

7. Mendidik anak tidak percaya diri dan merendahkan pribadinya

Sering ditemukan seorang anak dicemooh atau diperlakukan hina oleh orangtuanya bahkan tak hanya di dalam rumah tetapi juga di hadapan umum. Ini akan membuat anak hidup dengan rasa rendah diri, rasa bersalah, penakut dan selalu tidak percaya diri bahkan sifat dan kepribadian ini akan berbekas hingga dewasa.

Karena itu, seyogianya kita mempersiapkan anak-anak kita untuk dapat melaksanakan tugas-tugas agama dan dunia. Dan hal ini tidak tercapai kecuali dengan mendidik mereka memiliki rasa percaya dan harga diri namun tidak sombong dan takabur; serta senantiasa mengupayakan agar anak dikenalkan kepada hal-hal yang bernilai tinggi dan dijauhkan dari hal-hal yang bernilai rendah.

Demikianlah 7 contoh kesalahan orangtua dalam mendidik anak. Masih banyak bentuk kesalahan yang lainnya, namun ke-7 contoh di atas kami rasa sudah cukup bermanfaat bila kita jadikan rambu-rambu petunjuk dalam proses pendidikan anak. Semoga Allah Ta'ala melindungi kita -para orangtua- dari terjatuh ke dalam kesalahan-kesalahan tersebut dan kesalahan yang lainnya. Aamien. Wallahu a’lam. (Redaksi)

[Sumber: Diringkas dari al-Wajiz Fi at-Tarbiyyah, karya: Yusuf Muhammad al-Hasan, penerbit: Dar al-Dzakha-ir, Damam, 1416 H, edisi Indonesia: Pendidikan Anak Dalam Islam, penerbit: Darul Haq, dengan sedikit gubahan]

Hukum Mencela Nabi

Hukum Mencela Nabi
Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam memiliki kedudukan yang tinggi dan istimewa di sisi Allah  Ta’aladan di hati kaum Muslimin. Bahkan Allah Ta’ala memberikan kepada beliau hak-hak istimewa yang tidak diberikan kepada selain beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam. Oleh karena itu,  AllahTa’ala memberikan hukuman yang “tegas” bagi orang-orang yang berani mencela dan merendahkan beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Mencela Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam hukumnya haram, dan termasuk salah satu pembatal keislaman seseorang. Jika ia seorang muslim dihukumi murtad atau keluar dari Islam, zindiq dan munafik. Syaikh Syinqithi Rahimahullah berkata, “Ketahuilah bahwa tidak menghormati NabiShallallahu ‘alaihi wasallam, merendahkan,  meremehkan, melecehkan, atau menghina beliau- adalah perbuatan riddah (keluar) dari Islam dan kufur terhadap Allah Ta’ala. Dan Allah Ta’alatelah berfirman tentang orang-orang yang menghina Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam dan melecehkan beliau pada perang Tabuk ketika binatang tunggangan mereka hilang, artinya, “Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentu mereka akan menjawab, “Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja”. Katakanlah, “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?”. Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. ..” (QS. at-Taubah: 65-66).” (Adwa’ul Bayan, 7/403-404).
Bentuk-bentuk perbuatan menghina dan mencela Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam sebagai berikut,

1. Menghina dan mencela Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam secara langsung
Qadhi al-‘Iyadh Rahimahullah (wafat th. 544 H) berkata, “Ketahuilah semoga Allah Ta’alamemberikan taufik kepada kami dan Anda, bahwa semua orang yang mencela Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam atau menghinanya, atau menyandarkan sifat kekurangan kepada diri, atau nasab, atau agama, atau salah satu sifat di antara sifat-sifat beliau Shalallahu ‘alaihi wasallam   atau menyindir beliau, atau menyerupakan beliau dengan sesuatu dalam konteks penghinaan kepada beliau, atau meremehkan, atau menyepelekan keadaan, atau merendahkan, atau mencacati beliau, maka ia adalah pencela beliau. Dan hukumnya termasuk hukum orang yang mencela, yaitu dibunuh sebagaimana akan kami jelaskan.”(Asy-Syifa Bita’rifi Huququl Mushthafa, 2/473).

Jadi barangsiapa yang menjuluki Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam dengan julukan-julukan yang mengandung makna celaan, seperti, mengatakan bahwa Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam  “haus wanita”, pedofili, “hobi perang” dan lain-lain. Demikian juga orang-orang yang membuat karikatur Nabi atau kartun beliau maka hukumnya sama seperti mencela Nabi secara langsung.

2. Mencela sunnah
Syaikh Shalih bin ‘Abdul ‘Aziz Alu Syaikh hafizhahullah di dalam syarah kitab Tauhidnya berkata, “Adapun jika penghinaan (celaan) terhadap sesuatu di luar hal itu (Allah, Nabi dan al-Qur’an, ed) maka ada perincian; jika memperolok-olok (menghina) agama, maka dilihat apakah yang ia maksudkan  adalah mencela agama Allah atau yang ia maksudkan mencela cara beragama seseorang? Contohnya ada seseorang mencela penampilan seseorang, dan penampilan tersebut adalah salah satu bentuk iltizam (berpegang teguh) dengan sunnah (tuntunan) Nabi. Apakah orang ini dihukumi sebagai orang yang menghina dengan sebuah penghinaan yang mengeluarkannya dari agama? Jawabnya, “Tidak, karena penghinaan ini ditujukan kepada tatacara beragama orang tersebut, bukan tertuju kepada agama sama sekali. Lalu dijelaskan kepada orang tersebut bahwa tatacara ini adalah sunnah (tuntunan) dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam. Jika ia sudah tahu hal itu sunnah, dan ia mengakuinya dan bahwa Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam melakukannya kemudian ia menghinanya –dalam arti meremehkan atau menghina orang yang mengikuti sunnah Nabi padahal dia tahu kalau hal itu sunnah, dan mengakui kebenarannya sebagai sunnah Nabi maka hal ini termasuk celaan terhadap RasulShalallahu ‘alaihi wasallam.” (at-Tamhid Syarh Kitab at-Tauhid, 482).

3. Mencela dan menghina istri-istri Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam
Mencela istri-istri beliau Shalallahu ‘alaihi wasallam, terutama ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anhatergolong celaan terhadap Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam. Para ahli fiqih sepakat bahwa barangsiapa yang menuduh zina terhadap ‘Aisyah Radhiyallahu anha, maka ia telah mendustakannash yang turun berkaitan dengan haknya Radhiyallahu anha. Dan orang tersebut dihukumi kafir, tanpa ada perbedaan pendapat di kalangan ulama. Allah Ta’ala berfirman dalam Haditsul Ifki setelah Dia Ta’ala membersihkannya dari tuduhan zina tersebut, artinya, “Allah memperingatkan kamu agar (jangan) kembali memperbuat yang seperti itu selama-lamanya, jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS. an-Nur:17).

Oleh karena itu, barangsiapa yang kembali melakukannya, bukanlah orang yang beriman. (al-Ma’ushu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah, 22/185, yang disarikan dari ash-Sharimu al-Maslul).
Abu Sa’ib al-Qadhi Rahimahullah berkata, “Pada suatu hari aku pernah berada di majelis al-Hasan bin Zaid seorang da’i di Thibristan, dan di hadapan beliau ada seorang laki-laki yang menyebut-nyebut ‘Aisyah Radhiyallahu anha dengan sebutan yang buruk  berupa perbuatan keji (zina), maka beliau berkata, ‘Wahai pembantuku, penggallah lehernya. “Lalu orang-orang‘Alawiyyun berkata, ‘Laki-laki ini adalah dari Syi’ah (penolong atau pembela atau golongan) kita.’ Beliau Rahimahullah berkata, “Aku berlindung kepada Allah, lelaki ini telah mencela (menghina) Nabi Shallallahu ‘alahi wasallam, karena  Allah Ta’ala berfirman, artinya, “Wanita-wanita yang tidak baik adalah untuk laki-laki yang tidak baik, dan laki-laki yang tidak baik adalah buat wanita-wanita yang tidak baik (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka(yang di tuduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka. Bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia (yaitu Surga).” (QS. an-Nur: 26).

Jika ‘Aisyah Radhiyallahu anha buruk dan tidak baik, berarti Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallamburuk. Lelaki ini kafir, penggallah lehernya! Lalu mereka membunuh lelaki itu dan aku menyaksikannya. Diriwayatkan oleh al-Lalika’i.” (ash-Sharim al-Maslul, hal. 566)

4. Mencela dan Menghina Ahli Bait
Imam Ibnu Hajar al-Haitami Rahimahullah membawakan riwayat dari Abu Mush’ab Rahimahullahdari Imam Malik Rahimahullah, “Barangsiapa mencela Alu bait (keluarga) Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam dipukul dengan pukulan yang menyakitkan, dipermalukan dan ditahan (dipenjara) dalam waktu yang lama hingga bertobat, karena hal itu adalah sikap menyepelekan (meremehkan) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.” (ash-Shawa’iq al-Muhriqah, hal. 144)

5. Mencela Shahabat
Di antara bentuk mencela Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah mencela shahabat beliauShallallahu ‘alaihi wasallam.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin Rahimahullah berkata, “Sesungguhnya mencela Shahabat Radhiyallahu 'anhum bukan hanya celaan kepada mereka saja, akan tetapi juga celaan terhadap para Shahabat, Nabi, syari’at dan Dzat Allah Ta’ala.”

Kemudian beliau Rahimahullah menjelaskan kenapa celaan terhadap sahabat tergolong celaan terhadap Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu karena shahabat beliau adalah orang kepercayaan dan penerus beliau untuk menjaga umatnya dari kejahatan makhluk. Dan bahwa hal itu adalah sikap mendustakan beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam pada apa-apa yang beliau kabarkan tentang keutamaan dan kelebihan mereka Radhiyallahu anhum. (Majmu’ Fatawa Ibnu ‘Utsaimin 8/616)

Para ulama berbeda pendapat tentang hukum mencela sahabat. Ada yang mengkafirkan secara mutlak dan mengatakan pelakunya dihukum bunuh. Ada pula yang mengatakan tidak kafir secara mutlak tanpa memandang siapa sahabat yang dicela dan hukuman bagi pelakunya adalah di penjara sampai ia bertobat atau mati. Sebagian lagi mengatakan bahwa pencela Abu Bakar dan ‘Umar Radhiyallahu anhuma saja yang dihukumi kafir, sedangkan pencela shahabat selain keduanya tidak kafir.

Sanksi untuk Para Pencela
Jika celaan terhadap Nabi datangnya dari seorang yang mengaku Islam, maka hukumnya adalah dibunuh. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah  berkata, “Sesungguhnya si pencela, jika ia seorang Muslim, maka ia menjadi kafir dan (hukumannya) dibunuh, tanpa ada perbedaan pendapat. Dan ini adalah pendapat imam empat dan selain mereka.” (ash-Sharim al-Maslul, hal. 4).

Sedangkan jika celaan itu datang dari kafir dzimmi maka jumhur ulama mengatakan bahwa hukuman bagi pelakunya adalah hukum bunuh menurut pendapat yang lebih kuat. Dan itu adalah pendapat tiga imam; Malik, asy-Syafi’i dan Ahmad Rahimahumullah (Subulus Salam dan ash-Sharimul Maslul)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah berkata, “Dan jika ia (si pencela), seorang dzimmi, maka ia dibunuh sesuai pendapat Malik dan ahli Madinah, dan akan datang penyebutan lafazh-lafazh ucapan mereka. Dan ini adalah pendapat Ahmad dan ahli fikih dari kalangan ahli hadits.”(ash-Sharim al-Maslul, hal. 4)

Namun yang perlu menjadi perhatian bahwa yang menerapkan dan menegakkan hukuman tersebut adalah pemerintah kaum Muslimin, bukan pribadi-pribadi, atau kelompok, atau golongan tertentu. Ibnu Qudamah Rahimahullah berkata, “Tidak diperkenankan menegakkan hudud(hukuman) selain imam (penguasa) atau yang mewakilinya.” (Lihat Umdatul Fiqhi, 1/145).

Dan kewajiban masing-masing kaum muslimin ketika mendengar atau melihat orang yang mencela, menghina dan meremehkan Nabi hanyalah melaporkan kepada pihak yang berwenang (pemerintah) agar memberikan hukuman kepada orang tersebut. Kewajiban pemerintah adalah bersikap tegas terhadap orang-orang yang mencela dan menghina Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam, supaya tidak ada pribadi-pribadi atau kelompok-kelompok tertentu yang  “bertindak sendiri” di luar tanggung jawab mereka.

Demikian sekilas tentang hukum menghina Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, semoga bermanfaat.Wallahu a’lam. (Ustadz Sujono)

[Sumber: Disadur dari berbagai sumber]

Keajaiban Doa

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah memerintahkan agar berdoa kepada-Nya, dan berjanji mengabulkannya. Allah berfirman, artinya, “Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.” (Qs. al-Mukmin: 60).

Shalawat dan salam kepada Rasul-Nya yang telah bersabda,
إِنَّ الدُّعَاءَ يَنْفَعُ مِمَّا نَزَلَ وَمِمَّا لَمْ يَنْزِلْ فَعَلَيْكُمْ عِبَادَ اللَّهِ بِالدُّعَاءِ
Sesungguhnya doa berguna untuk sesuatu yang telah dan akan terjadi, karena itu hendaklah kalian berdoa wahai hamba-hamba Allah.” (HR. at-Tirmidzi).

Berikut ini adalah 4 kisah tentang keajaiban sebuah doa dan beberapa pelajaran penting di dalamnya.

1. Turun Hujan
Dari Anas bin Malik, ia berkata, “Pada masa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam manusia tertimpa paceklik. Ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam sedang memberikan khutbah pada hari Jum’at, tiba-tiba ada seorang Arab badui berdiri dan berkata, “Wahai Rasulullah, harta benda telah binasa dan telah terjadi kelaparan, berdoalah kepada Allah untuk kami.” Beliau lalu mengangkat kedua telapak tangan untuk berdoa, dan saat itu kami tidak melihat sedikit pun ada awan di langit. Namun demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh beliau tidak menurunkan kedua tangannya kecuali gumpalan awan telah datang membumbung tinggi laksana pegunungan. Dan beliau belum turun dari mimbar hingga akhirnya aku melihat hujan turun membasahi jenggot beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam. Pada hari itu, esok hari dan lusa kami terus-terusan mendapatkan guyuran hujan dan hari-hari berikutnya hingga hari Jum’at berikutnya. Pada Jum’at berikut itulah orang Arab badui tersebut, atau orang yang lain berdiri seraya berkata, “Wahai Rasulullah, banyak bangunan yang roboh, harta benda tenggelam dan hanyut, maka berdoalah kepada Allah untuk kami.” Beliau lalu mengangkat kedua telapak tangannya dan berdoa,
اللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا وَلَا عَلَيْنَا
“‘Ya Allah, turunkanlah hujan di sekeliling kami dan jangan sampai menimbulkan kerusakan kepada kami.’ Belum lagi beliau memberikan isyarat dengan tangannya kepada gumpalan awan, melainkan awan tersebut hilang seketika. Saat itu kota Madinah menjadi seperti danau dan aliran-aliran air, Madinah juga tidak mendapatkan sinar matahari selama satu bulan. Dan tidak seorang pun yang datang dari segala pelosok kota kecuali akan menceritakan tentang terjadinya hujan yang lebat tersebut.”(HR. al-Bukhari).

2. Tiga Orang yang Terperangkap di Dalam Gua
Dari Ibnu ‘Umar Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Ada tiga orang dari orang-orang sebelum kalian, ketika mereka sedang bepergian turun hujan lalu ketiganya masuk ke dalam gua, namun kemudian gua itu (pintunya) menutup mereka. Maka salah satu di antara mereka berkata kepada yang lainnya; “Demi Allah, wahai kawan, tidak akan ada yang dapat menolong kalian kecuali kejujuran (kebajikan). Lalu masing-masing dari mereka berdoa dengan sesuatu yang mereka ketahui sebagai suatu kebajikan. Salah seorang di antara mereka berkata; “Ya Allah, sungguh Engkau mengetahui bahwa aku pernah punya seorang pekerja, dengan upah satu faraq (tiga sha’) berupa beras lalu dia pergi dan meninggalkan upahnya. Kemudian dari beras itu aku jadikan benih dan aku tanam sehingga berkembang lalu dari hasilnya itu aku belikan seekor sapi. Suatu hari dia datang dan meminta upahnya yang dulu lalu aku katakan kepadanya; “Lihatlah sapi itu. Itulah upahmu yang satu faraq itu ambil dan giringlah pulang”. Orang itu berkata; “Yang menjadi hakku hanyalah satu faraq beras”. Aku katakan kepadanya; “Ambillah sapi itu karena dia hasil yang aku kembangkan dari upah berasmu.” Ya Allah, seandainya Engkau mengetahui apa yang aku kerjakan itu semata karena takut kepada-Mu, maka bukakanlah celah untuk kami.” Lalu pintu gua itu terbuka sedikit. Lalu orang yang lain berkata; “Ya Allah, sungguh Engkau telah mengetahui bahwa aku memiliki dua orangtua yang sudah renta. Dan setiap malam aku membawakan untuk keduanya susu dari kambing milikku. Pada suatu malam, aku terlambat mendatangi keduanya sehingga ketika aku datang keduanya sudah tertidur sementara keluargaku dan anak-anakku menangis karena kelaparan sedangkan aku tidak akan memberi minum kepada mereka sebelum kedua orangtuaku dan aku enggan untuk membangunkan keduanya dan aku juga enggan meninggalkan keduanya dengan meminum jatah susu keduanya. Dan aku terus menunggu dalam keadaan seperti itu hingga terbit fajar. Ya Allah, seandainya Engkau mengetahui apa yang aku kerjakan itu semata karena takut kepada-Mu, maka bukakanlah celah untuk kami”. Lalu pintu gua itu kembali terbuka sedikit hingga mereka dapat melihat langit. Kemudian orang yang ketiga berkata; “Ya Allah, sungguh Engkau mengetahui bahwa aku mempunyai keponakan wanita yang merupakan manusia yang paling aku cintai, dan aku pernah menginginkan dirinya untukku namun dia menolak kecuali bila aku dapat memberinya uang sebanyak seratus dinar. Maka aku bekerja dan berhasil mengumpulkan uang tersebut. Lalu aku temui dia dan aku berikan uang tersebut dan dia mempersilakan dirinya untukku namun ketika aku sudah berada di antara kedua kakinya dia berkata; “Bertakwalah kepada Allah, dan janganlah kamu renggut keperawanan kecuali dengan haq”. Lalu aku berdiri lalu pergi meninggalkan uang seratus dinar tersebut. Ya Allah, seandainya Engkau mengetahui apa yang aku kerjakan itu semata karena takut kepada-Mu, maka bukakanlah celah untuk kami”.”Lalu Allah membukakan gua itu untuk mereka lalu mereka keluar.” (HR. al-Bukhari).

3. Kematian Abu Salamah
Dari Ummu Salamah Radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Saya mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Tidaklah seorang mukmin tertimpa musibah lalu ia membaca apa yang telah diperintahkan oleh Allah,
إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ اللَّهُمَّ أْجُرْنِى فِى مُصِيبَتِى وَأَخْلِفْ لِى خَيْرًا مِنْهَا
“‘Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan akan kembali kepada Allah. Ya Allah, berilah kami pahala karena musibah ini dan gantikanlah bagiku dengan yang lebih baik daripadanya).’ melainkan Allah akan mengganti baginya dengan yang lebih baik.” Ummu Salamah berkata, “Ketika Abu Salamah telah meninggal, saya bertanya, “Orang muslim manakah yang lebih baik daripada Abu Salamah? Dia adalah orang-orang yang pertama-tama hijrah kepada RasulullahShallallahu ‘alaihi wasallam. Kemudian aku pun mengucapkan doa tersebut. Lalu Allah pun menggantikannya bagiku Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.” Ummu Salamah mengisahkan; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus Hatib bin Abu Balta’ah melamarku untuk beliau sendiri. Lalu saya pun menjawab, “Bagaimana mungkin, aku telah mempunyai seorang anak wanita, dan aku sendiri adalah seorang pencemburu.” Selanjutnya beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam pun menjawab, “Adapun anaknya, maka kita doakan semoga Allah mencukupkan kebutuhannya, dan aku mendoakan pula semoga Allah menghilangkan rasa cemburunya itu.” (HR. Muslim).

4. Doa Nabi Untuk Anas bin Malik
Anas (bin Malik) berkata, “Pada suatu hari aku bersama ibuku datang kepada RasulullahShallallahu ‘alaihi wasallam. Ibuku menyelimutiku dengan separuh kerudungnya dan separuh lagi untuk menyelendangi saya. Ibuku berkata, ‘Ya Rasulullah, inilah Unais (panggilan Anas ketika masih kecil), putra saya. Saya ajak ia kemari agar kelak membantu engkau. OIeh karena itu, doakanlah untuknya! Kemudian Rasulullah berdoa untuk Anas,
اللَّهُمَّ أَكْثِرْ مَالَهُ وَوَلَدَهُ
Ya Allah, perbanyaklah harta dan anaknya!” Di kemudian hari Anas berkata; Demi Allah, harta saya sekarang sungguh banyak sekali, anak dan cucu saya kini telah mencapai seratus orang lebih.” (HR. Muslim).

Di antara pelajaran yang bisa diambil dari empat kisah di atas, adalah :
  1. Doa itu bermanfaat bagi pelakunya maupun orang yang didoakan, bahkan lingkungan di sekitarnya.
  2. Boleh meminta doa kepada orang shalih yang masih hidup agar diberi kemaslahatan.
  3. Disyariatkan bertawasul dengan amal shalih ketika berdoa.
  4. Salah satu sebab terkabulnya doa adalah dengan bertawasul dengan amal shalih.
  5. Disyariatkan berdoa memohon pahala atas musibah yang menimpa dan meminta ganti dengan yang lebih baik.
  6. Diperbolehkan berdoa agar dikarunia- kan harta dan anak yang banyak.
  7. Hendaknya seseorang tidak berputus asa dari rahmat Allah dengan terus berdoa kepada Allah dan tidak merasa bosan melakukannya.
Masih banyak kisah nyata lain yang menunjukkan keajaiban sebuah doa. Namun, hanya empat kisah yang bisa kami sebutkan. Semoga Allah Ta'ala memberikan taufik kepada kita agar dimudahkan dalam beribadah kepada-Nya melalui doa-doa dan tidak merasa bosan melakukannya. Amien. Wallahu a’lam. (Redaksi)

[Sumber: Diambil dari berbagai sumber]