7 Januari 2014

Konsekuensi Dan Tanda-Tanda Cinta Kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam

#Konsekuensi Dan Tanda-Tanda Cinta Kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam#

A. Mencintai Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mengharuskan adanya pengagungan, memuliakan, meneladani beliau dan mendahulukan sabda beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam atas segala ucapan makhluk serta mengagungkan Sunnah-Sunnahnya.

B. Mentaati apa yang Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam perintahkan dan meninggalkan apa yg dilarang.

Allah memerintahkan setiap Muslim dan Muslimah untuk taat kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, karena dengan taat kepada beliau menjadi sebab seseorang masuk Surga.

Kita wajib mentaati Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dengan menjalankan apa yang diperintahkannya dan meninggalkan apa yang dilarangnya (tanpa tebang pilih). 

Hal ini merupakan konsekuensi dari syahadat (kesaksian) bahwa beliau adalah Rasul (utusan) Allah. 
Dalam banyak ayat Al-Qur-an, Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan kita untuk mentaati Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam. 
Di antaranya ada yang diiringi dengan perintah taat kepada Allah, sebagaimana firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya...” [An-Nisaa': 59]

Dan Allah mengancam orang yang mendurhakai Rasul-Nya, sebagaimana dalam firman-Nya:

فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَن تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Maka hendaklah orang-orang yang melanggar perintah Rasul takut akan ditimpa fitnah (cobaan) atau ditimpa adzab yang pedih.” [An-Nuur: 63]

Artinya hendaknya mereka takut jika hatinya ditimpa fitnah kekufuran, nifaq, bid’ah atau siksa pedih di dunia, baik berupa pembunuhan, had, pemenjaraan atau siksa-siksa lain yang disegerakan. 

Allah telah menjadikan ketaatan dan mengikuti Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam sebagai sebab hamba mendapatkan kecintaan Allah dan ampunan atas dosa-dosanya.

Allah Subhanahu wa Ta'ala menjadikan ketaatan kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam sebagai petunjuk dan mendurhakainya sebagai suatu kesesatan. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَإِن تُطِيعُوهُ تَهْتَدُوا

“Dan jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk.” [An-Nuur: 54]

Allah mengabarkan bahwa pada diri Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam terdapat teladan yang baik bagi segenap ummatnya. Allah berfirman:

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan kedatangan hari Kiamat dan dia banyak menyebut Nama Allah.” [Al-Ahzaab: 21]

C. Membenarkan apa yang beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam sampaikan.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak berkata menurut hawa nafsunya.

D. Menahan diri dari apa yang dilarang dan dicegah oleh beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“...Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah; dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya.” [Al-Hasyr: 7]

E. Beribadah sesuai dengan apa yang beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam syari’atkan, atau dengan kata lain ittiba’ kepada beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam.

Agama Islam sudah sempurna, tidak boleh ditambah dan tidak boleh dikurangi. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam diutus oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala untuk mengajarkan ummat Islam tentang bagaimana cara yang benar dalam beribadah kepada Allah, dan beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam telah menyampaikan semuanya. 

Oleh karena itu, ummat Islam wajib ittiba’ (mengambil contoh) kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam agar mereka mendapatkan kecintaan Allah Subhanahu wa Ta'ala, kejayaan dan dimasukkan ke dalam Surga-Nya.

Ittiba’ kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam hukumnya adalah wajib, dan ittiba’ menunjukkan kecintaan seorang hamba kepada Allah Azza wa Jalla.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

“Katakanlah: ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kamu dan mengam-puni dosa-dosamu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’” [Ali ‘Imran: 31]

Berkata Imam Ibnu Katsir rahimahullah (wafat th. 774 H): “Ayat ini adalah pemutus hukum bagi setiap orang yang mengaku mencintai Allah namun tidak mau menempuh jalan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, maka orang itu dusta dalam pengakuannya tersebut hingga ia mengikuti syari’at dan agama yang dibawa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa salalm dalam semua ucapan dan perbuatannya.” 

Di antara tanda cinta kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah dengan mengamalkan Sunnahnya, menghidupkan, dan mengajak kaum Muslimin untuk mengamalkannya, serta berjuang membela As-Sunnah dari orang-orang yang mengingkari As-Sunnah dan melecehkannya. Termasuk cinta kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah menolak dan mengingkari semua bentuk bid’ah, karena setiap bid’ah adalah sesat.

F. Anjuran Bershalawat kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam.[5] 
Di antara hak Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam yang disyari’atkan Allah Subhanahu wa Ta'ala atas ummatnya adalah agar mereka mengucapkan shalawat dan salam untuk beliau. Allah Subhanahu wa Ta'ala dan para Malaikat-Nya telah bershalawat kepada beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam, dan Allah Subahnahu wa Ta'ala memerintahkan kepada para hamba-Nya agar mengucapkan shalawat dan salam kepada beliau. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Sesungguhnya Allah dan Malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” [Al-Ahzaab: 56]

Diriwayatkan bahwa makna shalawat Allah kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah pujian Allah atas beliau di hadapan para Malaikat-Nya, sedang shalawat Malaikat berarti mendo’akan beliau, dan shalawat ummatnya berarti permohonan ampun bagi beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam.[6]

Dalam ayat di atas, Allah telah menyebutkan tentang kedudukan hamba dan Rasul-Nya Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam pada tempat yang tertinggi, bahwasanya Dia memujinya di hadapan para Malaikat yang terdekat, dan bahwa para Malaikat pun mendo’akan untuknya, lalu Allah memerintahkan segenap penghuni alam ini untuk mengucapkan shalawat dan salam atasnya, sehingga bersatulah pujian untuk beliau di alam yang tertinggi dengan alam terendah (bumi).

Adapun makna: “Ucapkanlah salam untuknya” adalah berilah beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam penghormatan dengan penghormatan Islam. Dan jika bershalawat kepada Nabi Muhammad hendaklah seseorang menghimpunnya dengan salam untuk beliau. Karena itu hendaknya tidak membatasi dengan salah satunya saja. Misalnya dengan mengucapkan: “Shallallaahu ‘alaih (semoga shalawat dilimpahkan untuknya)” atau hanya mengucapkan: “‘alaihis salaam (semoga dilimpahkan baginya keselamatan).” Hal itu karena Allah memerintahkan untuk mengucapkan keduanya.

Mengucapkan shalawat untuk Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam diperintahkan oleh syari’at pada waktu-waktu yang dipentingkan, baik yang hukumnya wajib atau sunnah mu-akkadah. 

Dalam kitab Jalaa-ul Afhaam, Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan 41 waktu (tempat). Beliau rahimahullah memulai dengan sesuatu yang paling penting yakni ketika shalat di akhir tasyahhud. 

Di waktu tersebut para ulama sepakat tentang disyari’atkannya bershalawat untuk Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. 

Di antara waktu lain yang beliau sebutkan adalah di akhir Qunut, kemudian saat khutbah, seperti khutbah Jum’at, hari raya dan istisqa’, kemudian setelah menjawab adzan, ketika berdo’a, ketika masuk dan keluar dari masjid, juga ketika menyebut nama beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah mengajarkan kepada kaum Muslimin tentang tatacara mengucapkan shalawat. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menganjurkan untuk memperbanyak membaca shalawat kepadanya pada hari Jum’at.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

أَكْثِرُوا الصَّلاَةَ عَلَيَّ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَلَيْلَةَ الْجُمُعَةِ، فَمَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاَةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ عَشْرًا.

“Perbanyaklah kalian membaca shalawat kepadaku pada hari dan malam Jum’at. Barangsiapa yang bershalawat kepadaku sekali niscaya Allah bershalawat kepadanya sepuluh kali.”

Tidak dibenarkan mengkhususkan waktu dan cara tertentu dalam bershalawat dan memuji beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam kecuali berdasarkan dalil shahih dari Al-Qur-an dan As-Sunnah. 

Para ulama Ahlus Sunnah telah banyak meriwayatkan lafazh-lafazh shalawat yang shahih, sebagaimana yang telah diajarkan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam kepada para Sahabatnya Radhiyallahu anhum.

Di antaranya adalah:

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، اَللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

“Ya Allah, berikanlah shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberikan shalawat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Mahaterpuji lagi Mahamulia. Ya Allah, berikanlah berkah kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberi berkah kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Mahaterpuji lagi Mahamulia.” 

Di antara contoh shalawat-shalawat yang bid’ah adalah:
1. Shalawat thibbul qulub
2. Shalawat naariyah, serta adanya keyakinan bathil bahwa barangsiapa yang membacanya 4444 kali maka akan dilapangkan kesulitannya. Shalawat naariyah ini mengandung kesyirikan.
3. Shalawat al-faatih, serta adanya anggapan bahwa membaca shalawat ini lebih baik daripada membaca Al-Qur-an, dan lain-lainnya. Shalawat al-faatih ini adalah perbuatan bid’ah.
4. Shalawat basyisyiyah. 

Setiap muslim harus menjauhkan semua bentuk shalawat bid’ah yang tidak ada asalnya dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dan wajib berpegang kepada hadits-hadits shahih yang datang dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, karena apa yang beliau ajarkan sudah cukup dan memadai, tidak boleh ditambah lagi.

Semoga shalawat dan salam senantiasa Allah limpahkan kepada Nabi yang mulia ini, juga bagi keluarga beliau, para Sahabat, dan orang-orang yang mengikuti jejak beliau hingga hari Kiamat.
---------

Larangan Ghuluw (Berlebih-lebihan) dalam Memuji Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam.

Ghuluw artinya melampaui batas.

Dikatakan: “ غَلاَ يَغْلُو غُلُوًّا ,” jika ia melampaui batas dalam ukuran. Allah berfirman:

لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ

“Janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu.” [An-Nisaa': 171]

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

إِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فِي الدِّيْنِ، فَإِنَّمَا أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ اَلْغُلُوُّ فِي الدِّيْنِ.

“Jauhkanlah diri kalian dari ghuluw (berlebih-lebihan) dalam agama, karena sesungguhnya sikap ghuluw ini telah membinasakan orang-orang sebelum kalian.”

Salah satu sebab yang membuat seseorang menjadi kufur adalah sikap ghuluw dalam beragama, baik kepada orang shalih atau orang yang dianggap wali, maupun ghuluw kepada kuburan para wali, hingga mereka minta dan berdo’a kepadanya padahal ini adalah perbuatan syirik akbar.

Sedangkan ithra’ artinya melampaui batas (berlebih-lebihan) dalam memuji serta berbohong karenanya. 

Dan yang dimaksud dengan ghuluw dalam hak Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah melampaui batas dalam menyanjungnya, sehingga mengangkatnya di atas derajatnya sebagai hamba dan Rasul (utusan) Allah, menisbatkan kepadanya sebagian dari sifat-sifat Ilahiyyah. 

Hal itu misalnya dengan memohon dan meminta pertolongan kepada beliau, tawassul dengan beliau, atau tawassul dengan kedudukan dan kehormatan beliau, bersumpah dengan nama beliau, sebagai bentuk ‘ubudiyyah kepada selain Allah Subhanahu wa Ta'ala, perbuatan ini adalah syirik.

Dan yang dimaksud dengan ithra’ dalam hak Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah berlebih-lebihan dalam memujinya, padahal beliau telah melarang hal tersebut melalui sabda beliau:

لاَ تُطْرُوْنِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ، فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ، فَقُوْلُوْا عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ.

“Janganlah kalian berlebih-lebihan dalam memujiku, sebagaimana orang-orang Nasrani telah berlebih-lebihan memuji ‘Isa putera Maryam. Aku hanyalah hamba-Nya, maka katakanlah, ‘‘Abdullaah wa Rasuuluhu (hamba Allah dan Rasul-Nya).’”

Dengan kata lain, janganlah kalian memujiku secara bathil dan janganlah kalian berlebih-lebihan dalam memujiku. 
Hal itu sebagaimana yang telah dilakukan oleh orang-orang Nasrani terhadap ‘Isa Alaihissallam, sehingga mereka menganggapnya memiliki sifat Ilahiyyah. Karenanya, sifatilah aku sebagaimana Rabb-ku memberi sifat kepadaku, maka katakanlah: “Hamba Allah dan Rasul (utusan)-Nya.” 

‘Abdullah bin asy-Syikhkhir Radhiyallahu anhu berkata, “Ketika aku pergi bersama delegasi bani ‘Amir untuk menemui Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, kami berkata kepada beliau, “Engkau adalah sayyid (penghulu) kami!” Spontan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab:

اَلسَّيِّدُ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى.

“Sayyid (penghulu) kita adalah Allah Tabaaraka wa Ta’aala!”

Lalu kami berkata, “Dan engkau adalah orang yang paling utama dan paling agung kebaikannya.” Serta merta beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam mengatakan:

قُوْلُوْا بِقَوْلِكُمْ أَو بَعْضِ قَوْلِكُمْ وَلاَ يَسْتَجْرِيَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ.

“Katakanlah sesuai dengan apa yang biasa (wajar) kalian katakan, atau seperti sebagian ucapan kalian dan jangan-lah sampai kalian terseret oleh syaitan.” 

Anas bin Malik Radhiyallahu anhu berkata, “Sebagian orang berkata kepada beliau, ‘Wahai Rasulullah, wahai orang yang terbaik di antara kami dan putera orang yang terbaik di antara kami! Wahai sayyid kami dan putera penghulu kami!’ 

Maka seketika itu juga Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قُوْلُوْا بِقَوْلِكُمْ وَلاَ يَسْتَهْوِيَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ، أَنَا مُحَمَّدٌ، عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ، مَا أُحِبُّ أَنْ تَرْفَعُوْنِيْ فَوْقَ مَنْزِلَتِي الَّتِيْ أَنْزَلَنِيَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ.

“Wahai manusia, ucapkanlah dengan yang biasa (wajar) kalian ucapkan! Jangan kalian terbujuk oleh syaitan, aku adalah Muhammad, hamba Allah dan Rasul-Nya. Aku tidak suka kalian mengangkat (menyanjung)ku di atas (melebihi) kedudukan yang telah Allah berikan kepadaku.”

Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam membenci jika orang-orang memujinya dengan berbagai ungkapan seperti:
“Engkau adalah sayyidku, engkau adalah orang yang terbaik di antara kami, engkau adalah orang yang paling utama di antara kami, engkau adalah orang yang paling agung di antara kami.” 

Padahal sudah diketahui sesungguhnya beliau adalah makhluk yang paling utama dan paling mulia secara mutlak. Meskipun demikian, beliau melarang mereka agar menjauhkan mereka dari sikap melampaui batas dan berlebih-lebihan dalam menyanjung hak beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam, juga untuk menjaga kemurnian tauhid. 

Selanjutnya beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam mengarahkan mereka agar menyifati beliau dengan dua sifat yang merupakan derajat paling tinggi bagi hamba yang di dalamnya tidak ada ghuluw serta tidak membahayakan ‘aqidah. 

Dua sifat itu adalah ‘Abdullaah wa Rasuuluh (hamba dan utusan Allah). 

Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak suka disanjung melebihi dari apa yang Allah Subhanahu wa Ta'ala berikan dan Allah ridhai. Tetapi banyak manusia yang melanggar larangan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam tersebut, sehingga mereka berdo’a kepadanya, meminta pertolongan kepadanya, bersumpah dengan namanya serta meminta kepadanya sesuatu yang tidak boleh diminta kecuali kepada Allah. Hal itu sebagaimana yang mereka lakukan ketika peringatan maulid Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, dalam kasidah atau anasyid, dimana mereka tidak membedakan antara hak Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan hak Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.

Setiap muslim wajib mengetahui bahwa di antara faktor yang menyebabkan manusia menjadi kafir dan meninggalkan agama mereka yaitu sikap berlebih-lebihan kepada orang-orang shalih, seperti yang terjadi pada kaum Nabi Nuh Alaihissallam.

وَقَالُوا لَا تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلَا سُوَاعًا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا

“Dan mereka berkata: ‘Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) ilah-ilah kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, tidak juga suwaa', yaghuts, ya'uq dan nasr.’” [Nuh: 23][16]

[Disalin dari buku Prinsip Dasar Islam Menutut Al-Qur’an dan As-Sunnah yang Shahih, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka At-Taqwa Po Box 264 Bogor 16001, Cetakan ke 3]

2 Januari 2014

BEBERAPA SIHIR HALAL PEMIKAT SUAMI

Beberapa  Sihir Halal Pemikat Suami.

1. Istri lebih mengutamakan pelayanan kpd suami ,  Jangan pernah menolak ajakan berkumpul tanpa udzur syar'i. Walaupun suami suka bermasalah dlm memuaskannya.

2. Istri mentaati perintah suaminya selama tidak menyelisihi syariat Allah dan RasulNya. 

3. Istri hendaknya berbicara dengan kata-kata yang baik dan indah dihadapan suaminya , pilih tutur kata yang lemah lembut,  

4.Istri berusaha untuk selalu berhias dan bermuka manis di hadapan suami. Selalu berpenampilan indah dihadapan suami ,  Namun hrs sesuai dg kemampuan finansial suami.

5. Jangan pernah merendahkan suami dr sisi apapun (harta, ilmu, agama, fisik, dll). Suami paling benci jika direndahkan oleh istrinya. Jangan sombong, dan tidak menyuruh pekerjaan wanita kepada suaminya, kecuali suami ridho terhadapnya.

6. Jalin hubungan baik dg ibu/bapak mertua (ortu suami). Dan bantu suami utk berbakti kpd orang tuanya dan berusaha melayani keluarga suaminya yang dapat menyebabkan suami sayang terhadapnya.

7.Istri meminta izin tatkala keluar rumah Dan memperhatikan waktu istirahat dan waktu makan suaminya.

8. Segera minta maaf dg cara yg baik jika bersalah/bentrok. Sekali lagi, segera & dg cara yg baik. Jangan biarkan suami berlama-lama marah/tdk ridho. Jangan angkuh.

9. Menyambut suami jika pulang kerumah. Sambut dg wajah berseri dan tradisi2 indah lainnya seperti membawakan tasnya, meyalaminya dll.

10. Kerjasama dalam beribadah kpd Allah. Misal sesekali shalat malam berjama'ah.

11. Istri tidak  membuka rahasia2  suami kpd orang lain baik berupa kebaikan ataupun keburukan. Khususnya masalah ranjang. Jangan mengajak tamu ke kamar tidur tanpa izin.

12. Istri bersifat Qona'ah. Tidak banyak menuntut, Mengerti kondisi suami, Tidak berkeluh kesah.

13. Perhatian thd sifat suami, Pahami faktor-faktor yg dpt menyebabkan kemarahan dan kebahagiaan suami.
Istri harus tau kapan kondisi saat suami marah, suami tidak suka kepada istrinya dan kapan suami cemburu kepada istrinya.

14. Jangan menceritakan kondisi wanita lain di hadapan suami shg suami membayangkannya bahkan seakan-akan suami melihatnya.

15. Jangan mengingkari/melupakan kebaikan suami, Tatkala suami melakukan kesalahan maka seorang istri jangan pernah bilang bahwa tidak pernah melakukan/melihat kebaikan suaminya...


By Ust. Firanda Andirja Lc.MA. حفظه الله تعالى

-----

(Kesimpulan kajian di Masjid Manarul Amal, univ Mercu Buana Rabo pagi 01/01/14, Di mix dr group WA kajian sunnah akhwat dan catatan FB sahira dida).

22 Desember 2013

Siapakah wanita penghuni neraka....?

Catatan 18 des 2013
Tema : Siapakah Wanita Penghuni Neraka "
Oleh : Ust. Ahmad Zainuddin Lc
Di Masjid Baiturrahman
Depan SMAN 2 Depok


Wanita-wanita penghuni Neraka:

#1». Istri nabi Nuh dan Nabi Luth
QS.At Tahrim:10

Abdullah bin abas menafsirkan  berkhianat dgn  mengatakan kepada kaumnya bahwa nabi Nuh gila
Dan istri nabi Luth kejahatanya adalah apabila ada orang yg bertamu kepada suaminya maka ia akan mengabarkannya kpd penduduk kota tsb yg memiliki kebiasaan homoseksual.

#2». Istri Abu lahab
QS Al Masad 1-5
#3». Wanita yg kufur thdp suami & melaknatnya (mencacinya)
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, "Saya melihat kebanyakan penghuni neraka adalah kaum wanita." Para sahabat bertanya, "Mengapa wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Mereka mengingkari keluarga dan kebaikan-kebaikan suami. Jika sekiranya engkau berbuat baik kepadanya, lalu ia melihat sedikit kekurangan darimu, maka ia berkata: 'Saya tidak melihat suatu kebaikan darimu sama sekali'." (HR. Al-Bukhari no. 29 dan Muslim no. 907)

Ada beberapa nash yg perlu diingat oleh para istri
1.QS Al Ahzab : 33
2. Dari Anas bin Malik, Rasulullah bersabda:
“Tidak patut bagi manusia bersujud kepada sesama manusia. Seandainya
patut bagi manusia bersujud kepada sesama manusia, niscaya aku
perintahkan wanita bersujud kepada suaminya, karena besarnya haknya
(hak suaminya) atas istrinya” (HR. at Tirmidzi no. 1159, lihat pula al
Irwa’ VII/55 oleh Syaikh al Albani)

Dari Abu
Hurairah radhiyallaHu ‘anHu, bahwasannya Rasulullah bersabda,
“Jika wanita mengerjakan shalat lima waktu, berpuasa di bulan
Ramadhan, memelihara kemaluannya, dan mentaati suaminya, maka
dikatakan kepadanya, ‘Masuklah ke dalam Surga dari pintu manapun yang
kamu suka’” (HR. Ahmad no. 1664 dan Ibnu Hibban no. 1226, Syaikh al
Albani mengatakan dalam Aadaabuz Zifaf hal. 286, “Ini adalah hadits
hasan atau shahih”)

4». Wanita2 Kasiyat tp 'Ariyat
Imam nawawi menjelaskan arti Kasiyat tp Nariyat :
1. Wanita yg di beri nikmat suaminya tp tidak bersyukur
2. Wanita yg pandai berias tp bodoh dr ibadah
3. Wanita yg menutup tubuhnya sebagian dan sebagiannya terbuka
4. Wanita yg mengenakan baju transparan hingga kulit dan lekak lekuk tubuhnya terlihat.
5. Wanita yg memakai pakaian ketat

#5». Wanita yg niyahah dan tdk bertaubat
#6». Wanita yg menyakiti tetangganya


Catatan:
*mumilat=wanita yg mengajarkan kpd wanita lain pekerjaan tercela
*ma'ilat=yg melenggokan dgn bahunya




20 Desember 2013

NASIHAT UNTUK DIRIKU

NASIHAT UNTUK DIRIKU
By. Rima ummu zahra



Wahai diri..
Ingatkah akan firman Alloh
"Dan tidak ada seorgpun diantara kamu yg tdk mendatanginya( neraka). Hal itu bg Tuhanmu adalah ketentuan yg sudah di tetapkan ( QS Maryam :71)

Tahukah engkau seperti apa Neraka itu..?

Panasnya Sangat Panas Membakar 
Tidak Ada Kesejukan Sedikitpun di Dalamnya 

Makanannya  'Dhori’ 
pohon yg berduri .....
tidak menggemukkan dan tidak pula mengenyangkan.  
atau zaqqum....

Tahukah engkau apa itu Zaqqum...?
makanan penghuni neraka 
Yg mendidihkan perut seperti mendidihnya minyak  
Maka akan penuh perutmu dgnnya 
 
Dan engkaupun mencari air berharap hilang rasa panas diperutmu
namun yg engkau  dapati Al-Hamim 

Maka kamu minum seperti unta yg sgt haus
Tanpa tau rasa sakit yg akan menimpa...
Dan hancurlah usus-ususmu

Wahai diri 
masih bisakah engkau bersuka cita 
Menghambur-hamburkan harta dan waktu yg tiada guna...?

Bersenang-senang dgn masa sehat dan waktu luangmu...?
sementara engkau tak pernah tau kapan ajal menghampirimu...

Dan kelak tiap jiwa akan diminta pertanggung jawabannya

Ya Rabb....
Ampunilah diri ini...
Berikanlah rahmat dan hidayahMu
  • Allahumma inni asalukaljannah,wa astajiirubika minannar.

18 Desember 2013

Dasyatnya Bersedekah

Catatan
kajian ust. Ahmad Zainuddin Lc di pp pon tgl 17 des 2013
Tema : Dasyatnya bersedekah

Keutamaan sedekah
~ termasuk amalan yg paling utama
~mencegah dari bala dan musibah
~mendatangkan pahala berlipat -lipat bahkan tanpa batas
~meredakan murka Alloh
~menghapus dosa
~menambah berkah pd harta
~menahan siksa di akhirat dan penyebab masuk surga
~bukti tanda iman pd hal ghoib
~mendatangkan naungan pd hari kiamat
~pahala akan mengalir sampe org tersebut walopun meninggal
~mendatangkan cinta manusia kpd org yg bersedekah
~menjauhkan qorin bisikan2 yg buruk

Poin Penting Sebelum Bersedekah
Agar sedekah bisa di terima Allah:

1. Sedekah tidak akan diterima kecuali dari seorang yang ikhlas, yaitu tidak ingin ada yang melihat dan memberi pujian atas sedekahnya kecuali Allah Ta’ala. QS 2:270

2. Allah Ta’ala hanya menerima dari sedekah harta yang halal(dijalan Allah) QS 2:262

3. Sifat Al Mann dan Al Adza akan membatalkan pahala sedekah, maka jauhilah ketika bersedekah
QS 2:262-264

4. Lebih baik bersedekah secara tersembunyi meskipun boleh bersedakah dengan terang-terangan
QS 2:274

5.Bersedekah kepada seorang yang sangat membutuhkan lebih berpahala

6.Bersedekah dengan harta yang paling dicintai QS 2: 267 & QS 3:92

7. Menafkahkan harta dlm keadaan kaya dan ada sifat bakhil dlm diri
“Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Seseorang pernah mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ia berkata: “Wahai Rasulullah, sedekah manakah yang paling agung?” beliau menjawab: “Kamu bersedekah dalam keadaan sehat, bakhil, takut miskin, menginginkan kekayaan dan tidak menunda-nunda sampai jika (nafas) sudah ditenggorokan, kamu mengatakan: “Untuk si fulan sekian, untuk si fulan sekian”, ingatlah bahwasanya si fulan telah memilikinya.” HR. Bukhari dan Muslim