29 Januari 2015

JENGGOT : SEHAT, BIKIN GANTENG DAN SUNNAH (AJARAN) NABI SHALLALLAHU ALAIHI WASALLAM

Syariat Islam Allah turunkan untuk kebaikan manusia secara umum. Tidak heran, ternyata dalam ibadah yang disyariatkan mengandung kebaikan bagi jiwa dan raga manusia.
Mengenai hal ini syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata dalam risalahnya,
الدين مبني على المصالح
في جلبها و الدرء للقبائح
“Agama dibangun atas dasar  berbagai kemashlahatan
Mendatangkan mashlahat dan menolak berbagai keburukan”

Kemudian beliau menjelaskan,
ما أمر الله بشيئ, إلا فيه من المصالح ما لا يحيط به الوصف
“Tidaklah Allah memerintahkan sesuatu kecuali padanya terdapat berbagai mashlahat yang tidak bisa diketahui secara menyeluruh”[1]

Salah satu ajaran Islam adalah memelihara dan membiarkan tumbuh jenggot. Berikut sedikit pembahasannya.

Jenggot adalah sunnah (ajaran) Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam
Karena beliau sendiri Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam yang memerintahkannya dan termasuk dalam ajaran Islam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
انْهَكُوا الشَّوَارِبَ وَأَعْفُوا اللِّحَى
“Potonglah kumis dan peliharalah jenggot.”[2]
Dalam hadits digunakan kata perintah (fi’il ‘amr), maka dalam Ilmu ushul di ada kaidah,
الأمر يفيد الوجوب
“Kata perintah (fi’il ‘amr) menunjukkan hukum (asalnya) wajib”
Maka menurut pendapat terkuat bahwa laki-laki wajib memelihara jenggotnya (membiarkan tumbuh), bahkan memotongnya adalah sebuah larangan (ada juga pendapat boleh dipotong jika sudah melebihi satu genggam).
Memotong jenggot adalah kebiasaan orang-orang musyrik dan Majusi, sebagaimana Sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam,
خَالِفُوا الْمُشْرِكِينَ وَفِّرُوا اللِّحَى وَأَحْفُوا الشَّوَارِبَ
“Selisihilah orang-orang musyrik, peliharalah jenggot dan potonglah kumis.”[3]
Beliau juga bersabda,
جُزُّوا الشَّوَارِبَ وَأَرْخُوا اللِّحَى خَالِفُوا الْمَجُوسَ
“Potonglah kumis dan biarkanlah jenggot, selisihilah orang-orang Majusi (penyembah matahari).”[4]
Dan menyerupai orang-orang kafir akan mendapat ancaman sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
“Barangsiapa yang menyerupai sebuah kaum maka dia termasuk golongan mereka.”[5]

Terlihat lebih ganteng dengan jenggot
Karena memang jenggot adalah fitrah laki-laki. Sebagaimana laki-laki memang fitrahnya suka dengan wanita cantik. Jika tidak suka dengan wanita cantik tentu laki-laki itu keluar dari fitrah. Nah, demikian juga jenggot. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
عَشْرٌ مِنْ الْفِطْرَةِ قَصُّ الشَّارِبِ وَإِعْفَاءُ اللِّحْيَةِ وَالسِّوَاكُ وَاسْتِنْشَاقُ الْمَاءِ وَقَصُّ الْأَظْفَارِ
“Sepuluh perkara yang termasuk fithrah: Memotong kumis, memelihara jenggot,bersiwak, memasukkan air ke dalam hidung, memotong kuku.”[6]
Dikisahkan bahwa pemimpin kaum Anshar yaitu Qois bin Sa’ad tidak mempunyai jenggot, maka kaumnya sangat meninginkan beliau punya jenggot agar beliau terlihat lebih jantan. Maka kaumnya berkata,
: نعم السيد قيس لبطولته وشهامته ولكن لا لحية له فو الله لو كانت اللحى تشترى بالدراهم لاشترينا له لحية!!
“Memang Sayyid Kami Qais terkenal dengan kepahlawanan dan kedermawanannya, akan tetapi ia tidak memiliki jenggot. Demi Allah, seandainya jenggot itu bisa dibeli dengan dirham, maka kami akan belikan ia jenggot.”[7]
Terkenal juga perkataan di kalangan awam,
زينة الرجل في لحيته، وزينة المرأة في شعرها
“Perhiasan seorang laki-laki pada jenggotnya sedangkan perhiasan wanita pada rambutnya.”[8]

Jika ada yang mengatakan,
“Lebih ganteng yang ga pake jenggot kok, keren seperti aktor-aktor terkenal”
Maka kita jawab dengan ayat,
أَأَنتُمْ أَعْلَمُ أَمِ اللّهُ
“Apakah kamu lebih mengetahui ataukah Allah (yang lebih mengetahui)?” (Al-Baqarah: 140).
Dan kalau kita melihat tokoh-tokoh utama dahulunya juga berjenggot tebal, para raja, ilmuan, cendikiawan semisal plato, aristoteles dan lainnya.

Sehat dengan jenggot
Jenggut ternyata bermanfaat bagi kesehatan laki-laki, begitu juga dengan kumisnya (kumis diperintahkan untuk dipotong, tetapi tidak mesti harus habis). Berikut manfaatnya:
1. Pelindung dari sinar matahari
Sebuah studi terbaru dari University of Southern Queensland mengungkapkan bahwa jenggot dapat memberikan perlindungan yang signifikan dari sinar matahari yang dapat menyebabkan kerusakan kulit dan kanker kulit.
Secara rinci, peneliti menemukan bahwa bagian tubuh yang tertutup oleh kumis dan cambang rata-rata tiga kali lebih sedikit terpapar sinar UV yang berbahaya dibandingkan dengan bagian tubuh yang tidak tertutup rambut apapun.
Dengan menggunakan teknik dosimetrik yang dapat mengukur jumlah sinar atau radiasi yang diserap tubuh, diperoleh fakta bahwa jenggot memberikan perlindungan terhadap sinar matahari hingga 90-95 persen, meski hal itu bergantung pada panjangnya jenggot.
“Secara umum rambut memang menawarkan perlindungan terhadap sinar matahari. Itulah mengapa wanita tak begitu mengalami kerusakan kulit akibat sinar matahari jika rambutnya menutupi bagian belakang leher dan bagian samping wajahnya,” tandas Dr. Nick Lowe, seorang pakar dermatologi terkemuka yang berbasis di London.
“Tapi ternyata ketebalan rambutnya juga berpengaruh. Sama halnya dengan faktor SPF karena makin tinggi kepadatan dan kelebatan rambutnya maka makin tinggi SPF-nya. Makanya ketika saya berpraktik di California, saya sering melihat peselancar yang botak tapi berjenggot justru lebih sering mengalami kerusakan kulit akibat sinar matahari dan pra-kanker di kepala mereka, daripada jika mereka punya rambut di atas kepala,” tambahnya.
Teori lain dinyatakan oleh Iain Sallis, seorang konsultan trikologi. Menurutnya cahaya memancar dalam bentuk garis lurus tapi ketika bertabrakan dengan jenggot yang keriting, maka jenggot itu akan memecah cahayanya sehingga tak pernah mencapai kulit.
2. Mencegah serangan asma
Pria yang asmanya dipicu oleh serbuk bunga dan debu dapat terlindungi oleh jenggot yang lebat karena jenggot itu dapat membantu mengurangi gejala asmanya.
“Kumis yang menutupi area hidung dapat menghambat pemicu alergi atau alergen masuk ke dalam hidung dan terhirup masuk ke paru-paru,” kata Carol Walker, pakar rambut medis dan pendiri Birmingham Trichology Centre.
Tapi menurut seorang dokter umum yang berbasis di London, Dr. Rob Hicks, hanya serbuk sari yang bisa terperangkap dengan cara ini, tapi tidak dengan debu yang berbentuk mikroskopis. Kalaupun bisa terjebak di kumis, debu-debu itu bisa menumpuk di kumis dan hanya tinggal menunggu waktu, lama-lama keduanya pun bisa masuk ke dalam hidung.
“Teorinya, kumis tak serta-merta dapat menghambat pemicu asma untuk measuk ke saluran pernafasan, kecuali jika sangat lebat,” simpul Dr. Felix Chua, dokter dan konsultan penyakit sistem pernafasan dari London Clinic, Harley Street.
3. Memperlambat penuaan
Dari waktu ke waktu, rambut yang tumbuh di wajah dapat membantu menjaga kulit agar tetap awet muda dan sehat.
“Dengan kata lain rambut itu menjaga agar kulit tetap lembab dengan melindunginya dari angin yang dapat mengeringkan kulit dan mengganggu upaya perlindungan terhadap kulit,” ujar Dr. Lowe.
Dr. Lowe juga menyarankan, jika mengenakan pelembab, usahakan agar Anda juga memberi pelembab di kumis dan jenggot. Itu lebih baik daripada mengoleskan pelembab pada bagian wajah yang tak berambut atau telah dicukur karena akan lebih mudah terhapus.
4. Melawan batuk
Menurut Carol Walker, jenggot tebal yang tumbuh di bawah dagu dan leher akan meningkatkan temperatur leher serta membantu melawan demam dan batuk.
“Rambut adalah semacam insulator yang dapat membuat Anda terus merasa hangat. Jenggot yang panjang dan tebal juga dapat menjebak udara dingin dan meningkatkan suhu leher sehingga Anda bisa bertahan di bawah cuaca dingin,” tukasnya.
5. Mencegah ruam kulit
Justru jika Anda malas bercukur itu tandanya kulit Anda terhindar dari ruam kulit. “Bercukur itu merupakan penyebab utama infeksi bakteri pada bagian tubuh yang tertutup jenggot. Aktivitas ini dapat berakibat pada ruam akibat pisau cukur, rambut tumbuh ke dalam kulit dan folikulitis (infeksi folikel rambut yang menyebabkan munculnya bintik-bintik di kulit,” ungkap Dr. Martin Wade, konsultan dan pakar dermatologi dari London Skin and Hair Clinic.[9]

Jangan kita baru memelihara jenggot karena tahu ada keuntungan dunia saja
Ini adalah yang salah, kita baru memelihara jenggot karena baru tahu menyehatkan, baru memelihara jenggot karena sedang “ngetrend” para artis dan tokoh dunia mulai memelihara jenggot.
Allah Ta’ala berfirman,
مَن كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لاَ يُبْخَسُونَْأُوْلَـئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الآخِرَةِ إِلاَّ النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُواْ فِيهَا وَبَاطِلٌ مَّا كَانُواْ يَعْمَلُونَ
“Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat kecuai neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan” [Hud : 15-16]

Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi ajma’in. Walamdulillahi robbil ‘alamin.

@Mushalla Ibnu Sina FK UGM, 21 Rabi’ul Awwal 1434 H



[1] Risaalah fiil Qowaaidil fiqhiyah hal. 41, Maktabah Adwa’us salaf
[2] HR. Al-Bukhary dan Muslim
[3] HR. Bukhari dan Muslim
[4] HR. Muslim
[5] HR. Abu Dawud, berkata Syaikh Al-Albani: Hasan Shahih
[6]  HR. Muslim
[8] Adapun menyandarkan ini dengan kandungan sebuah hadits,
” سبحان من زين وجوه الرجال باللحى
“Maha Suci (Allah) yang menghiasi wajah laki-laki dengan jenggot”
Maka hadits ini maudhu’, sebagaimana dikatakan oleh syaikh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ad-Dhaifah wal Maudhu’ah no. 6023

27 Januari 2015

Antara Dia dan Kita

Lelaki renta itu, dengan kehalusan hatinya ingin ber-Islam menjadi sebab turunnya ayat. ‘Abasa watawalla', Rasul pun ditegur Allah karenanya.
seorang miskin lagi buta, bukan berarti tak lebih utama dari para pemuka negara

Lelaki renta itu, pernah minta keringanan untuk tidak ikut sholat berjamaah di masjid karena dia buta karena dia sebatang kara karena masjid jauh sekali dari rumahnya tapi tanya Rasul, “Apakah engkau masih mendengar adzan?”
saat dijawabnya masih, maka kata Rasul, “Kalau begitu, berangkatlah”

lalu, tunduk patuh ia pada perintah sekali pun tak pernah ia sanggah tiap sholat lima waktu sholat berjamaah

meski fajar masih pekat dan jarak masjid tak dekat, ia meraba-raba dalam gelap hingga suatu saat, kakinya tersandung bongkahan batu badannya terjerembab jatuh, mukanya tersungkur di runcingnya batu berdarah-darah…

setelahnya, selalu datang seorang lelaki menuntunnya dengan ramah pergi dan pulang sholat berjamaah setiap hari, setiap lima waktu

hingga suatu saat lelaki tua ingin sekali tahu siapa gerangan lelaki penolongnya itu karena ingin ia doakan atas kebajikannya selama ini

tapi kata lelaki muda
“Jangan sekali-kali kau doakan aku dan jangan sekali-kali kau ingin tahu namaku karena aku adalah iblis”

sontak lelaki renta itu terkejut,
“Bagaimana mungkin engkau menuntunku ke masjid,
sedangkan dirimu menghalangi manusia untuk mengerjakan sholat?”

Iblis menjawab,
“Ingatkah dulu saat kau hendak sholat subuh berjamaah, kau tersandung batu, lalu bongkahannya melukai wajahmu? Pada saat itu aku mendengar ucapan Malaikat, bahwa Allah telah mengampuni setengah dosamu. Aku takut kalau engkau tersandung lagi, lalu Allah menghapuskan setengah dosamu yang lain. Maka aku selalu menuntunmu ke masjid dan mengantarkanmu pulang.”

Lalu, saat tubuh itu merenta makin menua dimakan usia datang seruan perang Qaddisiyah

Sang khalifah Umar mengumpulkan segenap lelaki dari seluruh penjuru negri terselip ia, berbaris bersama ingin sekali ikut berperang di medan laga demi cita-cita mulia

Khalifah Umar melarangnya
bagaimana seorang buta lagi renta, akan ikut berperang?
bagaimana jika dia langsung celaka terkena tombak?
atau justru mencelakai temannya karena tak mampu mengenali sesiapa?

Tapi, lelaki tua itu bersikukuh,
“Tempatkan aku di antara dua pasukan yang berperang
Aku akan membawa panji kemenangan
Aku akan memegangnya erat-erat untuk kalian.
Aku buta, karena itu aku pasti tak akan lari” Khalifah, tak lagi mampu menghalangi

Lalu semuanya, berangkatlah lekaki tua itu ingin menepati janjinya dengan baju besi yang dikenakannya dan bendera besar yang dibawanya dia berjanji akan mengibarkannya senantiasa, atau mati terkapar di sampingnya

lewat pertempuran Qaddisiyah Persia yang congak pun kalah tapi kemengangan itu tak murah dibayar dengan nyawa ratusan syuhada terselip di antara mereka jenazah lelaki tua terkapar berlumuran darah sambil memeluk erat sebuah bendera sungguh, dia telah menepati janjinya

wahai lelaki mulia, sesak dadaku membaca kisah hidupmu menyungai sudut mataku mengenangmu engkau buta, sebatangkara dan renta tapi itu tak membuatmu pasrah dan diam meski udzur telah membolehkanmu. untuk tak kemana-mana, di rumah saja

Lalu, bagaimana dengan diriku ini?
aku masih muda, aku bukan fuqara aku tak buta jua tak sebatangkara tapi kenapa, sering sekali ada alasan mendera untuk tak bersegera?

Lelaki sepertimu, dengan segala keterbatasan terus mencari-cari alasan agar mampu mengambil peran

sedang aku, kita dengan segala kemudahan sering mencari-cari alasan agar boleh tak ikut berperan

Lalu, dengan apa akan kita buktikan bahwa kita ini Islam?

Belajar darinya, Abdullah bin Ummi Maktum

2 Januari 2015

.:: Perlukah Memperingati Hari Kelahiran Nabi?

Perlukah Memperingati Hari Kelahiran Nabi?

Sebagian yang merayakan Maulid Nabi pada 12 Rabi’ul Awwal beralasan bahwa perayaan tersebut dimaksudkan untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apakah alasan ini bisa melegalkan perayaan Maulid Nabi?
Berikut beberapa alasan kenapa peringatan kelahiran nabi tidak perlu dirayakan:

Pertama:
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah pernah memerintahkan umatnya untuk memperingati maaulid dan tidak pernah memerintahkan mengingat kelahiran, karakter istimewa, mukjizat, sirah dan akhlak mulia Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam secara khusus melalui peringatan maulid. Bahkan hal ini merupakan bid’ah yang diada-adakan sepeninggal beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bid’ah maulid mulai muncul sekitar 600 tahun sepeninggal beliau. Padahal mengenai perkara bid’ah telah diperingatkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri,

مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Bukhari no. 20 dan Muslim no. 1718)

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim no. 1718)

Hadits-hadits semacam ini menunjukkan tercelanya peringatan maulid dan perayaan tersebut merupakan perayaan yang mardud (tertolak).

Kedua:
Mengenal kelahiran, karakteristik, mukjizat, sirah serta akhlak mulia beliau bukan hanya ketika maulid saja. Mengenal beliau dan hal-hal tadi bukan hanya pada waktu tertentu dan dalam kumpulan tertentu, akan tetapi setiap saat, sepanjang waktu. Tidak seperti orang-orang yang pro maulid yang memperingatinya hanya ketika malam maulid, malam-malam yang lain tidak demikian. Amalan semacam ini didasari pada tradisi semata yang diambil dari nenek moyang sebelum mereka,

بَلْ قَالُوا إِنَّا وَجَدْنَا آَبَاءَنَا عَلَى أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَى آَثَارِهِمْ مُهْتَدُونَ
“Bahkan mereka berkata: “Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama, dan sesungguhnya kami orang-orang yang mendapat petunjuk dengan (mengikuti) jejak mereka” (QS. Az Zukhruf: 22).

Sebelumnya yang menghidupkan maulid nabi adalah Sulthon Irbil. Mulai dari masa beliau, maulid nabi diperingati setiap tahunnya. Padahal perayaan ini tidaklah diizinkan dan diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Perayaan ini masuk dalam keumuman ayat,

أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ
“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?” (QS. Asy Syura: 21).

Ketiga:
Meneladani Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah dengan ittiba’ (mengikuti ajaran) beliau dan berpegang dengan sunnah beliau serta mendahulukan petunjuk beliau dari yang lainnya. Allah Ta’ala berfirman,

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
“Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali Imran: 31).

وَإِنْ تُطِيعُوهُ تَهْتَدُوا
“Dan jika kamu taat kepada Rasul, niscaya kamu mendapat petunjuk.” (QS. An Nur: 54)

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
“Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya kedalam surga yang mengalir didalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar.” (QS. An Nisa’: 13).

Demikianlah yang diajarkan dalam Islam. Dalam suatu perayaan pun harus mengikuti petunjuk Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena merayakan maulid adalah suatu ibadah. Bagaimana mungkin tidak dikatakan sebagai suatu ibadah? Wong, orang yang rayakan saja ingin mengingat Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan pasti ingin cari pahala. Ini jelas ibadah, bukan perkara mubah biasa. Sedangkan dalam ibadah mesti ikhlas kepada Allah dan mengikuti syariat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika tidak memenuhi dua kriteria ini, amalan tersebut tertolak.

Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Al Fatawa (1: 333) berkata,

وَبِالْجُمْلَةِ فَمَعَنَا أَصْلَانِ عَظِيمَانِ أَحَدُهُمَا : أَنْ لَا نَعْبُدَ إلَّا اللَّهَ . وَالثَّانِي : أَنْ لَا نَعْبُدَهُ إلَّا بِمَا شَرَعَ لَا نَعْبُدُهُ بِعِبَادَةِ مُبْتَدَعَةٍ . وَهَذَانِ الْأَصْلَانِ هُمَا تَحْقِيقُ ” شَهَادَةِ أَنْ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ

“Ini adalah dua landasan agung dalam agama ini yaitu: tidak beribadah selain pada Allah semata dan tidak beribadah kecuali dengan ibadah yang disyari’atkan, bukan dengan ibadah yang berbau bid’ah. Inilah konsekuensi atau perwujudan dari syahadat laa ilaha illallah (tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah) dan syahadat (pernyataan) bahwa Muhammad adalah utusan Allah”.

Keempat:
Memperingati maulid bukanlah ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bukan pula amalan para sahabat yang mulia, bukan pula amalan tabi’in, dan bukan pula amalan para imam yang mendapat petunjuk setelah mereka. Perayaan maulid hanyalah perayaan yang berasal dari Sulthon Irbil (pelopor maulid nabi pertama kali). Jadi, siapa saja yang memperingati maulid, dia hanyalah mengikuti ajaran Sulthon Irbil baik atas dasar ia tahu ataukah tidak, bukan mengikuti ajaran Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kelima:
Meneladani dan mengikuti Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam beramal dan dalam keadaan berniat yang benar, haruslah dengan mengikuti ajaran beliau dan para sahabatnya. Begitu pula ia memperingatkan dari setiap bid’ah, di antaranya adalah bid’ah maulid.

Wallahu waliyyut taufiq was sadaad. Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.

[Dikembangkan dari Rasa-il Hukmu Al Ihtifal bi Maulid An Nabawi, 1: 137-142, terbitan Darul Ifta’]

Silakan renungkan dan cermati. Itulah 5 alasan kenapa kita selaku umat Islam tidak perlu memperingati kelahiran Nabi. Cukup suri tauladan beliau dan warisan ilmu dari beliau yang kita ambil karena itulah jalan selamat.

—-
@ Masjid Nabawi, 5 Rabi’ul Awwal 1435 H 
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

1 Januari 2015

DZIKIR PAGI DAN PETANG

Di bawah ini adalah lafadz dari bacaan do’a dan dzikir pagi dan sore hari:
Membaca Ayat Kursi (Pagi dan Sore 1x)
أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
“Aku berlindung kepada Allah dari godaan syaitan yang terkutuk.”
اللَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ، لاَ تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلاَ نَوْمٌ، لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ، مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ، يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ، وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلاَّ بِمَا شَاءَ، وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ، وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا، وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ
“Allah tidak ada Ilah (yang berhak diibadahi) me­lainkan Dia Yang Hidup Kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang (berada) dihadapan mereka, dan dibelakang mereka dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari Ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, Allah Mahatinggi lagi Mahabesar.” Al-Baqarah: 255) (Dibaca pagi dan sore 1x) [1]
 
Membaca Surat Al-Ikhlas (Dibaca Pagi dan Sore 3x)
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ اللَّهُ الصَّمَدُ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ
“Katakanlah, Dia-lah Allah Yang Maha Esa. Allah adalah (Rabb) yang segala sesuatu bergantung kepada-Nya. Dia tidak beranak dan tidak pula diper­anakkan. Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan-Nya.'” (QS. Al-Ikhlash: 1-4). (Dibaca pagi dan sore 3x). [2]
Membaca Surat Al-Falaq (Dibaca Pagi dan Sore 3x)
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ مِن شَرِّ مَا خَلَقَ وَمِن شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ وَمِن شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ  وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ
“Katakanlah: ‘Aku berlindung kepada Rabb Yang menguasai (waktu) Shubuh dari kejahatan makhluk-Nya. Dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita. Dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul. Serta dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki.”‘ (QS. Al-Falaq: 1-5). (Dibaca pagi dan sore 3x). [3]
Membaca Surat An-Naas (Dibaca Pagi dan Sore 3x)
 بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ مَلِكِ النَّاسِ إِلَهِ النَّاسِ مِن شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ مِنَ الْجِنَّةِ وَ النَّاسِ
 “Katakanlah, ‘Aku berlindung kepada Rabb (yang memelihara dan menguasai) manusia. Raja manusia. Sembahan (Ilah) manusia. Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi. Yang membisik­kan (kejahatan) ke dalam dada-dada manusia. Dari golongan jin dan manusia.'” (QS. An-Naas: 1-6) (Dibaca pagi dan sore 3x) [4]
 
Membaca (Dibaca Pagi 1x)
Ketika pagi, Rasulullah  صلي الله عليه وسلم membaca:
أَصْبَحْنَا وَأَصْبَحَ الْمُلْكُ لِلَّهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ. رَبِّ أَسْأَلُكَ خَيْرَ مَا فِيْ هَذَا الْيَوْمِ وَخَيْرَ مَا بَعْدَهُ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا فِيْ هَذَا الْيَوْمِ وَشَرِّ مَا بَعْدَهُ، رَبِّ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْكَسَلِ وَسُوْءِ الْكِبَرِ، رَبِّ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابٍ فِي النَّارِ وَعَذَابٍ فِي الْقَبْرِ.
 “Kami telah memasuki waktu pagi dan kerajaan hanya milik Allah, segala puji hanya milik Allah. Tidak ada Ilah (yang berhak diibadahi dengan benar) kecuali Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan bagi-Nya pujian. Dia-lah Yang Mahakuasa atas segala sesuatu. Wahai Rabb, aku mohon kepada-Mu kebaikan di hari ini dan kebaikan sesudahnya. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan hari ini dan kejahatan sesudahnya. Wahai Rabb, aku berlindung kepada-Mu dari kemalasan dan kejelekan di hari tua. Wahai Rabb, aku berlindung kepada-Mu dari siksaan di Neraka dan siksaan di kubur.” (Dibaca pagi 1x) [5]
Membaca (Dibaca Sore 1x) 
Dan ketika sore, Rasulullah   صلي الله عليه وسلم membaca:
أَمْسَيْنَا وَأَمْسَى الْمُلْكُ للهِ، وَالْحَمْدُ للهِ، لَا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، رَبِّ أَسْأَلُكَ خَيْرَ مَا فِي هَذِهِ اللَّيْلَةِ وَخَيْرَ مَا بَعْدَهَا، وَأَعُوذُبِكَ مِنْ شَرِّ مَا فِي هَذِهِ اللَّيْلَةِ وَشَرِّ مَا بَعْدَهَا، رَبِّ أَعُوذُبِكَ مِنَ الْكَسَلِ وَسُوءِ الْكِبَرِ، رَبِّ أَعُوذُبِكَ مِنْ عَذَابٍ فِي النَّارِ وَعَذَابٍ فِي الْقَبْرِ
“Kami telah memasuki waktu sore dan kerajaan hanya milik Allah, segala puji hanya milik Allah. Tidak ada Ilah (yang berhak diibadahi dengan benar) kecuali Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan bagi-Nya pujian. Dia-lah Yang Mahakuasa atas segala sesuatu. Wahai Rabb, aku mohon kepada-Mu kebaikan di malam ini dan kebaikan sesudahnya. Aku berlindung ke­pada-Mu dari kejahatan malam ini dan kejahatan sesudahnya. Wahai Rabb, aku berlindung kepada-Mu dari kemalasan dan kejelekan di hari tua. Wahai Rabb, aku berlindung kepada-Mu dari siksaan di Neraka dan siksaan di kubur.” (Dibaca Sore 1x)
Membaca (Dibaca Pagi 1x)
Ketika pagi, Rasulullah  صلي الله عليه وسلم membaca:
اَللَّهُمَّ بِكَ أَصْبَحْنَا، وَبِكَ أَمْسَيْنَا، وَبِكَ نَحْيَا، وَبِكَ نَمُوْتُ وَإِلَيْكَ النُّشُوْرُ.
“Ya Allah, dengan rahmat dan pertolongan-Mu kami memasuki waktu pagi, dan dengan rahmat dan pertolongan-Mu kami memasuki waktu sore. Dengan rahmat dan kehendak-Mu kami hidup dan dengan rahmat dan kehendak-Mu kami mati. Dan kepada-Mu kebangkitan (bagi semua makhluk).” (Dibaca pagi 1x) [6]
Membaca (Dibaca sore 1x)
Dan ketika sore, Rasulullah صلي الله عليه وسلم membaca:
اللَّهُمَّ بِكَ أَمْسَيْنَا، وَبِكَ أَصْبَحْنَا،وَبِكَ نَحْيَا، وَبِكَ نَمُوتُ، وَإِلَيْكَ الْمَصِيْرُ.
“Ya Allah, dengan rahmat dan pertolongan-Mu kami memasuki waktu sore dan dengan rahmat dan pertolongan-Mu kami memasuki waktu pagi. Dengan rahmat dan kehendak-Mu kami hidup dan dengan rahmat dan kehendak-Mu kami mati. Dan kepada-Mu tempat kembali (bagi semua makhluk).” (Dibaca sore 1x)
 Membaca Sayyidul Istighfar (Dibaca Pagi dan Sore 1x)
اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ.
“Ya Allah, Engkau adalah Rabb-ku, tidak ada Ilah (yang berhak diibadahi dengan benar) kecuali Engkau, Engkau-lah yang menciptakanku. Aku adalah hamba-Mu. Aku akan setia pada perjanjian­ku dengan-Mu semampuku. Aku berlindung ke­pada-Mu dari kejelekan (apa) yang kuperbuat. Aku mengakui nikmat-Mu (yang diberikan) kepadaku dan aku mengakui dosaku, oleh karena itu, ampuni­lah aku. Sesungguhnya tidak ada yang dapat me­ngampuni dosa kecuali Engkau.” (Dibaca pagi dan sore 1x) [7]
Membaca (Dibaca Pagi dan Sore 3x)
اَللَّهُمَّ عَافِنِيْ فِيْ بَدَنِيْ، اَللَّهُمَّ عَافِنِيْ فِيْ سَمْعِيْ، اَللَّهُمَّ عَافِنِيْ فِيْ بَصَرِيْ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ. اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْكُفْرِ وَالْفَقْرِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ
“Ya Allah, selamatkanlah tubuhku (dari penyakit dan dari apa yang tidak aku inginkan). Ya Allah, selamatkanlah pendengaranku (dari penyakit dan maksiat atau dari apa yang tidak aku inginkan). Ya Allah, selamatkanlah penglihatanku, tidak ada Ilah (yang berhak diibadahi) kecuali Engkau. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kekufuran dan kefakiran. Aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur, tidak ada Ilah (yang berhak diibadahi) kecuali Engkau.” (Dibaca pagi dan sore 3x) [8]
Membaca (Dibaca Pagi dan Sore 1x)
اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ، اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي دِيْنِيْ وَدُنْيَايَ وَأَهْلِيْ وَمَالِيْ اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِى وَآمِنْ رَوْعَاتِى. اَللَّهُمَّ احْفَظْنِيْ مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ، وَمِنْ خَلْفِيْ، وَعَنْ يَمِيْنِيْ وَعَنْ شِمَالِيْ، وَمِنْ فَوْقِيْ، وَأَعُوْذُ بِعَظَمَتِكَ أَنْ أُغْتَالَ مِنْ تَحْتِيْ.
“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kebajikan dan keselamatan di dunia dan akhirat. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kebajikan dan ke­selamatan dalam agama, dunia, keluarga dan harta­ku. Ya Allah, tutupilah auratku (aib dan sesuatu yang tidak layak dilihat orang) dan tentramkan-lah aku dari rasa takut. Ya Allah, peliharalah aku dari depan, belakang, kanan, kiri dan dari atasku. Aku berlindung dengan kebesaran-Mu, agar aku tidak disambar dari bawahku (aku berlindung dari dibenamkan ke dalam bumi).” (Dibaca pagi dan sore 1x) [9]
Membaca (Dibaca Pagi dan Sore 1x)
اَللَّهُمَّ عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ، رَبَّ كُلِّ شَيْءٍ وَمَلِيْكَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ نَفْسِيْ، وَمِنْ شَرِّ الشَّيْطَانِ وَشِرْكِهِ، وَأَنْ أَقْتَرِفَ عَلَى نَفْسِيْ سُوْءًا أَوْ أَجُرُّهُ إِلَى مُسْلِمٍ.
“Ya Allah Yang Mahamengetahui yang ghaib dan yang nyata, wahai Rabb Pencipta langit dan bumi, Rabb atas segala sesuatu dan Yang Merajainya. Aku bersaksi bahwa tidak ada Ilah (yang berhak diibadahi) kecuali Engkau. Aku berlindung ke­pada-Mu dari kejahatan diriku, syaitan dan sekutu­nya, (aku berlindung kepada-Mu) dari berbuat kejelekan atas diriku atau mendorong seorang muslim kepadanya.” (Dibaca pagi dan sore 1x) [10]
Membaca (Dibaca Pagi dan Sore 3x)
بِسْمِ اللهِ لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي اْلأَرْضِ وَلاَ فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ
“Dengan Nama Allah yang tidak ada bahaya atas Nama-Nya sesuatu di bumi dan tidak pula dilangit. Dia-lah Yang Mahamendengar dan Mahamengetahui.” (Dibaca pagi dan sore 3x) [11]
Membaca (Dibaca Pagi dan Sore 3x)
رَضِيْتُ بِاللهِ رَبًّا، وَبِاْلإِسْلاَمِ دِيْنًا، وَبِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَبِيًّا
“Aku rela (ridha) Allah sebagai Rabb-ku (untuk­ku dan orang lain), Islam sebagai agamaku dan Muhammad صلي الله عليه وسلم sebagai Nabiku (yang diutus oleh Allah).” (Dibaca pagi dan sore 3x)[12]
Membaca (Dibaca Pagi dan Sore 1x)
يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ، أَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلَّهُ وَلاَ تَكِلْنِيْ إِلَى نَفْسِيْ طَرْفَةَ عَيْنٍ.
“Wahai Rabb Yang Mahahidup, Wahai Rabb Yang berdiri sendiri (tidak butuh segala sesuatu) dengan rahmat-Mu aku meminta pertolongan, perbaikilah segala urusanku dan jangan diserahkan kepadaku meski sekejap mata sekali pun (tanpa mendapat pertolongan dari-Mu).” (Dibaca pagi dan sore 1x) [13]
Membaca (Dibaca Pagi 1x)
أَصْبَحْنَا عَلَى فِطْرَةِ اْلإِسْلاَمِ وَعَلَى كَلِمَةِ اْلإِخْلاَصِ، وَعَلَى دِيْنِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَعَلَى مِلَّةِ أَبِيْنَا إِبْرَاهِيْمَ، حَنِيْفًا مُسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ..
“Di waktu pagi kami berada diatas fitrah agama Islam, kalimat ikhlas, agama Nabi kami Muham­mad صلي الله عليه وسلم dan agama ayah kami, Ibrahim, yang ber­diri di atas jalan yang lurus, muslim dan tidak ter­golong orang-orang musyrik.” (Dibaca pagi 1x) [14]
Membaca (Dibaca Sore 1x) 
Dan ketika sore, Rasulullah صلي الله عليه وسلم membaca:
أَمْسَيْنَا عَلَى فِطْرَةِ اْلإِسْلاَمِ وَعَلَى كَلِمَةِ اْلإِخْلاَصِ، وَعَلَى دِيْنِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَعَلَى مِلَّةِ أَبِيْنَا إِبْرَاهِيْمَ، حَنِيْفًا مُسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ.
“Di waktu sore kami berada diatas fitrah agama Islam, kalimat ikhlas, agama Nabi kita Muhammad صلي الله عليه وسلم dan agama ayah kami, Ibrahim, yang berdiri di atas jalan yang lurus, muslim dan tidak tergolong orang-orang yang musyrik.” (Dibaca sore 1x)
Membaca (Dibaca setiap hari 10x atau 1x)
لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ.
“Tidak ada Ilah (yang berhak diibadahi dengan benar) selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan bagi-Nya segala puji. Dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.” (Di­baca 10x [15] atau dibaca 1x) [16]
Membaca (Dibaca setiap hari 100x)
لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ.
“Tidak ada Ilah (yang berhak diibadahi dengan benar) selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan bagi-Nya segala puji. Dan Dia Maha kuasa atas segala sesuatu.” (Di­baca setiap hari 100x) [17]
Membaca (Dibaca Pagi 3x)
سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ: عَدَدَ خَلْقِهِ، وَرِضَا نَفْسِهِ، وَزِنَةَ عَرْشِهِ وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ
“Mahasuci Allah, aku memuji-Nya sebanyak bi­langan makhluk-Nya, Mahasuci Allah sesuai ke-ridhaan-Nya, Mahasuci seberat timbangan ‘Arsy-Nya, dan Mahasuci sebanyak tinta (yang menulis) kalimat-Nya.” (Dibaca pagi 3x) [18]
Membaca (Dibaca Pagi 1x)
اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً
“Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang halal, dan amalan yang diterima.” (Dibaca pagi 1x) [19]
Membaca (Dibaca Pagi dan Sore 100x)
سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ
“Mahasuci Allah, aku memuji-Nya.” (Dibaca pagi dan sore 100x) [20]
Membaca (Dibaca setiap hari 100x)
أَسْتَغْفِرُ اللهَ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ
“Aku memohon ampunan kepada Allah dan ber­taubat kepada-Nya.” (Dibaca setiap hari 100x) [21]
Membaca (Dibaca Sore 3x)
أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ
“Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna, dari kejahatan sesuatu yang diciptakan-Nya.” (Dibaca sore 3x) [22] 
Membaca Shalawat (Dibaca Pagi dan Sore 10x)
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ
“Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan salam kepada Nabi kami Muhammad.” (Dibaca pagi dan sore 10 x)[23] (*)
_________

30 Desember 2014

ANTARA KALIMAT TAUHID & PERAYAAN TAHUN BARU

ANTARA KALIMAT TAUHID & PERAYAAN TAHUN BARU
-------------------------------------------------------------------------------------

AL-WALA’ WAL BARA’, KONSEKUENSI KALIMAT TAUHID YANG AGUNG

al-Wala’ adalah aqidah seorang mukmin yang mengharuskannya untuk bersikap loyal dan cinta terhadap Islam dan kaum muslimin, cinta pada syi’ar-syi’ar agama, cinta pada segenap sarana yang bisa menghantarkan menuju cinta Allah dan ridha-Nya.

Singkat kata, al-Wala’ adalah loyal dan cinta pada segenap apa yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya.

Sebaliknya, al-Bara’ adalah aqidah mukmin yang mengharuskannya untuk membenci, berlepas diri, dan (bahkan) memusuhi segala yang dimusuhi dan dibenci oleh Allah dan Rasul-Nya.

Para ulama telah menegaskan (berdasarkan dalil-dalil al-Qur-an dan al-Hadits), bahwasanya aqidah al-Wala’ wal Bara’ (baca: cinta dan benci karena Allah) merupakan salah satu konsekuensi kalimat tauhid “laa ilaaha illallaah” yang teragung. Ini dikarenakan “laa ilaaha illallaah” punya dua rukun yang harus bergandengan selamanya, yaitu;

an-Nafyu (peniadaan) adanya sesembahan yang berhak diibadahi dengan haq, dan
al-Itsbaat (penetapan) bahwa Allah adalah pengecualian dari an-Nafyu di atas. Dia adalah satu-satunya Dzat yang berhak menerima peribadatan yang haq dari makhluk.

Jadi pada kalimat “laa ilaaha…” (yang berarti: tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar) mengandung makna an-Nafyu. 

Sedangkan makna al-Itsbaat terdapat pada kalimat setelahnya yaitu “…illallaah” (yang berarti: kecuali hanya Allah semata).

Dua rukun tersebut dipetik dari banyak ayat al-Qur-an, di antaranya firman Allah (yang artinya):

فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لَا انْفِصَامَ لَهَا وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Barangsiapa ingkar kepada thagut (segala sesuatu yang diibadahi selain Allah) dan beriman kepada Allah semata (dengan memurnikan ibadah hanya kepada-Nya saja), sungguh ia telah berpegang pada tali yang sangat kuat.” 

[QS. al-Baqarah: 256]

an-Nafyu pada ayat di atas terdapat pada kalimat: “…ingkar kepada thagut”, sedangkan al-Itsbaat dipetik dari kalimat: “…beriman pada Allah semata”.

Dua rukun kalimat tauhid di atas, mengharuskan adanya sikap al-Wala’ dan al-Bara’ dalam diri seorang mukmin. Itulah sebabnya mengapa Allah memuji Ibrahim ‘alaihissalam dalam al-Qur-an sebagai uswah (teladan), dikarenakan beliau telah menegakkan konsekuensi kalimat tauhid, yaitu mencintai simbol-simbol keimanan (al-Wala’) dan memusuhi simbol-simbol kekufuran (al-Bara’). 

Allah berfirman dalam al-Qur-an tentang sikap Ibrahim terhadap kekufuran, yang sekaligus menjadi dalil atas dua rukun tauhid di atas:

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ

Artinya: “Sungguh telah ada suri teladan yang baik dari Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya tatkala mereka berkata kepada kaum mereka (yang kafir): ‘sungguh kami telah bara’ (berlepas diri) dari kalian dan dari apa-apa yang kalian sembah selain Allah (an-Nafyu). 
Kami ingkar pada kalian, dan telah jelas permusuhan dan kebencian antara kami dengan kalian selamanya sampai kalian mentauhidkan hanya Allah semata (al-Itsbaat).” 

[QS. al-Mumtahanah: 4]

Berdasarkan dalil-dalil di atas, maka jelaslah sudah bahwa ikrar kita akan kalimat tauhid laa ilaaha illallaah, tidak akan pernah sempurna sampai kita mampu membuktikannya dengan menegakkan al-Wala’ dan al-Bara’.

Kemudian, al-Wala’ dan al-Bara’ pun harus selamanya bergandengan dalam diri seorang mukmin sebagaimana al-Itsbaat dan an-Nafyu tidak terpisahkan dari rukun laa ilaaha illallaah. 

Maka “cinta” semata, tidak cukup jika tidak dibarengi oleh “benci” demi yang dicintai.

Betapa indahnya ungkapan Ibnu Taimiyyah rahimahullah yang menunjukkan kedalaman pemahaman beliau akan al-Wala’ dan al-Bara’ sebagai dua unsur yang tidak terpisahkan dari konsekuensi laa ilaaha illallaah:

لَيْسَ لِلْقُلُوْبِ سُرُوْرٌ وَلاَ لَذَّةٌ تَامَّةٌ إلاَّ فِي مَحَبَّةِ اللهِ، وَالتَّقَرُّبِ إلَيْهِ بِمَا يُحِبُّهُ، وَلاَ تُمْكِنُ مَحَبَّتُهُ إلاَّ بِالإعْرَاضِ عَنْ كُلِّ مَحْبُوْبٍ سِـوَاهُ، وَهَذَا حَقِيْقَةُ (لا إله إلا الله) وَهِيَ مِلَّةُ إبْرَاهِيْمَ الْخَلِيْلِ عَلَيْهِ السَّلاَمُ وَسَائِرِ الأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ

“Hati tidak akan mungkin merasakan kebahagiaan dan kelezatan yang sempurna, kecuali dengan mencintai Allah dan taqarrub pada-Nya melalui segala yang dicintai-Nya. 

Dan mencintai-Nya tidak akan mungkin terwujud kecuali dengan berpaling dari segenap kecintaan pada selain-Nya. Inilah hakikat laa ilaaha illallaah, dan inilah (inti) agama Ibrahim ‘alaihissalam (kekasih Allah) beserta segenap Nabi dan Rasul.” 

[Majmu’ al-Fatawa: 28/32]

KEUTAMAAN MENEGAKKAN AL-WALA’ & AL-BARA’

Rasulullah bersabda:

أَوْثَقُ عُرَى الإيْمَانِ الْمُوَالاَةُ فِـي اللهِ وَالْمُعَادَةُ فِي اللهِ، وَالْحُبُّ فِي اللهِ وَالْبُغْضُ فِي اللهِ

“Tali iman yang paling kokoh adalah; loyalitas karena Allah (sekaligus juga) memusuhi karena Allah, dan cinta karena Allah (sekaligus) membenci karena Allah.” [Hadits Hasan, Shahihul Jami’ush Shagir: 2/343]

Semoga Allah merahmati Ibnu ‘Abbas radhiallaahu’anhu yang telah berkata:

مَنْ أَحَبَّ فِي اللهِ وَأَبْغَـضَ فِي اللهِ، وَوَالَى فِي اللهِ، وَعَادَى فِي اللهِ فَإنَّمَا تُنَالُ وِلاَيَةُ اللهِ بِذَلِكَ، وَلَنْ يَجِدَ عَبْدٌ طَعْمَ الإيْمَانِ وَإنْ كَثُرَتْ صَلاَتُهُ وَصَوْمُهُ حَتَّى يَكُوْنَ كَذَلِكَ…

”Barangsiapa mencintai karena Allah, membenci karena Allah, bersikap loyal karena Allah, memusuhi karena Allah, maka sungguh (derajat) Wali Allah hanya bisa diraih dengan sifat-sifat tersebut. 

Dan seorang hamba tidak akan pernah mendapati lezatnya iman, betapapun banyak shalat dan puasanya, sampai hal tersebut terwujud pada dirinya…”

[Hilyatul Auliyaa’: 1/312, lih. Al-Walaa’ wal Baraa’ fil Islaam hal. 42]

Syari’at Allah dan Rasul-Nya menghendaki adanya tembok pemisah antara keimanan dan kekufuran, antara orang-orang mukmin dan orang-orang kafir. 

Jika tembok pemisah ini runtuh, maka kebatilan akan menjadi samar karena diselubungi oleh pakaian al-haq, demikian sebaliknya. 

Lambat laun, manusia akan kembali pada era jahiliyyah, di mana kebatilan dianggap haq, dan yang haq dianggap batil. 

Jika ini terjadi, maka manusia akan kehilangan kemanusiaannya. 

Tatanan moral dan sosial akan hancur. Kerusakan di muka bumi pun tidak terelakkan lagi. Allah berfirman:

إِلَّا تَفْعَلُوهُ تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الْأَرْضِ وَفَسَادٌ كَبِيرٌ

Artinya: “…Jika kalian tidak mewujudkannya (yakni al-Wala’ dan al-Bara’), niscaya akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang besar.”

[QS. al-Anfaal: 73]

PERAYAAN TAHUN BARU DARI PERSPEKTIF AL-WALA’ & AL-BARA’

Jika ditilik dari sisi sejarah, perayaan tahun baru masehi sangat kental dengan nuansa kekufuran. Dalam The World Book Encyclopedia tahun 1984, vol. 14, hal. 237, tercata (yang artinya):

“Penguasa Romawi Julius Caesar menetapkan 1 Januari sebagai hari permulaan tahun baru semenjak abad ke 46 SM. 

Orang Romawi mempersembahkan hari ini (1 Januari) kepada Janus, dewa segala gerbang, pintu-pintu, dan permulaan (waktu). 

Bulan Januari diambil dari nama Janus sendiri, dewa yang (dikhayalkan-red) punya dua wajah, satu mengahadap ke (masa) depan, dan satu lagi menghadap ke (masa) belakang.”

Bulan Januari (bulannya Dewa Janus) juga ditetapkan setelah Desember, dikarenakan Desember adalah pusat Winter Soltice (musim dingin) yaitu hari-hari di mana kaum Paganis (musyrik-red) menyembah matahari.

Bagi orang-orang Persia (sekarang Iran-red) yang beragama Majusi (penyembah api), tanggal 1 Januari dijadikan hari raya mereka yang dikenal dengan sebutan Nairuz atau Nurus. 

Kaum Majusi meyakini bahwa pada tahun baru itulah Tuhan menciptakan cahaya sehingga memiliki kedudukan tinggi. 

Kisah perayaan mereka ini direkam oleh Imam Nawawi dalam kitab Nihaayatul ‘Arob.

Dalam perayaan Nairuz tersebut, kaum Majusi menyalakan api dan mengagungkannya. 

Kemudian orang-orang berkumpul di jalan-jalan, halaman dan pantai, mereka bercampur antara pria dan wanita, saling mengguyur antara mereka dengan air dan khamr (miras). 

Mereka berteriak dan menari-nari sepanjang malam. Orang-orang yang tidak turut serta dalam perayaan Nairuz ini disiram dengan air bercampur kotoran. 

[sumber: answering.wordpress.com, dengan sedikit perubahan]

Sekarang, teka-teki dari mana asalnya tradisi kembang api di malam pergantian tahun, terjawab sudah. 

Tidak lain dan tidak bukan ia adalah virus Majusi (penyembah api) yang diam-diam telah merasuki sendi-sendi budaya kita kaum muslimin tanpa kita sadari.

BAGAIMANA SIKAP MUKMIN SEJATI?

Bisa disimpulkan bahwa seorang muslim yang masih meyakini kalimat laa ilaaha illallaah, maka dia harus menjalankan segenap konsekuensi kalimat tersebut, di mana al-Bara’ termasuk di dalamnya. 

Seorang muslim tidak selayaknya ikut serta dalam perayaan tahun baru, apapun bentuk dan ragamnya, termasuk sekedar mengucapkan; “Selamat Tahun Baru”. 

Hal ini terlarang (baca: haram) berdasarkan ikrar kalimat tauhid yang senantiasa kita ucapkan sendiri, belum lagi dalil-dalil al-Qur-an dan Hadits serta keterangan para ulama salaf yang terlalu banyak untuk disebutkan di sini.

Aqidah al-Wala’ dan al-Bara’ mengharuskan seorang muslim mempertahankan jati dirinya, tidak mudah goyah dan latah pada budaya-budaya non-muslim yang bertentangan dengan kemurnian budaya Islam yang telah dirasakan kejayaannya oleh Salafush Shalih. 

Rasulullah bersabda:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia telah menjadi bagian dari kaum tersebut.” 

[Hadits Shahih, Shahiihul Jaami’: 5/270]

Penting untuk dicatat, bahwa aqidah al-Wala’ dan al-Bara’ tidak sah jika hanya diyakini dalam hati dan lisan semata, namun juga harus dibuktikan dengan sikap. Maka sangat jelas kekeliruan orang-orang yang mengatakan: 

“Tidak mengapa mengucapkan selamat atas hari raya orang-orang kafir, selama tidak diniatkan dalam hati.”

Ini sama saja dengan klaim palsu orang-orang yang mengatakan:

“Selamat atas perayaan kekafiran kalian pada Allah”, kemudian dalam hati dia berkata: “Saya tetap mencintai Allah dan Rasul-Nya”. Sungguh ungkapan kontradiktif yang tidak bisa dicerna dan diterima fitrah yang lurus.

Cukuplah kalimat emas berikut (yang konon diucapkan oleh Imam Syafi’I, 
lihat Fathullaah al-Hamiid hal. 348, asy-Syaamilah), menjadi jawaban bagi orang-orang semacam ini:

تَعْصِي الإلَهَ وَأَنْتَ تَزْعُمُ حُبَّهُ ** هَذَا وَرَبِّيْ فِي الْقِيَاسِ شَنِيْعُ

لَوْ كَانَ حُبُّكَ صَادِقًا لَأَطَعْتَهُ ** إنَّ الْمُحِبَّ لِمَنْ يُحِبُّ مُطِيْعُ

Engkau durhakai sesembahanmu, sementara engkau mendakwa cinta pada-Nya

Sungguh ini–demi Tuhanku–adalah perbandingan yang buruk

Andai dakwaan cintamu tulus, niscaya engkau ‘kan taat pada-Nya

Karena sejatinya, seorang pecinta akan taat pada yang dicinta.

***

Ditulis oleh:

Johan Saputra Halim (Abu Ziyan)

fb.com/jo.saputra.halim

Referensi Utama: al-Wala’ wal Bara’ fil Islaam, Syaikh Muhammad Sa’ad al-Qohthooniy, Cet.-1 Daar ath-Thoyyibah

Artikel: http://muslimafiyah.com/

Catatan: 
Semoga tulisan ini menjadi timbangan kebaikan bagi penulisnya dan orang-orang yang ikut andil dalam penyebarannya..aamiin yaa mujiibas saa-iliin. 

Secara khusus saya mengucap syukur pada Allah yang telah memberi taufiq dalam menulis tema ini, dan kepada al-Akh al-Faadhil Raehanul Bahraen yang telah berkenan mem-publish tulisan ini melalui blog-nya yang penuh berkah—bi-idznillaah—.

Via: Ummu Fahrian Ida