3 Juli 2014

WAHAI ANAKKU

wahai anakku..

.....Anakku..!!
Ketika aku semakin tua, aku berharap kamu memahami dan memiliki kesabaran untukku..

Suatu ketika aku..
Memecahkan piring atau menumpahkan sup diatas meja karena penglihatanku berkurang,
Aku harap kamu tidak memarahiku
Orang tua itu sensitif...selalu merasa bersalah jika kamu berteriak..

Ketika pendengaranku semakin memburuk,aku harap kamu tidak berkata: " TULI..!! "
Mohon ulangi apa yang kau katakan..

Maaf, anakku...!!
Aku semakin tua....
Aku mohon jangan bosan denganku ketika aku mengulangi apa yang kukatakan, seperti dongeng sebelum tidurmu dulukala, aku harap kamu selalu mendengarkan aku, tolong jangan mengejek ku atau bosan mendengarkanku...
Apakah kamu ingat ketika kamu kecil dan kamu mengulangi apa yang kamu baru bisa ucapkan..
Aku dulu senang mendengarnya..

Maafkan aku wahai anakku tentang bau ku, tercium seperti orang yang tua ya... Aku mohon jangan memaksaku untuk mandi, atau menyinggungku.....
Aku harap aku tidak terlihat kotor bagimu...
Apakah kamu ingat ketika kamu masih kecil? Aku selalu mengejar-ngejar kamu ketika kamu tidak ingin mandi...
Aku sabar dalam memandikanmu..

Aku harap kamu bisa bersabar dengan ku ketika aku rewel...ini semua bagian dari menjadi tua...kamu akan mengerti ketika kamu tua...
Dan jika kamu memiliki waktu luang, aku harap kita bisa bicara bahkan untuk beberapa menit..aku selalu sendiri sepanjang waktu dan tidak memiliki seseorangpun tuk diajak bicara...aku tahu kamu sibuk dengan pekerjaanmu

Ketika saatnya tiba dan aku hanya bisa terbaring...sakit dan sakit, aku harap kamu memiliki kesabaran tuk merawatku..

Semoga kelak kita dapat berkumpul disurga..

---

Pesan dari ku wahai saudaraku:

Jikalau orang tua kita telah semakin sepuh.. maka hati-hatilah dalam berbicara.. ia merupakan kunci surgamu..
Sensitif dari segala ucapan seorang anak.. entah salah atau benar.. bukan menjadi suatu alasan..
Yang jelas mereka berdua telah menyayangimu..
Jagalah kalimat apapun yang dapat menyinggungnya..
Bila engkau dapat bertutur kata manis kepada atasanmu dan engkau akan murah senyum padanya..itu hanya karena gajimu ada ditangannya..
Maka inilah orang tua kita... mereka berdua memiliki kedudukan yang lebih tinggi dari sekedar atasanmu..
Jangan karena engkau telah lama hidup bersamanya.. sehingga hormatmu padanya hanya hormat biasa.. atau ketika engkau beda pendapat dengannya.. bantahanmu langsung keluar dengan mudahnya..

Rendahkan sayapmu untuknya..jika engkau bersayap..
Sesungguhnya burung tidak dapat terbang jika mereka merendahkan sayapnya..

6 Juni 2014

🍄Mutiara Hati🍄

🍄Mutiara Hati🍄

"APA Yang Kau Cari... "

Sudah di gunung, pantai kau rindukan
Tiba di pantai, gunung yang kau inginkan
Saat kemarau, kau tanya kapan hujan
Diberi hujan, kemarau kau tanyakan

Sudah tenang di rumah, pengin pergi🏃
Begitu pergi🏃, kau ingin ke rumah kembali
Sudah dapat ketenangan🙇, keramaian👥 kau cari
Keramaian 👥kau temukan, ketenangan🙇 kau rindui

Apa yang sebenarnya yang kau cari
Belum berkeluarga mncari istri/suami👰
Sudah berkeluarga, ngeluh anak belum diberi👪
👉Dapat anak👪, ngeluh lagi kurang rejeki💰
😊👉Ternyata sesuatu tampak indah🌇 karena belum kita miliki

💝Kapankah kebahagiaan akan didapatkan❓
👉Kalau yang belum ada selalu kita pikirkan..
👉Sedang Yang sudah diberi Allah kita abaikan?
👉Bukankah telah banyak yang kau dapatkan?
💞Jadilah pribadi yang SELALU BERSYUKUR
Karena kesyukuran akan membuatmu subur
Mungkinkah selembar 🍁daun bisa menutup bumi🌎
Sedang kau tak bisa menutup telapak tangan ✋sendiri
Tetapi saat selembar daun🍁 kecil menempel di mata 👀
Maka bumi 🌎yang luas seperti tertutup semua🙈

👉Begitu juga bila hatimu ditutupi keburukan
Seolah-olah yang tak cocok denganmu selalu kejelekan
Seluruh bumi 🌎seolah tak ada kebaikan
Padahal letaknya cuma hatimu yang ketutupan
👉Jangan tutup matamu🙈 dengan daun kecil🍁
👉Jangan tutup hatimu💓 dengan kotoran secuil
👉Syukuri nikmat Allah, meski kelihatan mungil
👉Terus istiqomah dengan sunnah maka kelak kau berhasil
👉Bila buruk hatimu, buruk pula akhlaqmu
👉Bila tertutup hatimu, tertutuplah segala sesuatu
👉Syukurilah semua apa yang ada padamu
Dari situ engkau memuliakan dirimu
👉Belajarlah berterimakasih kepada Allah Ta’ala
Sebagai modal untuk meMULIAkan-NYA.
Karena hidup adalah: "⏰WAKTU yang dipinjamkan
Dan harta adalah: "ANUGERAH yang dipercayakan"
Semoga bermanfaat
#Ias

3 CIRI ORANG YANG SUKA RIYA'

Oleh: Muhammad Wasitho Abu Fawaz

Riya' ialah seseorang melakukan suatu kebaikan atau meninggalkan suatu keburukan dengan niat dan tujuan agar dilihat dan dipuji oleh manusia.

Riya' merupakan Syirik Kecil yg paling ditakutkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam akan menimpa umatnya. Hal ini berdasarkan sabda beliau (yg artinya): "Sesungguhnya sesuatu (dosa) yg paling aku takutkan akan menimpa kalian adalah Syirik Kecil." Maka mereka (para sahabat) bertanya: "Apa yg dimaksud Syirik Kecil itu?" Beliau jawab: "(Syirik Kecil itu) adalah RIYA'. Allah Ta'ala berkata pd hari Kiamat apabila Dia tlh memberikan balasan trhdp amal perbuatan manusia; "Pergilah kalian kpd orang-orang yg dulu sewaktu di dunia kalian berbuat riya' (pamer) kpd mereka. Lalu lihatlah, apakah kalian mendapatkan balasan (atas perbuatan kalian) di sisi mereka?". (HR. Imam Ahmad di dlm Al-Musnad V/428 no.429, dengan sanad Hasan).

» Ali bin Abi Tholib radhiyallahu 'anhu berkata:
للمرائي ثلاث علامات :
- يكسل إذا كان وحده - وينشط إذا كان في الناس
- ويزيد في العمل إذا أثني عليه وينقص إذا ذم

"Orang yang suka riya’ (pamer dan tidak ikhlas dlm beramal) memiliki tiga buah tanda (yaitu):

1. Apabila sendirian, maka dia menjadi pemalas.
2. Apabila berada di tengah orang-orang, ia semakin bertambah semangat.
3. Dia akan meningkatkan amalnya jika dipuji dan akan mengurangi amalnya jika dicela orang (karena melakukannya).(Lihat Al-Kabaa’ir, karya imam Adz-Dzahabi hal. 145).

» Ia (Ali bin Abi Tholib) jg pernah mengatakan: "Janganlah engkau melakukan suatu kebaikan karena riya' (pamer dan ingin dipuji oleh orang lain). Dan jangan pula kau meninggalkannya karena rasa malu (kpd orang lain)." (Lihat Adabud-Dunya Wad-Diin, hal.110).

Demikian Faedah Ilmiyah & Mau'izhoh Hasanah yg dpt kami sampaikn. Smg Allah memberikan keikhlasan kpd kita dlm setiap amal ibadah, dan melindungi kita dr Riya' dan pembatal ikhlas. (Klaten,6/6/2014).

» KLIK: http://abufawaz.wordpress.com

3 Juni 2014

Tahanlah lisan jahatmu atas suamimu


Ketika diri dihadapkan pada suatu masalah, maka tak jarang gelapnya hati dan buntunya logika menuntun kita pada sebuah sikap yang justru lebih memperunyam suasana. Tak jarang pula, entah tanpa sadar atau tidak, kita mengeluarkan kata- kata makian dan penuh dengan nada- hujatan serta merendahkan. Dan sangat disayangkan, ketika obyek alias sasaran yang kita harapkan untuk menerima kerendahan itu ternyata adalah suami kita sendiri.Wahai wanita…

Lalu apakah yang kau peroleh setelah menghujat? Apakah yang kau peroleh setelah kalimat “margasatwa” itu telah habis- habisan kau paksaan bagi suamimu untuk mendengar? Legakah batinmu atas keadaan itu?

Masyaallah, lihatlah ternyata kau sama sekali tidak terlihat lebih indah. Demi Allah, memanglah sangat sakit mungkin, sakit yang kau rasakan saat kau penuh amarah. Namun semua kata- kata kotor yang kau lontarkan itu, ternyata tidak akan pernah sama sekali memuliakanmu di hadapan Allah, dan atau memberi celah untukmu mendapatkan jalan keluar atas masalahmu itu.

Maka bersabarlah….

Bersabar itu bukan berarti kau tak boleh sama sekali marah. Bersabar itu berarti kau tetaplah boleh marah, tetapi tidak menggunakan rasa marah yang kau rasakan itu, untuk merendahkan diri suamimu dan melukai hati beliau, sehingga beliau terasa sangat terendahkan dan sedih, sedang dirimu sendiri telah berhasil mengikhlaskan diri untuk tidak menjadi mulia.

Maka ingatlah para wanita, suamimu adalah tetap dan akan selamanya menjadi ladang ibadah bagimu untuk meraih surga. Beliau adalah penyelamat kehormatanmu, penjaga batinmu, dan karenanya kau juga tak mendapat julukan perawan tua ataupun janda yang dipandang sebelah mata oleh manusia. Kau memang sangat dan teramat bebas mengekspresikan kemarahan dan kata- kata jahatmu kepada suamimu, saat kau marah. Namun yakinlah bahwa kau tak akan pernah bebas dari efek samping yang akan kau terima di kemudian hari, atas semua yang telah kau lakukan itu.

Ketika kau marah dan protes atas sebuah keadaan, maka ingatlah bahwa keadaan yang sedang tersedia di hadapanmu itu, sesungguhnya sedang menantangmu untuk menunjukkan jati diri terbaikmu. Maka jangan kau sia- siakan kehadirannya, dengan justru menghadirkan serendah- rendahnya kualitas diri lewat lidahmu yang jahat.

Dan ketahuilah wahai wanita, lisanmu itu adalah nikmat dari Allah, namun bisa menjadi bencana terbesar bagi hidupmu jika kau telah lepas kendali. Maka kendalikanlah dia, dan jangan serahkan kekuasaan itu kepada selera dan keadaan perasaanmu saja yang setiap saat bisa berubah dan berbeda. Apakah kau tahu, banyak para suami dan mungkin termasuk suamimu, yang sebenarnya menginginkan untuk selalu berlaku mesra dan menjadikan istrinya “pos” terakhir dari petualangan hidupnya. Namun… istrinya kasar, pemarah, perendah bagi suaminya sendiri, tidak menghormati mereka.

Wahai wanita, kau adalah pemilih dari keadaan yang selanjutnya kau hadapi dan kau rasakan sendiri. Sekuat- kuatnya seorang laki- laki, maka pun akan patah juga pertahanan mereka saat telah tidak terasa lagi sebuah penghormatan dan perlakuan baik atas diri dan harga dirinya. #Ias

1 Juni 2014

(*) 11 PRINSIP DAKWAH SALAFIYYAH (*)


Berikut ini adalah prinsip-prinsip Dakwah Salafiyyah yang telah praktekkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersama para sahabat radhiyallahu 'anhum ajma'iin.

1. Mengajak Umat Manusia Agar Berpegang Teguh Kepada Al-Qur'an Dan As-Sunnah Dengan Manhaj (pemahaman) Generasi As-Salafus Sholih (Para Sahabat, Tabi'in, dan Atba'ut Tabi'in).

2. Berdakwah Kepada Aqidah Tauhid Dan Mengihklaskan Amalan Hanya Karena Allah Ta'ala.

3. Memperingatkan Manusia Dari Segala Macam Bentuk Kemusyrikan.

4. Mengajak Manusia Agar Senantiasa Ber-Ittiba' (Meneladani Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam) Dan Meninggalkan Sikap Taqlid Buta (ikut-ikutan kepada pendapat orang lain tanpa mengetahui dalil syar'inya).

5. Memperingatkan Manusia Dari Segala Macam Bentuk Bid'ah Dan Pemikiran Yang Menyimpang.

6. Bersemangat Dalam Menuntut Ilmu Syar'i.

7. Tashfiyah (Pemurnian Aqidah dan Ibadah dari segala noda syirik, bid'ah, khurofat, dan akhlak yg tercela), Dan Tarbiyah (Mendidik Umat Manusia Di Atas Islam Yang Murni dan Benar).

8. Mengajarkan Kepada Umat Manusia Akhlak Yang Mulia.

9. Memperingatkan Kaum Muslimin Dari Bahaya Hadits-hadits Dho'if dan Palsu Yang Telah Merusak Keindahan Dan Kesempurnahan Agama Islam.

10. Memperingatkan Kaum Muslimin Dari Sikap Fanatisme Dan Hizbiyyah Dengan Segala Bentuknya.

11. Berupaya Memulai Kehidupan Yang Islami Dan Menerapkan Hukum Allah Di Muka Bumi.

(Diterjemahkan oleh Abu Fawaz Asy-Syirboony dari kitab Al-Mukhtashor Al-Hatsiits Fii Bayaani Ushuuli Manhajis Salaf Ashhaabil Hadiits Fii Talaqqid-Diini Wa Fahmihi Wal 'Amali Bihi Wad-Da'wati Ilaihi, karya syaikh kami Isa Malullah Faroj hafizhohullah, hal.166-312).

Semoga bermanfaat bagi kita semua. (Jakarta, 1 Juni 2014).

(*) Blog Dakwah, KLIK:
http://abufawaz.wordpress.com

30 Mei 2014

CADAR

Memiliki isteri yang bercadar adalah anugerah. Alhamdulillah...

Makna selembar kain yang menutup wajah anggun itu, ia bukanlah tempat bersembunyi agar wajah pas-pasan tidak terlihat, bukan pula tempat menutup wajah cantik nan menawan, ia adalah kain penutup yang bermakna ketakwaan.
Ketakwaan seorang wanita pada Allah dan Rasul-Nya, sebagai bentuk rasa berserah sang hamba pada-Nya.

Makna selembar kain yang menutup di wajah ini, ia bukanlah sarana untuk membanggakan diri agar terlihat lebih baik daripada yang lain, bukan pula alat untuk unjuk gigi agar disebut shalihah ketimbang yang tidak menutup muka, juga bukan benda yang difungsikan untuk pamer dan riya’.

Ia adalah pakaian anggun yang mempunyai fungsi sebagai pengontrol, agar terkendali sikap ini berbuat aniaya dan hina. Pengendali agar diri tidak terjerat pada ajang tebar pesona, entah di dunia nyata atau maya.

Makna selembar kain yang menempel di wajah ini, ia bukanlah kain yang dikenakan untuk tujuan meraup simpati, tidak juga untuk tebar pesona dan gengsi.

Ia adalah kain yang mempunyai berlapis-lapis manfaat, agar terjaga pandangan ini, terjaga sikap ini pada lawan jenis yang bukan mahram, juga untuk melindungi diri dari gangguan manusia jahil.

Makna selembar kain di wajah ini, ia bukanlah alat untuk meneriakkan ‘aku wanita bercadar yang lebih baik dari kalian yang tidak bercadar’, tetapi ia adalah alat untuk menutup aurat dan membedakan jati diri muslimah dengan yang lain, yang dikenakan bukan untuk merasa lebih baik dari yang tidak bercadar. Ia adalah alat untuk mengukur diri, sudah benarkah sikap ini sebagai muslimah sejati? Juga sebagai alat untuk menahan diri dari kehidupan dunia gemerlap.

Makna selembar kain yang melekat di wajah ini, ia bukanlah kain yang cukup diartikan sebagai penutup wajah saja. Ia adalah kain yang hendaknya membuat diri pemakai semakin giat mencari tahu, kenapa harus mengenakannya, agar pemakai tidak jatuh pada taqlid/buta.

Makna selembar kain yang membalut diwajah ini, ia bukanlah pertanda bahwa berarti pemakainya adalah manusia istimewa, tetapi dari kain itulah wanita belajar agar istimewa, menghindari pujian, menepis sanjungan, menolak simpati murahan.

#Memakai cadar hukumnya sunnah, bukanlah wajib. Namun padanya banyak manfaat dan keutamaan.

Afza Fajri Khatami Masyhadi
______________________

26 Mei 2014

Ringkasan Ceramah Agama Islam: Ajaran Madzhab Imam Syafi’i yang Ditinggalkan: Larangan Pengagungan Kuburan, Bidahnya Tahlilan, dan Seterusnya Larangan Pengagungan terhadap Kuburan

Berikut ini merupakan rekaman kajian agama Islam tematik bersama Ustadz Firanda Andirja, yang disampaikan pada Senin malam, 22 Rajab 1435 / 22 Mei 2014 di Masjid Al-Barkah, Komplek Rodja, Cileungsi, Bogor. Kajian ini diadakan selama 3 hari berturut-turut dari tanggal 20-22 Mei 2014, dengan pembahasan menarik seputar “Ajaran Madzhab Imam Syafi’i yang Ditinggalkan“, dan pada kajian kali ini beliau akan menjelaskan tentang beberapa ajaran Imam Syafi’i yang banyak ditinggalkan oleh orang-orang yang mengaku mengikuti beliau, yaitu “Larangan Pengagungan Kuburan, Bidahnya Tahlilan, dan Seterusnya“.

Ringkasan Ceramah Agama Islam: Ajaran Madzhab Imam Syafi’i yang Ditinggalkan: Larangan Pengagungan Kuburan, Bidahnya Tahlilan, dan Seterusnya

Larangan Pengagungan terhadap Kuburan

Sesungguhnya ibadah itu dibangun di atas dalil baik dari Al-Qur’an maupun As-Sunnah yang dipahami oleh para shahabat radhiyallahu ‘anhum.
Tatkala para pemakmur kuburan yang mencari barokah di sana mengetahui bahwasanya perbuatan mereka menyelisihi dan bertentangan dengan terlalu banyak hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, maka merekapun berusaha untuk berdalil dengan perkataan ulama yang sepakat dengan aqidah mereka.
Diantara perkataan para ulama yang dijadikan dalil untuk menguatkan kebiasaan mereka beribadah di kuburan adalah perkataan Al-Baidhawi rahimahullah.
Padahal perkataan Al-Baidhawi ini menyelisihi kesepakatan para ulama besar Madzhab As-Syafi’iyah. Dan para pemakmur kuburan di tanah air kita secara umum mengaku bermadzhab As-Syafiiyah. Akan tetapi tatkala ada perkataan seorang ulama yang sesuai dengan keyakinan mereka maka merekapun ramai-ramai memegang teguh perkataan tersebut dan meninggalkan hadits-hadits yang begitu banyak yang tidak sesuai dengan kebiasaan mereka…serta meninggalkan kesepakatan perkataan para ulama besar Asy-Syafiiyah.
An-Nawawi juga telah menukil kesepakatan para ulama tentang dilarangnya mengusap kuburan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam rangka mencari barakah. Beliau rahimahullah berkata :
“Tidak boleh thawaf di kuburan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan dibenci menempelkan perut dan punggung di dinding kuburan, hal ini telah dikatakan oleh al-Halimy dan yang selainnya. Dan dibenci mengusap kuburan dengan tangan dan dibenci mencium kuburan. Bahkan adab (*ziarah kuburan Nabi) adalah ia menjauh dari Nabi sebagaimana ia menjauh dari Nabi kalau dia bertemu dengan Nabi shallallau ‘alaihi wa sallam tatkala masih hidup. Dan inilah yang benar, dan inilah perkataan para ulama, dan mereka telah sepakat akan hal ini.
Di antara perkataan ulama Madzhab Syafi’i yang melarang pengagungan terhadap kuburan adalah Imam An-Nawawi rahimahullah, beliau berkata :
“Dan telah sepakat teks-teks dari Asy-Syafi’i dan juga Ash-haab (*para ulama besar Madzhab Syafi’iah) akan dibencinya membangun masjid di atas kuburan, sama saja apakah sang mayat masyhur dengan kesholehan atau tidak karena keumuman hadits-hadits (*yang melarang). Asy-Syafii dan para Ash-haab berkata, “Dan dibenci sholat ke arah kuburan, sama saja apakah sang mayat orang sholeh ataukah tidak”. Al-Haafizh Abu Muusa berkata, “Telah berkata Al-Imaam Abul Hasan Az-Za’farani rahimhullah : Dan tidak boleh shalat ke arah kuburannya, baik untuk mencari barakah atau karena pengagungan, karena hadits-hadits Nabi, Wallahu A’lam“.(Demikian perkataan An-Nawawi dalam Al-Majmuu’ syarh Al-Muhadzdzab 5/289)

Tahlilan adalah Bid’ah Menurut Madzhab Syafi’i

Sering kita dapati sebagian ustadz atau kiyai yang mengatakan, “Tahlilan kok dilarang?, tahlilan kan artinya Laa ilaah illallahh?”.
Tentunya tidak seorang muslimpun yang melarang tahlilan, bahkan yang melarang tahlilan adalah orang yang tidak diragukan kekafirannya. Akan tetapi yang dimaksud dengan istilah “Tahlilan” di sini adalah acara yang dikenal oleh masyarakat yaitu acara kumpul-kumpul di rumah kematian sambil makan-makan disertai mendoakan sang mayit agar dirahmati oleh Allah.
Lebih aneh lagi jika ada yang melarang tahlilan langsung dikatakan “Dasar Wahabi“..!!!
Seakan-akan pelarangan melakukan acara tahlilan adalah bid’ah yang dicetus oleh kaum wahabi !!?
Sementara para pelaku acara tahlilan mengaku-ngaku bahwa mereka bermadzhab Syafi’i !!!. Ternyata para ulama besar dari Madzhab Syafi’iyah telah mengingkari acara tahlilan, dan menganggap acara tersebut sebagai bid’ah yang mungkar, atau minimal bid’ah yang makruh. Kalau begitu para ulama syafi’yah seperti Imam Syafi’i dan Al-Imam An-Nawawi dan yang lainnya adalah wahabi??!!

Ijma’ Ulama bahwa Nabi, Para Sahabat, dan Para Imam Madzhab tidak Pernah Tahlilan

Tentu sangat tidak diragukan bahwa acara tahlilan –sebagaimana acara maulid Nabi dan bid’ah-bid’ah yang lainnya- tidaklah pernah dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak juga para sahabatnya, tidak juga para tabi’in, dan bahkan tidak juga pernah dilakukan oleh 4 imam madzhab (Abu Hanifah, Malik, Asy-Syafii, dan Ahmad rahimahumullah).
Akan tetapi anehnya sekarang acara tahlilan pada kenyataannya seperti merupakan suatu kewajiban di pandangan sebagian masyarakat. Bahkan merupakan celaan yang besar jika seseorang meninggal lalu tidak ditahlilkan. Sampai-sampai ada yang berkata, “Kamu kok tidak mentahlilkan saudaramu yang meninggal??, seperti nguburi kucing aja!!!”.
Tidaklah diragukan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah kehilangan banyak saudara, karib kerabat, dan juga para sahabat beliau yang meninggal di masa kehidupan beliau. Anak-anak beliau (Ruqooyah, Ummu Kaltsum, Zainab, dan Ibrahim radhiallahu ‘anhum) meninggal semasa hidup beliau, akan tetapi tak seorangpun dari mereka yang ditahlilkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apakah semuanya dikuburkan oleh Nabi seperti menguburkan kucing??.
Istri beliau yang sangat beliau cintai Khadijah radhiallahu ‘anha juga meninggal di masa hidup beliau, akan tetapi sama sekali tidak beliau tahlilkan. Jangankan hari ke-3, ke-7, ke-40, ke-100, ke-1000 bahkan sehari saja tidak beliau tahlilkan. Demikian juga kerabat-kerabat beliau yang beliau cintai meninggal di masa hidup beliau, seperti paman beliau Hamzah bin Abdil Muthhalib, sepupu beliau Ja’far bin Abi Thalib, dan juga sekian banyak sahabat-sahabat beliau yang meninggal di medan pertempuran, tidak seorangpun dari mereka yang ditahlilkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Demikian pula jika kita beranjak kepada zaman al-Khulafaa’ ar-Rasyidin (Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali) tidak seorangpun yang melakukan tahlilan terhadap saudara mereka atau sahabat-sahabat mereka yang meninggal dunia.
Nah lantas apakah acara tahlilan yang tidak dikenal oleh Nabi dan para sahabatnya, bahkan bukan merupakan syari’at tatkala itu, lantas sekarang berubah statusnya menjadi syari’at yang sunnah untuk dilakukan??!!, bahkan wajib??!! Sehingga jika ditinggalkan maka timbulah celaan??!!
Sungguh indah perkataan Al-Imam Malik (gurunya Al-Imam Asy-Syaafi’i rahimahumallahu)
فَمَا لَمْ يَكُنْ يَوْمَئِذٍ دِيْنًا لاَ يَكُوْنُ الْيَوْمَ دِيْنًا
“Maka perkara apa saja yang pada hari itu (pada hari disempurnakan Agama kepada Nabi, yaitu masa Nabi dan para sahabat-pen) bukan merupakan perkara agama maka pada hari ini juga bukan merupakan perkara agama.” (Al-Ihkam, karya Ibnu Hazm 6/255)
Bagaimana bisa suatu perkara yang jangankan merupakan perkara agama, bahkan tidak dikenal sama sekali di zaman para sahabat, kemudian lantas sekarang menjadi bagian dari agama!!!

Argumen Madzhab Syafi’i yang Menunjukkan Makruhnya/Bid’ahnya Acara Tahlilan

Banyak hukum-hukum Madzhab Syafi’i yang menunjukkan akan makruhnya/bid’ahnya acara tahlilan. Daintaranya:
Pendapat Madzhab Syafi’i yang mu’tamad (yang menjadi patokan) adalah dimakruhkan berta’ziah ke keluarga mayit setelah tiga hari kematian mayit. Tentunya hal ini jelas bertentangan dengan acara tahlilan yang dilakukan berulang-ulang pada hari ke-7, ke-40, ke-100, dan bahkan ke-1000.
Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata:
“Para sahabat kami (para fuqahaa madzhab syafi’i) mengatakan : “Dan makruh ta’ziyah (melayat) setelah tiga hari. Karena tujuan dari ta’ziah adalah untuk menenangkan hati orang yang terkena musibah, dan yang dominan hati sudah tenang setelah tiga hari, maka jangan diperbarui lagi kesedihannya. Dan inilah pendapat yang benar yang ma’ruf….” (Al-Majmuu’ Syarh Al-Muhadzdzab 5/277)
Telah lalu penukilan perkataan Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah:
وَأُحِبُّ لِجِيرَانِ الْمَيِّتِ أو ذِي قَرَابَتِهِ أَنْ يَعْمَلُوا لِأَهْلِ الْمَيِّتِ في يَوْمِ يَمُوتُ وَلَيْلَتِهِ طَعَامًا يُشْبِعُهُمْ فإن ذلك سُنَّةٌ وَذِكْرٌ كَرِيمٌ وهو من فِعْلِ أَهْلِ الْخَيْرِ قَبْلَنَا وَبَعْدَنَا لِأَنَّهُ لَمَّا جاء نَعْيُ جَعْفَرٍ قال رسول اللَّهِ صلى اللَّهُ عليه وسلم اجْعَلُوا لِآلِ جَعْفَرٍ طَعَامًا فإنه قد جَاءَهُمْ أَمْرٌ يَشْغَلُهُمْ
“Dan aku menyukai jika para tetangga mayat atau para kerabatnya untuk membuat makanan bagi keluarga mayat yang mengenyangkan mereka pada siang dan malam hari kematian sang mayat. Karena hal ini adalah sunnah dan bentuk kebaikan, dan ini merupakan perbuatan orang-orang baik sebelum kami dan sesudah kami, karena tatkala datang kabar tentang kematian Ja’far maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Buatkanlah makanan untuk keluarga Ja’far, karena telah datang kepada mereka perkara yang menyibukkan mereka” (Kitab Al-Umm 1/278)


Read more: http://www.radiorodja.com/ajaran-madzhab-imam-syafii-yang-ditinggalkan-larangan-pengagungan-kuburan-bidahnya-tahlilan-dan-haramnya-ngalap-berkah-yang-tidak-syari-ustadz-abu-abdil-muhsin-firanda-andirja-ma/#ixzz32mU3YSLW