1 September 2014

Kumpulan BC dari Sahabat Ilmu

Kumpulan BC dari Sahabat Ilmu

* Benar Sejak Awal Hingga Akhir *

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ

”Sesungguhnya amal itu tergantung dengan niatnya..."
(HR. Bukhari: 1, 54; Muslim: 1908)

Dalam hadits lain Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

وَإِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِخَوَاتِيْمِهَا

"Sesungguhnya amal itu tergantung pada akhirnya.."
(HR. Bukhari:6493, Muslim:112)

Maka perbuatan itu harus benar sejak dari awal (niat), tengah (pelaksanaan) dan akhir (takabur).

Jauhilah berbagai penyakit hati berupa riya' (ingin dilihat orang), sum'ah (ingin didengar orang), ujub (bangga diri), serta semisalnya.

Agar jerih payah amal kita tidak menjadi debu yang berterbangan tanpa hasil di akhirat kelak..

----------------

* Bendahara Amanah *

Adakalanya diperlukan seorang pengelola bantuan...

Terkadang dibutuhkan seseorang yang mau "merepotkan" diri menerima dan menyalurkan donasi...

Walau mungkin belum mampu turut menyumbang, asalkan bersikap amanah, maka ia memperoleh pahala bersedekah.

Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

الْخَازِنُ الْمُسْلِمُ الأَمِينُ الَّذِى يُنْفِذُ مَا أُمِرَ بِهِ كَامِلاً مُوَفَّرًا طَيِّبٌ بِهِ نَفْسُهُ، فَيَدْفَعُهُ إِلَى الَّذِى أُمِرَ لَهُ بِهِ ، أَحَدُ الْمُتَصَدِّقَيْنِ

“Seorang bendahara muslim yang amanah yang melaksanakan sesuai dengan apa yang ia diperintahkan secara sempurna, memuliakan dan senang hati.

Lalu ia menyerahkan amanah tersebut kepada orang yang telah diperintahkan untuk diberi, maka ia terhitung seorang yang juga turut bersedekah...”

(HR. al-Bukhari: 1438, Muslim: 1023)

Ingat...
Bendahara (khazin) muslim, bukan kafir.

Maka..
Pengelola zakat, bantuan palestina, ifthar jama'i (buka puasa bersama) maupun kegiatan dakwah sosial lainnya termasuk di dalam keutamaan hadits ini.

Mari berlaku amanah.

------------------

* Bentuk Terbaik *

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya” (QS at-Tiin: 4)

As-Sa'di rahimahullah berkata, “Maksudnya adalah diciptakan dengan sempurna, anggota tubuh yang sesuai dan perawakan yang pantas, tidak kurang sesuatu apa pun yang ia butuhkan...” (Taisir Karimir Rahman: 929)

"Allah bersumpah bahwa Dia telah menciptakan manusia dalam bentuk yang paling baik, yakni dalam keadaan dan rupa yang paling baik secara fitrah. Karena kenyataannya tidak ada makhluk yang lebih baik bentuknya daripada bani Adam.
Seluruh makhluk yang ada di bumi, keelokannya jauh di bawah keelokan bani Adam.." (Tafsir Juz ‘Amma, Syaikh al-‘Utsaimin)

Bila demikian keadaannya,,
Layakkah bila ada yang hendak merubah bentuk tubuh dengan anggapan belum sesuai kehendak..?
Mengapa kita enggan bersyukur...?

-----------------

* Berbaik Sangkalah *

Apapun yang menjumpai hari kita, maka berbaik sangkalah kepadaNya.

A. Sesuai Persangkaan Hamba.

Sebagaimana firman Allah dalam sebuah hadits Qudsi,

أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِيْ بِـيْ

“Aku (Allah) akan memperlakukan hambaKu sesuai dengan persangkaannya kepadaKu...” (HR al-Bukhari: 7066, Muslim: 2675)

Maknanya:

"Allah akan memperlakukan hambaNya bersesuaian dengan harapan baik atau buruk dari sang hamba.

Maka hendaklah seorang hamba senantiasa berprasangka dan berharap baik kepada Allah..." (Faidhul Qadir: 2/312)

B. Kembalikan Seluruhnya.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman,

الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ () أُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ

"(Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan,“inna lillahi wa inna ilaihi raji'un” (sesungguhnya kami kepunyaan Allah dan hanya kepadaNya kami kembali)

Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Rabb mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk" (QS al-Baqarah: 156-157)

Apapun yang terjadi, kembalikan seluruhnya kepada Allah.

Dan berprasangka baiklah atas setiap perkara.

Selalu ada hikmah dan berharap ganjaran pahala.

------------------

* Berbelanja Secara Patut *

Seorang istri harus menjaga harta suami. Dan seorang suami harus menafkahi keluarga secara patut.

A. Sesuai kadar Kemampuan.

Dalam kemudahan rizki, ada yang dilebihkan ada pula yang kurang.

Sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala,

لِيُنْفِقْ ذُوْ سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنْفِقْ مِمَّا آتَاهُ اللهُ لاَ يُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا إِلاَّ مَا آتَاهَا

“Hendaklah orang yang diberi kelapangan memberikan nafkah sesuai dengan kelapangannya dan barangsiapa disempitkan rizkinya maka hendaklah ia memberi nafkah dari harta yang Allah berikan kepadanya” (QS Ath-Thalaq: 7)

B. Apabila Kurang.

Seorang shahabiyyah (sahabat wanita) datang mengadu kepada Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam,

يَا رَسُوْلَ اللهِ، إِنَّ أَبَا سُفْيَانَ رَجُلٌ شَحِيْحٌ وَلَيْسَ يُعْطِيْنِي مَا يَكْفِيْنِي وَوَلَدِي إِلاَّ مَا أَخَذْتُ مِنْهُ وَهُوَ لاَ يَعْلَمُ

“Wahai Rasulullah, sungguh Abu Sufyan seorang yang kikir. Dia tidak memberiku nafkah yang dapat memenuhi kebutuhan aku dan anakku kecuali apabila aku mengambil sebagian dari hartanya tanpa sepengetahuannya...”

Maka Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam bersabda,

خُذِي مَا يَكْفِيْكِ وَوَلَدَكِ بِالْمَعْرُوْفِ

“Ambillah dari harta suamimu sekadar mencukupi kebutuhanmu dan anakmu secara patut...” (HR. Al-Bukhari: 5364, Muslim: 4452)

Sesuai kadar kebutuhan harian, bukan tambahan perabotan dan memperbanyak pengeluaran.

Bersyukur dan bersabar, dua poros yang harus ada dalam kehidupan.

-------------------

* Berbuat Dosa, Jangan Putus Asa *

Kita tidak boleh meremehkan maksiat yang dilakukan. Namun jangan pula larut dalam kepedihan dosa.

A. Tak Boleh Putus Asa.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman,

وَلَا تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ

“Dan janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir" (QS. Yusuf: 87)

B. Allah Maha Pengampun.

Selama seorang hamba tertaubat, maka Allah akan mengampuni,

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا

“Katakanlah: "Wahai hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah.  Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya” (QS. Az-Zumar: 53)

C. Seperti Tidak Berdosa.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
التَّائِبُ مِنَ الذَّنْبِ كَمَنْ لاَ ذَنْبَ لَهُ

“Orang yang bertaubat dari perbuatan dosa maka ia seperti orang yang tidak berdosa...” (Hasan, HR Ibnu Majah: 4250)

Ingatlah...!!

Setan itu akan selalu menggoda orang yang masih memiliki keimanan, sehingga bila berdosa ia akan menyesal.

Adapun orang yang tak lagi menyesal saat berbuat dosa, setan pun enggan mendekatinya.

---------------

* Berbuka Mengikuti Nabi *

Berpuasa merupakan ibadah agung. Maka selayaknya sejak awal sahur hingga berbuka kita berusaha mencontoh Nabi shallallahu'alaihi wasallam.

A. Doa Berbuka Puasa.

Diantara doa berbuka puasa, sebagiannya ada yang tidak shahih.

Berikut diantara yang shahih dari Rasulullah,

ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوْقُ وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللهُ
"Dahaga telah berlalu, urat-urat telah basah dan (semoga) Allah menetapkan pahala (puasa) Insya Allah..." (Hasan, HR. Abu Daud: 2357)

B. Menu Berbuka Puasa.

Anas bin Malik radiyallahu ‘anhu berkata;

"كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُفْطِرُ عَلَى رُطَبَاتٍ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ، فَإِنْ لَمْ يَكُنْ رُطَبَاتٌ فَتَمَرَاتٌ، فَإِنْ لَمْ يَكُنْ تَمَرَاتٌ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ..."

"Dahulu Nabi Shallallahu'alaihi wa Sallam berbuka dengan berberapa butir ruthab (kurma basah) sebelum menunaikan shalat (maghrib).

Apabila tidak ada kurma basah maka berbuka dengan tamr (kurma kering).

Dan jika tidak ada kurma kering maka beliau berbuka dengan beberapa teguk air..." (HR Ahmad, ash-Shahihah 2840)

Demikianlah Nabi shallallahu'alaihi wasallam berbuka puasa. Sungguh penuh kesederhanaan.

Mari kita contoh dengan penuh kecintaan dan pengharapan pahala.

Dengan apa kita akan berbuka puasa hari ini...?!

------------------

* Berbuka Puasa *

Berikut beberapa hal terkait berbuka puasa:

A. Segera.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ

“Manusia senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka puasa...” (HR al-Bukhari: 1957, Muslim :2549)

B. Berdoa.

Adapun doa yang shahih dan dianjurkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah:

ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوْقُ وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللهُ

"Dahaga telah berlalu, urat-urat telah basah dan (semoga) Allah menetapkan pahala (puasa) Insya Allah..." (Hasan, HR. Abu Daud: 2357)

C. Bahagia.

Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَ فَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِرَبِّهِ

"Terdapat dua kegembiraan bagi orang yang berpuasa. Kegembiraan saat ia berbuka dan kegembiraan saat berjumpa dengan Allah ta'ala (di akhirat kelak)..." (HR Muslim: 2700, 2701)

Semoga Allah mempertemukan kita di surgaNya kelak, negeri bertabur suka tiada lagi duka dan nestapa. Aamiin...

--------------------

* Berburu Lailatul Qadr *

Memasuki sepertiga akhir bulan Ramadhan, kita akan bersiap menyambut malam keutamaan...

Dialah (malam) lailatul Qadr...

A. Sepuluh Hari Terakhir.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِيْ الْوِتْرِ مِنْ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

“Carilah (malam) lailatul qadar pada malam-malam ganjil di sepuluh hari akhir bulan Ramadhan...” (HR. al-Bukhari: 2017).

B. Ganjil/Genap?

Timbul pertanyaan, manakah malam ganjil yang dimaksud?

Dari awal atau belakang?

Terlebih ada hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

الْتَمِسُوهَا فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى تَاسِعَةٍ تَبْقَى ، فِى سَابِعَةٍ تَبْقَى ، فِى خَامِسَةٍ تَبْقَى

“Carilah lailatul qadar di sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan pada sembilan, tujuh maupun lima malam yang tersisa...” (HR. al-Bukhari: 2021)

Beberapa ulama berpendapat, lafadzh "tersisa" menunjukkan terhitung dari belakang akhir Ramadhan.

Lalu timbul (lagi) pertanyaan...

Akan berlaku malam ganjil bagi yang mengikuti ketetapan awal Ramadhan pemerintah namun menjadi malam genap bagi pengikut (Ormas Islam) lainnya.

Demikian pula sebaliknya...

Lalu bagaimana...?

Maka hidupkanlah seluruh malam di penghujung ramadhan ini...

C. Jangan Lupa Berdoa

Ibunda Kaum Mukminin pernah bertanya,

"Wahai Rasulullah, apa pandangan engkau apabila aku mengetahui bahwa suatu malam merupakan lailatul qadar.

Apa yang sebaiknya aku ucapkan di malam itu...?”

Beliau menjawab, ”Katakanlah:

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى

"Ya Allah... Sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf yang menyukai permintaan maaf maka maafkanlah aku..."

(Shahih, HR. at-Tirmidzi: 3513, Ibnu Majah: 3850)

Singsingkan lengan, kencangkan ikat pinggang...

Penghujung Ramadhan telah datang...

-------------------

* Bercanda Bersama *

Pada umumnya permainan yang bernuansa canda adalah kesia-siaan.

Namun tidak halnya bagi sepasang suami istri.

Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

كُلُّ شَيْئٍ يَلْهُوْبِهِ ابْنُ آدَمَ فَهُوَ بَاطِلٌ إِلاَّ ثَلاَثًا: رَمْيُهُ عَنْ قَوْسِهِ، وَتَأْدِيْبُهُ فَرَسَهُ، وَمُلاَعَبَتُهُ أَهْلَهُ، فَإِنَّهُنَّ مِنَ الْحَقِّ.

“Setiap sesuatu yang dijadikan permainan Bani Adam adalah kesia-siaan semata kecuali tiga perkara: memanah dari busur, melatih kuda dan bercanda dengan istri.

Sesungguhnya seluruh perkara itu adalah hak, benar adanya”

(Shahih, HR An-Nasa'i, Ath-Thabrani, Shahih al-Jami' ash-Shaghir: 4532 Al-Albani)

Hmm... Indahnya menyambut suami datang, bercanda layaknya pengantin baru.

Semoga saat-saat itu tidak hilang mengisi kehidupan rumah tangga.

Yuks, kita mulai sekarang... Senang, riang, berpahala...

-----------------

* Berdoa Di Kala Sehat Dan Sakit *

Abdul A'la at-Taimi rahimahullah berkata,

"Perbanyaklah memohon kesehatan kepada Allah ta'ala, karena orang yang diuji dengan sakit meskipun berat ujiannya tidak lebih berhak (memperbanyak) berdoa daripada orang yang sehat, dimana orang sehat tidak merasa aman dari ujian berupa sakit (orang sehat juga harus memperbanyak berdoa).

Dan orang yang sedang diuji dengan sakit pada hari ini, tidak lain adalah orang yang sehat pada hari kemarin.

Dan orang yang akan diuji sakit esok hari tidak lain adalah orang sehat di hari ini.

(Fiqhul Ad'iyyah wal Adzkar, Syaikh 'Abdurrazzaq al-Badr)

Demikianlah nikmat sehat, salah satu dari dua kenikmatan yang seringkali manusia lalai pada keduanya.

Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam,

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

“Dua kenikmatan, kebanyakan manusia tertipu pada keduanya: kesehatan dan waktu luang...” (HR. Bukhari: 5933)

“Kenikmatan adalah keadaan yang baik, ada pula yang berkata bahwa kenikmatan merupakan perbuatan bermanfaat dalam bentuk melakukan kebaikan untuk orang lain...” (Fathul Bari, Ibnu Hajar al-Asqalani)

Apapun keadaan kita hari ini, sehat atau sakit, berdoalah dan manfaatkan aktivitas ini sebagai bekal akhirat kelak.

------------------

* Berdzikir Di Setiap Kondisi *

Hendaknya kita senantiasa berdzikir dengan berbagai jenis dzikir mutlak.

Dari Abu Ishaq maula (budak yang dibebaskan oleh majikannya)
Al Harits, dari Nabi shallallahu'alaihi wasallam bersabda,

ما من قوم جلسوا مجلساً، فلم يذكروا الله فيه، إلا كان عليهم تِرَةٌ،

“Tidak ada sekelompok kaum yang duduk di sebuah majlis dan di dalamnya mereka tidak berdzikir kepada Allah, melainkan akan ditimpakan atas mereka penyesalan.

وما من رجل مشى طريقاً، فلم يذكر الله عز وجل، إلا كان عليه تِرَةٌ

Dan tidaklah seseorang yang berlalu di jalan dan dia tidak berdzikir kepada Allah, melainkan akan ditimpakan atasnya penyesalan.

، وما من رجل أوى إلى فراشه، فلم يذكر الله، إلا كان عليه تِرَةٌ..
Dan tidaklah seseorang yang berbaring di kasurnya dan dia tidak berdzikir kepada Allah, melainkan akan ditimpakan atasnya penyesalan.."

[Shahih, HR Ahmad: 2/432. Lihat Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah karya Syaikh al-Albany no.79]

Penjelasan Hadits;
>> (التِرَة)
dengan mengkasrahkan huruf “ta”, artinya aib atau kekurangan

✓ Berkumpul dalam suatu majlis, jangan lupa berdzikir.
✓ Berlalu di suatu perjalanan, tetap berdzikir..
✓ Bahkan jelang tidur pun, dianjurkan berdzikir...

Ada Dzikir di Setiap Kondisi. Pagi, petang, jelang tidur, dijalan, di rumah, kapanpun dimanapun. Hingga tak sempat lagi lisan ini membicarakan aib orang lain...

--------------

* Bergaul Dengan Tetangga *

Tetangga, orang terdekat dengan kita.

Saat mengalami musibah, sebelum sanak keluarga membantu, tetangga lebih dahulu.

Maka bersabarlah dengan gangguan tetangga.

A. Lebih Besar Pahala.

Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam bersabda,

الْمُؤْمِنُ الَّذِي يُخَالِطُ النَّاسَ وَيَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ أَعْظَمُ أَجْرًا مِنْ الْمُؤْمِنِ الَّذِي لَا يُخَالِطُ النَّاسَ وَلَا يَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ

“Seorang mukmin yang berbaur dengan manusia dan bersabar atas gangguan mereka lebih besar ganjarannya daripada seorang mukmin yang tidak berbaur dengan manusia dan tidak sabar atas gangguan mereka....”

(Shahih, HR. At-Tirmidzi: 2507, Ibnu Majah: 4022,Shahihul Jami’: 6651 Al-Albani)

Baik bergaul dengan manusia secara umum, terlebih khusus tetangga.

B. Tetangga Terbaik.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

وَخَيْر الْجِيْرَانِ عِنْدَ اللهِ خَيْرُهُمْ لِجَارِهِ

“...Dan sebaik-baik tetangga di sisi Allah yaitu mereka yang terbaik (bergaul) dengan tetangganya...”
(Shahih, HR at-Tirmidzi, ash-Shahihah: 103)

Yuks, rangkul tetangga...
Dan bersabar dengan gangguan yang ada...
Berharap ganjaran pahala dari Allah semata...

---------------

*Berhari Raya Tanpa Berbuat Dosa *
(Jabat Tangan Bukan Mahram)

Kebahagiaan meliputi kaum muslimin di hari raya..
Berjabat tangan ucap selamat tidak mengapa..

Namun, jangan sampai berbuat maksiat dan dosa...
Menyentuh bukan mahram berakibat petaka...

Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam bersabda,

لَأنْ يُطعَنَ في رأسِ أحدِكم بمِخيَطٍ من حديدٍ خيرٌ لهُ مِنْ أن يَمَسَّ امرأةً لا تَحِلُّ لهُ

"Sungguh,, ditusuknya kepala seseorang kalian dengan jarum dari besi lebih baik baginya dibandingkan menyentuh seorang wanita yang tidak halal baginya..." (HR. Ath-Thabrani dalam Al-Kabir, Shahihul Jami' al-Albani: 4921)

Lafadz "Sungguh"; menunjukkan penekanan dari Rasulullah..

Kepala ditusuk jarum besi; siapa diantara kita dapat membayangkan apalagi merasakan. Na'udzubillah..

Kenali mahram kita, agar tak salah langkah..

---------------

* Berhias Untuk Siapa...? *

Ketika berada di luar rumah, seseorang berpakaian bagus, rapi, dan wangi layaknya hendak menemui orang spesial.

Namun sekembali di rumah, mulailah berganti daster kumel, atau pun kaos oblong bolong.

Sesungguhnya berhias itu untuk siapa..?

A. Wanita Indah Dipandang.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,

خَيْرُ النِّسَاءِ الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ إِلَيْهَا ...

“Sebaik-baik wanita adalah yang menyenangkan apabila suami memandangnya..." (Hasan; HR an-Nasa'i, Ahmad, ash-Shahihah: 1838 al-Albani).

B. Lelaki Pun Berhias Diri.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ

“Dan bergaullah dengan mereka dengan baik” (QS. An-Nisa’: 19)

Ibnu Katsir rahimahullah menafsirkan,

“Berkatalah yang baik, perbaguslah amalan dan tingkah laku kalian kepada istri. Berlaku baiklah sebagai kalian menyukai apabila istri berbuat demikian...” (Tafsir Ibnu Katsir 3: 400)

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu anhuma berkata,

“Sesungguhnya aku berhias diri untuk istriku sebagaimana ia menghias diri untukku...” (Tafsir Ibnu Jarir: 2/453).

Bila hati telah terjaga, tak ada keinginan tuk "bebas" melepas pandangan mata.

Suami istri, yuks berhias diri...


--------------

* Beri Hadiah Tetangga *

Apabila hendak memberi oleh-oleh hadiah selepas berpergian maupun liburan berhari raya, kepada siapa..?

A. Dahulukan Tetangga.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda,

وَخَيْر الْجِيْرَانِ عِنْدَ اللهِ خَيْرُهُمْ لِجَارِهِ

“...Dan sebaik-baik tetangga di sisi Allah yaitu mereka yang terbaik (bergaul) dengan tetangganya...”
(Shahih, HR at-Tirmidzi, ash-Shahihah: 103)

B. Walau Hanya.

Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam menasihati,

يَا أَبَا ذَرٍّ، إِذَا طَبَخْتَ مَرَقَةً فَأَكْثِرْ مَاءَهَا، وَتَعَاهَدْ جِيْرَانَكَ

“Wahai Abu Dzar, apabila engkau memasak yang berkuah, perbanyak airnya. Kemudian bagikan kepada tetangga...!” (HR. Muslim: 2625)

Tentu kita memiliki lebih dari sekedar kuah sup. Berbagilah dengan tetangga.

Bukankah jika rumah -na'udzubillah- tertimpa musibah, tetangga yang akan lebih dahulu membantu kita...?

Bahkan sebelum sanak saudara.

---------------

* Berilmu Jangan Sombong *

Seringkali para penuntut ilmu terjebak dalam sifat sombong, membanggakan diri atas ilmu yang dimiliki.

Perkara ini, kerap didapatkan justru pada para pemula.

Sebagaimana disampaikan dalam kitab Tadzkiratus Sami’ wal Mutakallim hal.65:

العلم ثلاثة أشبار من دخل
في الشبر الأول تكبر،
والثاني تواضع
الثالث علم أنه ما يعلم..

"Ilmu itu ada tiga langkah, barangsiapa yang baru masuk pada langkah pertama ia sombong, langkah kedua akan tawadhu’ dan langkah ketiga akan mengetahui dirinya tidak mengetahui..."

(Kitabul ‘ilmi Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin)

Padahal kesombongan tidak selayaknya terdapat dalam hati seorang muslim, apalagi penuntut ilmu.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً قَالَ إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

“Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi”

Ada sahabat yang bertanya, “Bagaimana halnya seseorang yang suka memakai baju dan sandal yang bagus...?”

Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah itu Maha Indah dan menyukai keindahan.

Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain...“
(HR. Muslim: 91)

Yuks, jauhi sifat sombong agar ilmu yang kita miliki menjadi barakah.

----------------

* Berita Tak Jelas *

Si fulan itu begini yaa...
Kalau fulanah sekarang begitu lho...

Hmm...
Sungguh banyak informasi simpang-siur bertebaran saat ini...

A. Termasuk Pendusta.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

“Cukuplah seseorang dikatakan sebagai pendusta apabila ia menceritakan segala hal yang ia dengar...” (HR. Muslim: 5, Abu Daud: 4992)

Imam an-Nawawi rahimahullah menjelaskan,

"Hadits ini merupakan celaan terhadap orang yang menceritakan setiap yang ia dengar.

Sebab umumnya, berita yang ia dengar tidak terlepas dari kebenaran dan kedustaan (bercampur).

Jika ia menceritakan segala yang didengarnya maka besar kemungkinan ia akan berdusta atas kabar yang tidak bersesuaian dengan kenyataan..."

(Syarh Shahih Muslim: 1/69)

B. Kehormatan Seorang Muslim.

Apalagi bila yang dibicarakan adalah seorang muslim. Kehormatannya terjaga oleh syariat Islam.

Tatkala Haji Wada, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَإِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ عَلَيْكُمْ حَرَامٌ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا، فِي شَهْرِكُمْ هَذَا، فِي بَلَدِكُمْ هَذَا

“Sungguh darah, harta, dan kehormatan kalian adalah haram (suci, terjaga) atas kalian.

Seperti terjaganya hari ini (hari Arafah), sucinya bulan ini (Dzulhijjah) dan haramnya negeri ini (Makkah)...” (HR al-Bukhari, Muslim)

Teliti sebelum menerima informasi apalagi bila hendak menyebarkannya lagi...

Alih-alih semangat berbagi informasi, malah petaka yang di dapat.

Ingatlah...!!

Lisan dan tulisan kita, kelak akan dimintai pula pertanggungjawaban di akhirat.

--------------

* Berkacalah Saat Musibah *

Air mengalir, banjir. Tanah bergerak, longsor. Gunung meletus, debu pun terendus, bertebangan hingga ratusan kilometer.

Jangan menyalahkan siapa-siapa. Bisa jadi setiap orang memiliki “andil” atasnya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (QS. Ar-Ruum: 41)

“Abul ‘Aliyah berkata,

“Barangsiapa yang berbuat maksiat di muka bumi, maka ia telah melakukan kerusakan di muka bumi”

Karena kebaikan bumi dan langit lantaran ketaatan...

(Tafsir Ibnu Katsir: 3/572)

Lebih lanjut Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,

“Diantara hukuman perbuatan dosa ialah hilangnya berbagai nikmat dan datangnya beragam siksa cobaan.

Tidaklah hilang suatu nikmat dari seorang hamba melainkan karena sebab dosa.

Dan tidaklah turun siksa ujian melainkan karena dosa...” (Ad-Da'u Wal Dawa': 49)

Saatnya introspeksi diri dan tidak perlu menyalahkan orang lain.

Apapun musibah yang menimpa.

-------------

* Berkumpul Dua keutamaan *

Seringkali kita berusaha meraih bermacam cara dan waktu agar doa dikabulkan.

Bepergian ke suatu tempat hingga mencari waktu yang tepat.

Di hari ini, bulan Ramadhan, Jumat selepas Ashar, berkumpul padanya dua keutamaan saat doa terkabulkan.

A. Orang Berpuasa.

Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam bersabda,

ثَلاَثٌ لَا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ : المُسافِر، الصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ، وَدَعْوَةُ الْمَظْلُوْمِ

“Ada tiga orang yang tidak tertolak doanya; seorang musafir, seorang yang berpuasa sehingga ia berbuka, serta doa seorang yang terzhalimi”

(Shahih, HR. Ibnu Majah: 1752, Silsilah ash-Shahihah: 596 dan 1797)

B. Jum'at selepas Ashar.

Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam bersabda,

"(Siang) hari Jum'at itu dua belas jam. Tidaklah seorang hamba muslim berdoa memohon sesuatu kepada Allah melainkan akan Allah kabulkan.

Maka carilah saat tersebut pada akhir waktu setelah Ashar..."

(HR Abu Daud:1408, an-Nasa'i: 1389, Shahihut Targhib:703 Syaikh al-Albani)

Manfaatkan dua keutamaan saat dikabulkan doa, yakni berpuasa dan akhir saat Ashar.

-------------

* Berkurban Atas Nama Mayit? *

Menyembelih kurban atas nama seseorang yang telah meninggal diperbolehkan apabila si mayit berwasiat untuk berkurban.

A. Tiga Keadaan.

Sebagaimana penjelasan asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin rahimahullahu ta'ala:

1. Apabila si mayit merupakan bagian dari yang masih hidup.

Sebagaimana apabila seseorang berkurban atas dirinya dan seluruh keluarganya (padahal di antara mereka ada yang telah meninggal dunia).

Hal ini dibenarkan sebab Nabi shallallahu'alaihi wasallam berkurban dan bersabda,

“Ya Allah, (kurban) ini dari Muhammad dan keluarga Muhammad”

(Shahih, HR. Ibnu Majah no: 3122 dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu)

2. Menyembelih kurban atas diri mayit secara khusus sebagai wujud sedekah baginya.

Para Ulama Hanabilah membenarkannya, namun sebagian yang lain tidak membenarkannya kecuali bilamana ia sempat berwasiat sebelum wafatnya.

Dan merupakan KEKELIRUAN besar bilamana yang masih hidup memperhatikan kurban atas diri yang telah wafat tetapi mereka mengabaikan ibadah ini atas diri mereka sendiri.

3. Menyembelih kurban atas diri mayit dengan dorongan wasiatnya sebelum wafat.

Wasiat semacam ini harus diwujudkan sebagaimana yang diwasiatkan tanpa ditambah maupun dikurangi.

(Ahkam Al-Udhhiyah wadz-Dzakah:18-19)

Jika tidak ada wasiat, maka berkurbanlah atas nama seseorang yang masih hidup.

B. Potong Kuku Rambut

Hal yang lebih menegaskan lagi adalah sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam,

إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّيَ فَلاَ يَأْخُذْ مِنْ شَعْرِهِ وَلاَ مِنْ أَظْفَارِهِ شَيْئًا حَتَّى يُضَحِّيَ

“Apabila telah masuk 10 hari pertama (Dzulhijjah) dan salah seorang kalian hendak berkurban, maka janganlah dia mengambil rambut dan kukunya sedikitpun hingga dia menyembelih kurbannya...” (HR Muslim: 1977)

Apabila berkurban atas nama mayit, kuku dan rambut mana yang "akan" dipotong..?

Terlebih lagi, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan para sahabat tidak melakukannya.

-----------

* Berlama-Lama Di Sujud Terakhir *

Ada sebagian kita yang keliru memahami makna hadits tentang anjuran berdoa ketika sujud dengan memperlama sujud terakhir dan berdoa padanya.

Padahal anjuran tersebut berlaku di seluruh sujud di setiap raka'at....

Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam,

أَقْرَبُ مَا يَكُوْنُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ

"Sedekat-dekat posisi hamba dengan Rabbnya adalah tatkala ia sedang sujud. Maka perbanyaklah doa (pada saat itu)..." (HR Muslim: 482)

Dalam kesempatan lain, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

وَأَمَّا السُّجُوْدُ فَاجْتَهِدُوا فِي الدُّعَاءِ فَقَمِنٌ أَنْ يُسْتَجَابَ لَكُمْ

"Adapun sujud maka bersungguh-sungguhlah berdoa pada saat itu.

Karena lebih mendekati bagi kalian untuk dikabulkan..." (HR Muslim: 479)

Syaikh Al-Utsaimin rahimahullah berkata,

“Memperpanjang sujud terakhir (untuk berdoa) tatkala shalat bukanlah bagian sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam...."

Maka jangan dibatasi dengan sujud terakhir di rakaat terakhir.

Pembatasan terhadap sesuatu ibadah yang tidak dibatasi Allah dan RasulNya merupakan perbuatan yang diada-adakan dan tertolak.

----------------------

* Berlemah Lembutlah *

A. Hiasi Diri Dengan Kelembutan.
Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam bersabda,

ﻣﺎ ﻛﺎﻥ ﺍﻟﺮﻓﻖ ﻓﻲ ﺷﻲﺀ ﺇﻟﺎ ﺯﺍﻧﻪ، ﻭﻟﺎ ﻧﺰﻉ ﻣﻦ ﺷﻲﺀ ﺇﻟﺎ ﺷﺎﻧﻪ

“Tidaklah sifat lemah lembut terdapat pada sesuatu melainkan akan memperindah dan tidaklah dicabut dari sesuatu kecuali akan menjadikannya buruk” (HR. Muslim)

B. Allah pun Mencintai Kelembutan.
Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam bersabda,

ﺇﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﺭﻓﻴﻖ ﻳﺤﺐ ﺍﻟﺮﻓﻖ ﻭﻳﻌﻄﻲ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺮﻓﻖ ﻣﺎ ﻻ ﻳﻌﻄﻲ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻌﻨﻒ ﻭﻣﺎ ﻻ ﻳﻌﻄﻲ ﻋﻠﻰ ﻣﺎ ﺳﻮﺍﻩ

“Sesungguhnya Allah Maha Lembut serta mencintai kelembutan.
Dan Allah memberikan kepada sifat lembut yang tidak diberikan pada sifat kasar dan sifat lainnya”
(HR. Muslim: 2593)

C. Bahkan Kepada Orang Yang Paling Dzhalim

Allah memerintahkan Nabi Musa dan Harun 'alahimas salam untuk mendakwahi Fir’aun dengan lembut.

Allah Ta’ala berfirman.

ﺍﺫﻫﺒﺎ ﺇﻟﻰ ﻓﺮﻋﻮﻥ ﺇﻧﻪ ﻃﻐﻰ ﻓﻘﻮﻟﺎ ﻟﻪ ﻗﻮﻟﺎ ﻟﻴﻨﺎ ﻟﻌﻠﻪ ﻳﺘﺬﻛﺮ ﺃﻭ ﻳﺨﺸﻰ

“Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, karena dia telah berbuat melampui batas. Berbicaralah kepadanya dengan kata-kata yang lembut, mudah-mudahan ia mau ingat atau takut”
[QS Thaha : 43-44]

Berlemah lembutlah...
✓ Kepada anak agar nasehat lebih mudah diterima.
✓ Kepada Orang Tua sebagai bentuk bakti kita.
✓ Kepada seluruh makhluk, sebab kita pun senang bila diperlakukan dengan penuh kelembutan.

------------

* Berlibur Bukan Berarti Libur Baca al-Qur'an *

Senangnya menikmati libur bersama keluarga maupun orang tercinta.

Namun jangan lupa tetap membaca al-Qur'an ya...

Rasulullah shallallahu 'alahi wasallam bersabda,

 اِقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيْعًا لِأَصْحَابِهِ

"Bacalah Al-Qur’an, sesungguhnya ia  menjadi syafa'at bagi yang membacanya pada hari kiamat”
(HR Muslim no: 1871 dari Abu Umamah Al-Bahili radhiyyallahu 'anhu)

Bahkan bisa ditambah dengan membaca terjemahan al-Qur'an agar kita lebih memahami isinya.

-----------

* Berlindung Dari 4 Perkara *
(Ust Abu Khansa' Suharlan, Lc)

Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam bersabda,

“Apabila seorang dari kalian bertasyahud, maka hendaknya dia berlindung kepada Allah dari 4 perkara. Hendaknya dia mengucapkan:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ،
وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ،
وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ،
وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ...

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu
✓ dari siksa neraka Jahannam,
✓ dari siksa kubur,
✓ dari fitnah (cobaan) kehidupan dan fitnah setelah kematian, serta
✓ dari keburukan fitnah Ad-Dajjal”
(HR Muslim: 128, 588, Nasa'i: 1309, Abu Daud: 983, Ibnu Majah: 919)

Penjelasan hadits :
☑ (عذاب جهنم) :
Siksaan yang ada di dalam jahannam.
“العذاب”
Al-'Adzab artinya adalah segala sesuatu yang melemahkan manusia dan menyulitkannya.

Jadi, berlindung dari siksa jahannam mencakup juga berlindung dari amalan-amalan yang menjerumuskan ke dalamnya, dan berlindung dari siksanya jika terlanjur mengerjakan amalan-amalan yang menjerumuskan ke dalamnya.

Karena manusia berada antara dua keadaan:
(1).  Terlindungi dari dosa-dosa, maka di sini dia berlindung dari amalan-amalan dosa.
(2). Dimaafkan dari dosa-dosa, maka disini dia berlindung dari akibat amalan-amalan dosa tadi.

☑ (عذاب القبر) :
Pada hakikatnya setiap orang tidak mengetahui apakah apabila dia mati, dia akan dikubur...?

atau mungkin dia mati lalu dimakan binatang buas....?

atau bahkan dia mati terbakar hingga menjadi abu...?

☑ (فتنة المحيا) :
Segala yang di hadapi oleh manusia semasa hidupnya dari berbagai macam ujian, yaitu cobaan dunia, syahwat, kejahilan, dan kezhaliman.

☑ (فتنة الممات) :
Cobaan yang menimpanya pada saat kematian, yaitu agar dimudahkan untuk mengucapkan kalimat syahadat dan selamat dari sakarat maut.

☑ (فتنة المسيح الدجال):
Merupakan cobaan yang sangat dahsyat yang ada di muka bumi sejak terciptanya Adam sampai hari kiamat nanti.

(Shahih Dzikir dan Doa Shalat hal. 133-138)

------------

* Berlindung Dari Harta Haram *

Hendaknya kita senantiasa menjaga diri dari berbagai bentuk harta haram.

A. Akan Datang Masanya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيَأْ تِيَنَّ عَلَى النَّاسِ زِمَانٌ لاَ يَبَالِي الْمَرْءُ بِمَا أَخَذَ الْمَالَ أَمِنْ حَلاَلٍ أَمْ مِنْ حَرَامٍ

“Sungguh akan datang suatu zaman dimana seseorang tidak lagi peduli dia memperoleh harta, dari jalan yang halal ataukah dari yang haram...”
(HR. al-Bukhari: 2083)

B. Bila Mampu, Lakukanlah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ أَوَّلَ مَا يُنْتِنُ مِنَ اْإلاءِنْسَانِ بَطْنُهُ، فَمَنِ اسْتَطَاعَ أَنْ لاَيَأْكُلَ إِلاَّ طَيِّبًا فَليَفْعَلْ

“Sesungguhnya yang pertama kali busuk dari seorang insan adalah perutnya.

Maka barangsiapa yang mampu untuk tidak memakan melainkan yang baik maka hendaknya lakukanlah...”

(HR. al-Bukhari: 7152)


B. Senantiasa Berdoa dan Menasehati.

Sisipkan doa berikut disela doa yang Anda panjatkan,

اللَّهُمَّ اكْفِنِى بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنِى بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ

"Ya Allah, cukupkanlah aku dengan yang halal dariMu dan jauhkanlah aku dari yang Engkau haramkan.

Dan cukupkanlah aku dengan karuniaMu dan jauhkanlah dari bergantung pada selainMu)

(HR. Tirmidzi: 3563, Ahmad; Silsilah ash-Shahihah: 1/474)

Demikian pula, hendaknya kita tak bosan menasehati diri sendiri dan juga Ayah, Suami, Anak serta siapa pun yang akan mencari rezeki agar menjaga diri dari perkara haram.

Sebagaimana kebiasaan istri para pendahulu kita nan shalih tatkala mengantar suaminya yang hendak berangkat bekerja, mereka berkata,

"Bertakwalah kepada Allah dalam menjaga kami.
Janganlah engkau memberi makan kami dari yang haram.

Kami dapat bersabar saat lapar di dunia, namun kami tak mampu bertahan akan panasnya api neraka di akhirat.." (Mafatih Sa'adah Zaujiyyah)

Mari, ucapkan esok pagi dengan penuh kasih sayang.

--------------

* Semangat Bermanfaat *

Selepas berlibur cukup panjang, terkadang sebagian kita melemah semangat berbuat yang bermanfaat. Apalagi bila itu adalah rutinitas.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

"...  احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ..."

“...Bersemangatlah atas perkara yang bermanfaat bagimu. Minta tolonglah pada Allah, janganlah engkau lemah..." (HR. Muslim)

Perbuatan kita tidak terlepas dari 3 hal:
1. Perbuatan yang bermanfaat.
2. Perbuatan yang haram.
3. Perbuatan yang mubah (boleh-boleh saja)

Maka...
Saat menuntut ilmu, bersemangatlah..
Kala mencari nafkah halal, bersemangatlah...

"hidup di dunia hanya sekali, berbuatlah yang berarti..."

--------------

* Berobatlah Di Kala Sakit *

Saat ini sebagian saudara kita ada yang mengalami sakit. Baik berupa sakit kepala, flu, batuk, maupun sakit selainnya.

Hendaknya kita tidak menyandarkan penyakit disebabkan perubahan musim atau dampak dari cuaca tak menentu.

A. Allah Yang Maha Kuasa.
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

ﻣﺎ ﺃﻧﺰﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﻣﻦ ﺩﺍﺀ ﺇﻻ ﺃﻧﺰﻝ ﻟﻪ ﺷﻔﺎﺀ، ﻋﻠﻤﻪ ﻣﻦ ﻋﻠﻤﻪ ﻭﺟﻬﻠﻪ ﻣﻦ ﺟﻬﻠﻪ
“Tidaklah Allah menurunkan suatu penyakit melainkan Allah turunkan pula obat baginya.
Mengetahui bagi orang-orang yang tahu, dan tidaklah diketahui bagi orang yang tidak mengetahuinya...”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Maka, segala penyakit sesungguhnya Allah yang menurunkan. Bersamaan dengan obatnya pula.

B. Dengan Cara Dan Bahan Yang Halal.
Dari Abu Darda' radhiyallahu 'anhu secara marfu’

ﺇﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﺧﻠﻖ ﺍﻟﺪﺍﺀ ﻭﺍﻟﺪﻭﺍﺀ ﻓﺘﺪﺍﻭﻭﺍ ﻭﻻ ﺗﺪﺍﻭﻭﺍ ﺑﺤﺮﺍﻡ

“Sesungguhnya Allah menciptakan penyakit dan juga obatnya. Maka berobatlah kalian, dan jangan berobat dengan sesuatu yang haram”
(Hasan, Ash-Shahihah Al-Albani: 1633)

Cara berobat yang haram, misal: ke dukun, menggunakan bacaan-bacaan ajimat, dll.

Bahan obat yang haram, misal: alkohol, olahan babi dan anjing, dsb.

"Semoga dengan kesabaran di saat sakit menyapa, dapat menghapus dosa dan menaikkan derajat di surga..."

---------------------

* Diantara Pengobatan Syar'I *

Terdapat beberapa keterangan dari Ayat Al-Qur'an dan hadits Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam terkait pengobatan bagi si sakit.

Diantaranya:

A. Al-Habbatus sauda' (jintan hitam).

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

ﺍﻟﺤﺒﺔ ﺍﻟﺴﻮﺩﺍﺀ ﺷﻔﺎﺀ ﻣﻦ ﻛﻞ ﺩﺍﺀ ﺇﻻ ﺍﻟﺴﺎﻡ

“Al-Habbatus Sauda' (jintan hitam) merupakan obat bagi segala penyakit, kecuali as-saam yakni kematian...”
(HR. Al-Bukhari: 5687, Muslim: 5727)

B. Madu

Allah ta’ala berfirman,

ﻳﺨﺮﺝ ﻣﻦ ﺑﻄﻮﻧﻬﺎ ﺷﺮﺍﺏ ﻣﺨﺘﻠﻒ ﺃﻟﻮﺍﻧﻪ ﻓﻴﻪ ﺷﻔﺎﺀ ﻟﻠﻨﺎﺱ

“Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia.."
(QS An-Nahl: 69)

C. Bekam (Hijamah)

Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

ﺍﻟﺸﻔﺎﺀ ﻓﻲ ﺛﻠﺎﺛﺔ: ﺷﺮﺑﺔ ﻋﺴﻞ، ﻭﺷﺮﻃﺔ ﻣﺤﺠﻢ، ﻭﻛﻴﺔ ﻧﺎﺭ، ﻭﺃﻧﺎ ﺃﻧﻬﻰ ﻋﻦ ﺍﻟﻜﻲ – ﻭﻓﻲ ﺭﻭﺍﻳﺔ: ﻭﻻ ﺃﺣﺐ ﺃﻥ ﺃﻛﺘﻮﻱ

“Pengobatan terdapat pada tiga hal: meminum madu, berbekam, dan kay dengan api, namun aku melarang
kay”  (HR. Al-Bukhari: 5680)

Dalam riwayat lain: “Aku tidak senang berobat dengan kay..”

*kay yakni besi yang dipanaskan

D. Ruqyah.

Yaitu berupa bacaan dari ayat Al-Qur'an ataupun doa-doa yang telah diajarkan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam.

Baik dilakukan oleh si sakit maupun yang mengunjunginya.

Doa untuk Orang Sakit,

اللّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ اَذْهِبِ الْبَأْسَ اشْفِ فَأَنْتَ الشَّافيِ لاَ شِفَاءَ إِلاَّ شِفَاؤُكَ شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقَماً

“Ya Allah Wahai Tuhan segala manusia, hilangkanlah penyakit ini, sembukanlah.
(hanya) Engkaulah Dzat Yang Maha Menyembuhkan, tiada kesembuhan melainkan kesembuhan dari-Mu.
Kesembuhan yang tidak akan  kambuh lagi. (HR. Bukhari, Muslim)

Dapat pula dengan doa berikut,

أَسْأَلُ اللهَ الْعَظِيْمَ رَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ أَنْ يَشْفِيَكَ ×7

“Aku mohon kepada Allah Yang Maha Agung, Tuhan yang menguasai Arsy yang agung, agar menyembuhkan penyakitmu. 7x ...”
(HR. At-Tirmidzi, Abu Dawud, Shahihul Jami’ 5/180)

-------------

* Berpikir Ulang Sebelum Berucap *

Abu Musa al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu bertanya kepada Rasulullah,

"Wahai Rasulullah, Islam manakah yang paling mulia...?"

Beliau shallallahu'alaihi wasallam berkata,

"من سَلِمَ المسلمون من لسانه ويده".

"Seseorang yang kaum muslimin selamat dari (kejahatan) lisan dan tangannya..." (HR al-Bukhari: 11, Muslim: 42)

Imam an-Nawawi rahimahullahu ta'ala berkata,

وينبغي لمن أراد النطق بكلمة أو كلام، أن يتدبره في نفسه قبل نطقه، فإن ظهرت مصلحته تكلم، وإلا أمسك.

"Hendaknya seseorang yang hendak berucap dengan suatu kalimat atau perkataan agar merenungkan kembali dalam dirinya sebelum ia sampaikan.

Jika nampak terdapat kebaikan (dari ucapannya) maka ia ungkapkan.

Namun bila tidak (ada kebaikan) maka hendaknya ia diam.." (Syarh Shahih Muslim: 18/117)

Betapa banyak permusuhan yang terjadi akibat lisan yang tak terjaga.

Sekali terucap, tak mudah ditarik kembali.

Ucapan yang telah menyinggung kawan, walau sudah dimaafkan, terkadang tetap tersimpan..

Di hati dan sanubari...


Kumpulan BC dari Sahabat Ilmu

Kumpulan BC dari Sahabat Ilmu

* Antara Silaturrahim Dan Ziarah *

Makna silaturrahim berbeda dengan ziarah walau masing-masing memiliki keutamaan.

A. Keutamaan Silaturrahim

ﻣﻦ ﺳﺮﻩ ﺃﻥ ﻳﺒﺴﻂ ﻟﻪ ﻓﻰ ﺭﺯﻗﻪ ، ﻭﺃﻥ ﻳﻨﺴﺄ ﻟﻪ ﻓﻰ ﺃﺛﺮﻩ، ﻓﻠﻴﺼﻞ ﺭﺣﻤﻪ

"Barangsiapa yang senang dilapangkan rizki dan dipanjangkan umurnya hendaklah ia menyambung silaturrahim..." (HR. Bukhari: 5985, Muslim: 2557)

B. Hakikat

لَيْسَ الوَاصِلُ بِالمُكَافىءِ وَلَكِنْ الَوَاصِلُ الَّذِي إِذَا انقَطَعَتْ رَحِمَهُ وَصَلَهَا

"Bukanlah menyambung silaturrahim orang yang membalas perbuatan yang sepadan.

Namun dikatakan menyambung silaturrahim yaitu orang yang berusaha menyambungnya saat sebelumnya diputus oleh orang lain..." (HR Bukhari: 5991)

Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan,

"Silaturrahim adalah kepada kerabat yang memiliki hubungan nasab, baik mewarisi maupun tidak, mahram ataupun tidak..." (Fathul Bari, 10/414)

Adapun mengunjungi kawan, rekan sejawat, teman pengajian maka disebut Ziarah (berkunjung).

Walau masyarakat umum, mengidentikan ziarah dengan mengunjungi kuburan.

C. Keutamaan Ziarah

Kisah tentang seseorang yang hendak mengunjungi saudaranya di kota lain. Lalu Allah mengutus malaikat untuk menemuinya di jalan yang akan dilalui.

Setelah ditanyakan sebab-sebab duniawi tentang alasan kunjungannya dia menjawab,

"Tidak, aku hanya mencintainya karena Allah.

Malaikat itu berkata,"Sesungguhnya aku adalah utusan Allah untukmu. Allah sungguh mencintaimu karena kecintaanmu padanya...” (HR Muslim: 2567)

Dalam hadits Qudsi,

..وحقّت محبّتى للمتزاورين فىّ..
وحقّت محبّتى للمتصادقين فىّ والمتواصلِين

“...Sungguh Aku pun mencintai orang yang saling berkunjung karenaKu.

Sungguh aku mencintai orang yang saling bersedekah karenaKu demikian pula yang saling menyambung tali silaturrahim karenaKu..” (Shahih, HR Ahmad 5/229)

Maka sempatkanlah bersilaturrahim maupun berziarah.

Apabila belum sempat bertatap muka, setidaknya melalui sms, telepon, atau semisalnya.

Tentunya dengan mendasari perbuatan tersebut karena Allah semata.

-----------------

* Bangkrut *

Apabila di dunia saja kita berusaha menghindari kebangkrutan.

Tentu kelak di akhirat kita tidak ingin mengalami kebangkrutan.

Rasulullah shallallahu 'alihi wasallam bersabda,

أَتَدْرُوْنَ مَا الْمُفْلِسُ؟

“Tahukah kalian apakah orang yang bangkrut itu...?”

para sahabat berkata,

الْمُفْلِسُ فِيْنَا مَنْ لاَ دِرْهَمَ لَهُ وَلاَ مَتَاعَ

“Orang yang bangkrut diantara kami adalah dia yang tidak memiliki dirham dan tidak mempunyai perbendaharaan...”

Maka Rasulullah shallallahu 'alihi wa sallam menjelaskan,

إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلاَةٍ وَصِيَامٍ وَزَكاَةٍ وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا

“Orang yang bangkrut dari umatku yaitu orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa amalan shalat, puasa, dan zakat.

Dia datang dan dahulu mencela, menuduh, memakan harta seseorang, menumpahkan darah, dan memukul seseorang.

فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ

"Maka diambil ganjaran kebaikan-kebaikannya dan dibagikan kepada si fulan dan si fulan (yang di dzhalimi).

Jika ganjaran kebaikannya telah habis sebelum tuntas menebus perbuatan dzalimnya, maka diambil kesalahan-kesalahan mereka (yang di dzhalimi) lalu ditimpakan kepadanya kemudian ia dilemparkan ke neraka...”

(HR Muslim: 2581)

Sungguh...

Kerugian berkepanjangan...
Penyesalan tak berujung...

Mari perbaiki, selama kita masih berkesempatan menyelesaikan semuanya di dunia ini.

-------------------

* Bangun Tidur *

Masih bisa membaca postingan ini...? Bersyukurlah.

Sebab kita baru saja bangkit dari "kematian"

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman,

اللَّهُ يَتَوَفَّى الْأَنْفُسَ حِينَ مَوْتِهَا وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنَامِهَا فَيُمْسِكُ الَّتِي قَضَى عَلَيْهَا الْمَوْتَ وَيُرْسِلُ الْأُخْرَى إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى

“Allah mewafatkan jiwa (orang) ketika matinya dan (mewafatkan) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya.

Maka Dia tahan jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya (sehingga tidak bangun dari tidurnya) dan Dia melepaskan jiwa yang lain hingga waktu yang ditetapkan” (QS. Az-Zumar: 42)

Bukankah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam (dan kita juga) apabila beranjak tidur membaca:

بِاسْمِكَ اللَّهُمَّ أَمُوتُ وَأَحْيَا

“Dengan menyebut namaMu Ya Allah aku mati dan hidup..."

dan apabila bangun dari tidur berucap:

الْحَمْدُ للهِ الَّذِي أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُورُ

“Segala puji hanya milik Allah yang telah menghidupkan kami setelah mematikan kami. Dan kepadaNya tempat kembali...” (HR al-Bukhari: 6324, Muslim: 2711)

Pergunakan kesempatan bangun dari "kematian" sebelum saat kematian yang sesungguhnya mendatangi kita.

-------------------

* Bantu Hutang *

Hutang piutang, perkara yang kerap ditemui dalam kehidupan kita.

Hendaklah saat memberikan hutang dilandasi semangat membantu kesulitan saudaranya sesama muslim.

A. Allah Bantu.

Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam,

مَنْ كَانَ فِيْ حَاجَةِ أَخِيْهِ كَانَ اللهُ فِيْ حَاجَتِهِ

“Barangsiapa membantu keperluan saudaranya maka Allah akan membantu keperluannya...” (HR Bukhari: 2442, Muslim: 2580)

Karena orang hendak berhutang, adalah orang yang membutuhkan bantuan.

B. Separuh Sedekah.

Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam bersabda,

إنَّ السََّلَفَ يَجْرِي مَجْرَى شَطْرِ الصَّدَقَةِ

“Sesungguhnya memberikan hutang seperti kedudukan setengah sedekah.”
(Shahih, HR Ahmad, Abu Ya’la, as-Shahiihah: 1553)

Syaikh al-Albani rahimahullah berkata saat menjelaskan hadits diatas,

“Walaupun menghutangkan kepada saudara muslim memiliki keutamaan yang sangat mulia, tetapi perkara ini hampir hilang dari kaum muslimin.

Nyaris engkau tidak menemukan orang yang menghutangkan sesuatu kepadamu, melainkan dengan ganjaran berupa tambahan harga.

Maka jarang sekali engkau mendapatkan seorang pedagang yang menjual kepada dengan satu harga, baik engkau beli secara kontan maupun dengan kredit (tempo).

Sebagian besar pedagang akan menaikkan harga apabila engkau membeli secara kredit...”

-------------

* Bantulah Si Lemah, Doa Tulus Diterima *

Doa si "lemah" merupakan bantuan pertolongan dan pembuka pintu rizki bagi kita.

Lemah dalam artian kaum fakir, miskin, tertimpa kesedihan dan penderitaan serta semisalnya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

هَلْ تُنْصَرُوْنَ وَتُرْزَقُوْنَ إِلاَّ بِضُعَفَائِكُمْ؟

“Bukankah kalian ditolong (dimenangkan) serta diberi rizki melainkan dengan sebab orang lemah di antara kalian...?" (HR al-Bukhari: 2896)

Dalam riwayat lain dijelaskan,

إِنَّمَا يَنْصُرُ اللهُ هَذِهِ الأُمَّةَ بِضَعِيْفِهَا بِدَعْوَتِهِمْ، وَصَلاَتِهِمْ، وَإِخْلاَصِهِمْ

"Sesungguhnya Allah menolong umat ini dengan bantuan orang lemah diantara mereka,

Yaitu melalui doa, shalat, dan keikhlasan mereka..." (HR an-Nasa'i: 3178, ash-Shahihah: 2/409 al-Albani)

Sebab pertolongan Allah melalui si "lemah" bukan melalui zat fisik dan kedudukan mereka.

Namun melalui ungkapan terima kasih dan ketulusan doa..

Akan berbeda ketulusan doa dari mereka yang sangat membutuhkan uluran tangan dengan sebagian lainnya yang telah berkecukupan.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,

"Boleh jadi engkau tertidur tetapi puluhan doa naik ke langit untukmu.

Dari si fakir yang pernah engkau tolong...

Dari si lapar yang pernah engkau beri makan...

Dari si sedih yang pernah engkau hibur...

Dari si miskin yang pernah engkau bantu..."

Bila kita tak mampu membantu si lemah, maka jangan pernah mencibir dan mencela mereka...

----------------

* Banyak Ceramah Sedikit Ilmu *

Mengapa jaman para sahabat radhiyallahu 'anhum jauh lebih baik dari kita...?

Selain karena mereka langsung mendapat bimbingan Allah Subhanahu wa Ta'ala melalui ayat-ayat al-Qur'an yang turun langsung dan petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Diantaranya juga sabda Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam yang disampaikan kepada para sahabat,

إِنَّكُمْ أَصْبَحْتُمْ فِي زَمَانٍ كَثِيْرٍ فُقَهَاؤُهُ، قَلِيْلٍ خُطَبَاؤُهُ، قَلِيْلٍ سُؤَّالُهُ، كَثِيْرٍ مُعْطُوهُ، الْعَمَلُ فِيْهِ خَيْرٌ مِنَ الْعِلْمِ.

“Sesungguhnya kalian hidup di jaman yang:
✓ banyak ulama dan sedikit penceramah,
✓ sedikit peminta-minta dan banyak yang memberi (dermawan),

pada saat itu, beramal lebih baik dari berilmu.

وَسَيَأْتِي زَمَانٌ قَلِيْلٌ فُقَهَاؤُهُ، كَثِيْرٌ خُطَبَاؤُهُ، كَثِيْرٌ سُؤَّالُهُ، قَلِيْلٌ مُعْطُوهُ،الْعِلْمُ فِيْهِ خَيْرٌمِنَ الْعَمَلِ.


Dan akan datang suatu jaman yang:
✓ sedikit ulama dan banyak penceramah,
✓ banyak peminta-minta dan yang sedikit yang memberi,

pada saat itu, berilmu lebih baik dari beramal....”

(HR ath-Thabrani Mu’jam Kabir, as-Silsilah ash-shahihah: 3189 al-Albani)

Jadilah orang yang memberi tanpa harus diminta serta senantiasa haus akan ilmu.

Sebab pada jaman ini, berilmu lebih baik dari beramal. Maka jangan sampai beramal (bahkan menyebarluaskan) sesuatu tanpa dasar ilmu.

------------------

* Banyak Ceramah Sedikit Ilmu *

Mengapa jaman para sahabat radhiyallahu 'anhum jauh lebih baik dari kita...?

Selain karena mereka langsung mendapat bimbingan Allah Subhanahu wa Ta'ala melalui ayat-ayat al-Qur'an yang turun langsung dan petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Diantaranya juga sabda Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam yang disampaikan kepada para sahabat,

إِنَّكُمْ أَصْبَحْتُمْ فِي زَمَانٍ كَثِيْرٍ فُقَهَاؤُهُ، قَلِيْلٍ خُطَبَاؤُهُ، قَلِيْلٍ سُؤَّالُهُ، كَثِيْرٍ مُعْطُوهُ، الْعَمَلُ فِيْهِ خَيْرٌ مِنَ الْعِلْمِ.

“Sesungguhnya kalian hidup di jaman yang:
✓ banyak ulama dan sedikit penceramah,
✓ sedikit peminta-minta dan banyak yang memberi (dermawan),

pada saat itu, beramal lebih baik dari berilmu.

وَسَيَأْتِي زَمَانٌ قَلِيْلٌ فُقَهَاؤُهُ، كَثِيْرٌ خُطَبَاؤُهُ، كَثِيْرٌ سُؤَّالُهُ، قَلِيْلٌ مُعْطُوهُ،الْعِلْمُ فِيْهِ خَيْرٌمِنَ الْعَمَلِ.


Dan akan datang suatu jaman yang:
✓ sedikit ulama dan banyak penceramah,
✓ banyak peminta-minta dan yang sedikit yang memberi,

pada saat itu, berilmu lebih baik dari beramal....”

(HR ath-Thabrani Mu’jam Kabir, as-Silsilah ash-shahihah: 3189 al-Albani)

Jadilah orang yang memberi tanpa harus diminta serta senantiasa haus akan ilmu.

Sebab pada jaman ini, berilmu lebih baik dari beramal. Maka jangan sampai beramal (bahkan menyebarluaskan) sesuatu tanpa dasar ilmu.

---------------

* Barang Haram Bukan Obat *

Didapatkan dari kaum Muslimin berobat dengan barang haram.
Bolehkah..?!

A. Sejatinya Penyakit.
Tidak boleh berobat dengan khamr dan barang haram lainnya.

Thariq bin Suwaid Al-Ju’fiy radhiyallahu 'anhu bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang khamr. Beliau pun melarang khamr.

Kemudian Thariq berkata:
“Saya hanya menggunakannya sebagai obat”

Beliau bersabda,

.إنه ليس بدواء ولكنه داء

“Sesungguhnya ia bukanlah obat justru merupakan penyakit...” (HR Ahmad, Muslim Kitab Asyribah:12)

B. Setiap Penyakit Ada Obatnya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إن الله أنزل الداء وأنزل الدواء وجعل لكل داء دواء فتداووا ولا تداووا بحرام

“Sesungguhnya Allah menurunkan penyakit dan menurunkan pula obatnya. Dan Allah menjadikan ada obat untuk setiap penyakit.

Maka berobatlah dan jangan berobat dengan perkara haram...!” (HR Abu Dawud Kitab Thibb: 3874)

Obat penyakit terkadang diketahui sebagian orang, namun tidak diketahui oleh lainnya.

Adakalanya ada syarat kesembuhan yang tidak terpenuhi (si sakit) atau adanya penghalang.

Satu yang harus dan pasti...
Jagalah diri dari perkara haram, baik haram zatnya maupun haram cara memperolehnya.

-----------------

* Barang Palsu *

Islam telah mengatur seluruh aspek kehidupan, termasuk dalam bermuamalah dan berjual beli.

Islam pun menjaga kemuliaan akal dan hasil usaha pemikiran, karena itu hak cipta dilindungi.

A. Cara Batil.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلاَّ أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian saling memakan harta sesama dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku atas dasar saling suka diantara kalian..." (QS. An-Nisa': 29)

Termasuk harta berharga seseorang adalah hasil pemikirannya yang diwujudkan dalam produk tertentu, semisal: desain, merk, dan lainnya.

B. Menipu Orang Lain.

Bukankah ia tidak ingin bila karyanya dibajak orang...?

Tidakkah ia benci saat mendapatkan barang ternyata palsu, bukan seperti yang diangankan..?

Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam memperingatkan,
مَنْ غَشَّ فَلَيْسَ مِنِّي

"Barangsiapa yang menipu maka dia bukan dari golonganku...” (HR. Muslim: 102)

Barang palsu dan bajakan pada asalnya adalah penipuan keji.

Wajib bagi kita menghindari...

Ingat....
Harta kita ditanya dari dua arah: darimana diperoleh dan kemana dihabiskan...

Jangan abaikan barakah harta.

-------------------

* Batas hari Jum'at adalah hingga matahari terbenam *

gembira di hari raya boleh saja...
kumpul bersama keluarga tidak mengapa...

Namun jangan lupa, sunnah-sunnah di hari Jum'at.
Membaca surat al-Kahfi, berdoa setelah Ashr dan perbanyak shalawat...

Mari manfaatkan waktu yang tersisa...

Jangan sampai asyik mereguk nikmat Allah tapi lupa bersyukur padaNya.

----------------

* Batas Kesabaran *

Termasuk faidah diutusnya Rasul dari kalangan manusia adalah agar kita mencontoh.

Bila diutus dari kalangan malaikat, mungkin sebagian kita akan berkilah,

"Aah.. terang aja itu khan malaikat, bukan manusia..."

Demikian pula perihal kesabaran, maka tirulah sabarnya para Rasul.

A. Arab Badui.

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bertutur,

"Suatu ketika aku pernah berjalan beriringan dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang pada saat itu mengenakan selendang tebal lagi kasar dari Najran.

"Tak lama kemudian, seorang Arab Badui datang dan menarik beliau dengan sangat keras sampai-sampai terlihat bekas tarikan itu di pundak Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Orang Badui itu berkata,

مُرْ لِي مِنْ مَالِ اللَّهِ الَّذِي عِنْدَكَ

“Berikanlah padaku harta Allah yang berada padamu...”

Lalu beliau memandang Arab Badui itu seraya tertawa.

Kemudian beliau memberikan sesuatu kepada orang itu...” (HR. al-Bukhari: 5809, Muslim: 1057)

B. Doakan.

Tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengalami beratnya penderitaan atas ujian yang beliau dakwahkan kepada suatu kaum.

Maka malaikat gunung memanggil, memberi salam kepada beliau dan berkata,

يَا مُحَمَّدُ...  إِنْ شِئْتَ أَنْ أُطْبِقَ عَلَيْهِمْ الْأَخْشَبَيْنِ

“Wahai Muhammad.. Jika engkau menghendaki, akan aku timpakan kepada mereka dua gunung Akhsyab”

Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

بَلْ أَرْجُو أَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ مِنْ أَصْلَابِهِمْ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ وَحْدَهُ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا

“Jangan, bahkan aku berharap kelak Allah akan mengeluarkan dari anak keturunan mereka, orang yang memurnikan penyembahan Allah semata dan tidak menyekutukanNya dengan sesuatu apapun...”

(HR. Al-Bukhari: 2312, Muslim: 1795)

Tatkala seseorang berucap bahwa sabar ada batasnya, maka sesungguhnya pada saat yang sama ia pun sebenarnya tidak tahu dimanakah batas kesabaran itu...

----------------

* Batas Waktu Tidur *

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,

"Empat perkara yang dapat membuat hati menjadi keras:

1. Berlebihan dalam berbicara.

2. Berlebihan dalam makan.

3. Berlebihan dalam tidur.

4. Berlebihan dalam bergaul.

(Fawaidul Fawaid: 262)

Ibnu Jama'ah rahimahullah tatkala menjelaskan tentang adab penuntut ilmu berkata,

"Hendahlah menyedikitkan tidur selama tidak mendatangkan keburukan pada badan dan otak.

Jangan menambah waktu tidur melebihi delapan jam, yakni sepertiga waktunya dalam sehari.

Bila memungkinkan untuk bisa tidur kurang dari waktu tersebut, maka lakukanlah..."

(Tadzkiratus Sami' : 124-125)

Perhatikan baik-baik kebutuhan waktu tidur kita.

Kurangnya membawa keburukan bagi badan...

berlebihnya membuat jiwa lemas dan hati pun mengeras...

-----------------

* Bayarlah Hutang (Puasa) Terlebih Dahulu *

Hendak bersedekah namun memiliki hutang yang harus dilunasi, maka bayarlah terlebih dahulu.

Ingin membagi warisan, tetapi sang mayit mempunyai hutang maka bayarlah terlebih dahulu.

Demikian pula dengan berpuasa.

Sebelum melaksanakan puasa sunnah 6 hari di bulan Syawwal, seyogyanya menyelesaikan qadha' hutang puasa yang tertunda.

A. Wajib Dibayar.

Tatkala seseorang menjumpai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bertanya,

“Wahai Rasulullah, sesungguhnya ibuku telah wafat dan ia masih berhutang sebulan puasa.

Haruskan aku membayarkan
qadha’ pengganti puasa atas diri ibuku...?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَوْ كَانَ عَلَى أُمِّكَ دَيْنٌ أَكُنْتَ قَاضِيَهُ عَنْهَا. قَالَ نَعَمْ

“Bila saja ibumu memiliki hutang, akankah engkau melunasinya...?”

“Iya tentu..” jawabnya

Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
فَدَيْنُ اللَّهِ أَحَقُّ أَنْ يُقْضَى

“Hutang kepada Allah lebih berhak untuk dilunasi...” (HR. al-Bukhari: 1953, Muslim: 1148)

B. Beriringan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

"Barangsiapa berpuasa Ramadhan kemudian mengikutinya dengan puasa enam hari di bulan Syawwal, maka ia laksana berpuasa setahun penuh..." (HR Muslim: 1164)

Disebutkan berpuasa (penuh) Ramadhan kemudian diikuti puasa Syawwal.

Bukan "sebagian" puasa Ramadhan lalu berlanjut puasa Syawwal.

Maka dahulukan yang wajib barulah yang sunnah.

• Puasa Syawwal:

✓selesaikan dulu hutang puasa Ramadhan bila ada

✓boleh berurutan, berselang pun tidak mengapa

Meski demikian, ada ulama' yang membolehkan mendahulukan berpuasa Syawwal baru kemudian membayar hutang puasa Ramadhan.

Diantaranya sebab "sempitnya" waktu Syawwal.

Wallahu a'lam...

Bila di saat Ramadhan mudah diri ini berpuasa, mengapa ketika Syawwal berat untuk kita melaksanakannya...?!
* Bayarlah Hutang (Puasa) Terlebih Dahulu *

Hendak bersedekah namun memiliki hutang yang harus dilunasi, maka bayarlah terlebih dahulu.

Ingin membagi warisan, tetapi sang mayit mempunyai hutang maka bayarlah terlebih dahulu.

Demikian pula dengan berpuasa.

Sebelum melaksanakan puasa sunnah 6 hari di bulan Syawwal, seyogyanya menyelesaikan qadha' hutang puasa yang tertunda.

A. Wajib Dibayar.

Tatkala seseorang menjumpai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bertanya,

“Wahai Rasulullah, sesungguhnya ibuku telah wafat dan ia masih berhutang sebulan puasa.

Haruskan aku membayarkan
qadha’ pengganti puasa atas diri ibuku...?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَوْ كَانَ عَلَى أُمِّكَ دَيْنٌ أَكُنْتَ قَاضِيَهُ عَنْهَا. قَالَ نَعَمْ

“Bila saja ibumu memiliki hutang, akankah engkau melunasinya...?”

“Iya tentu..” jawabnya

Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
فَدَيْنُ اللَّهِ أَحَقُّ أَنْ يُقْضَى

“Hutang kepada Allah lebih berhak untuk dilunasi...” (HR. al-Bukhari: 1953, Muslim: 1148)

B. Beriringan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

"Barangsiapa berpuasa Ramadhan kemudian mengikutinya dengan puasa enam hari di bulan Syawwal, maka ia laksana berpuasa setahun penuh..." (HR Muslim: 1164)

Disebutkan berpuasa (penuh) Ramadhan kemudian diikuti puasa Syawwal.

Bukan "sebagian" puasa Ramadhan lalu berlanjut puasa Syawwal.

Maka dahulukan yang wajib barulah yang sunnah.

• Puasa Syawwal:

✓selesaikan dulu hutang puasa Ramadhan bila ada

✓boleh berurutan, berselang pun tidak mengapa

Meski demikian, ada ulama' yang membolehkan mendahulukan berpuasa Syawwal baru kemudian membayar hutang puasa Ramadhan.

Diantaranya sebab "sempitnya" waktu Syawwal.

Wallahu a'lam...

Bila di saat Ramadhan mudah diri ini berpuasa, mengapa ketika Syawwal berat untuk kita melaksanakannya...?!

---------------

* Beberapa Catatan Yang Berkenaan Dengan Udhhiyah (hewan kurban) *

1. Bilamana seseorang menyembelih udhhiyah, maka amalan itu telah mencakup pula seluruh anggota  keluarganya.

2. Boleh bergabung tujuh orang pada satu udhiyah yang berupa unta atau sapi.

3. Diperbolehkan bagi yang berkurban untuk memakan sebagian dari daging sembihan kurbannya. Dan dianjurkan untuk membagikan udhhiyah kepada sanak saudara, tetangga dan fakir miskin.

4. Diperbolehkan untuk memindahkan hewan kurban ke tempat atau ke negeri lain selama tidak ada kerusakan yang timbul karenanya.

5. Tidak diperbolehkan menjual kulit dan daging sembelihan.

6. Tidak boleh memberikan kepada penjagal (tukang sembelih) upah dengan daging tersebut dan apabila hendak memberi upah hendaknya memberi upah dari selainnya.

7. Dianjurkan bagi yang mampu untuk menyembelih sendiri hewan kurbannya.

8. Barang siapa yang bermaksud untuk berkurban maka dilarang baginya memotong kuku dan rambutnya atau bulu yang melekat di badannya sejak masuk tanggal 1 Dzul Hijjah.
Namun jika ia memotongnya, maka tidak ada kaffarah (denda) baginya, namun hendaknya ia beristigfar kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala, dan hal ini tidak menghalanginya untuk berkurban. Larangan tersebut khusus bagi pemilik hewan sembelihan tidak termasuk keluarganya baik istri maupun anak, kecuali jika salah satu dari mereka memiliki kurban lain tersendiri, dan tidak mengapa membasuh kepala atau menggaruknya meskipun hal itu menyebabkan beberapa helai rambut tercabut.

9. Hendaknya menyembelih dengan pisau, parang (atau sejenisnya) yang telah dipastikan tajam agar tidak menyiksa hewan sembelihan.

10. Seorang wanita boleh menyembelih hewan kurban.

Sumber:

"Meraih Bahagia di Dua Bulan Mulia, Ramadhan Dan Dzulijjah"

Buku Gratis, dibagikan cuma-cuma.

buah pena: Ust Rizal Yuliar, Lc (alumnus Univ Islam Madinah, jurusan hadits)

-----------------

* Beda Alhamdu Dan Asy-Syukru *

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata,

"Alhamdu (pujian) mengandung makna sanjungan kepada orang yang dipuji dengan menyebutkan kebaikan-kebaikannya, baik dia pernah berbuat baik kepada orang yang memuji maupun tidak.

Sedangkan asy-syukru tidaklah dilakukan kecuali disebabkan kebaikan orang yang diucapkan syukur padanya.

Maka alhamdu lebih umum dari asy-syukru, karena ia dilakukan atas kebaikan yang terjadi tanpa dikehendaki maupun perbuatan baik yang dilakukan dengan pilihan kehendak.

Karenanya Allah Subhanahu wa Ta'ala senantiasa terpuji atas segala sesuatu...."

(Fiqhul Ad'iyyah wal Adzkar Syaikh Abdurrozzaq al-Badr)

Pemilahan kata yang menakjubkan...

Sungguh indah Bahasa Arab, bahasa yang digunakan dalam al-Qur'an.

Yuks bersemangat mempelajari Bahasa Arab agar lebih memahami dan merasakan keindahan Agama Islam.

------------------

* Beda Iblis Dan Setan *

Tahukah kita apakah perbedaan iblis dan setan...?

A. Iblis

Allah 'Azza wa Jalla telah menegaskan bahwa iblis berasal dari golongan jin dalam firmannya,

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلاَئِكَةِ اسْجُدُوا لآدَمَ فَسَجَدُوا إِلاَّ إِبْلِيْسَ كَانَ مِنَ الْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِ

“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam!"

Maka mereka pun sujud kecuali iblis. Dia adalah dari golongan jin, lalu ia mendurhakai perintah Rabbnya” (QS al-Kahfi: 50)

Iblis itu pemuka setan.

B. Setan.

Adapun setan, bisa terdiri dari golongan jin dan juga manusia, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِيْنَ اْلإِنْسِ وَالْجِنِّ...

“Dan demikianlah bagi setiap nabi Kami menjadikan musuh, yang terdiri dari setan (jenis) manusia dan jin..." (QS al-An’am: 112)

"Allah menjadikan setan berasal dari jenis manusia, seperti halnya setan dari jenis jin. Dan setiap yang durhaka dikatakan sebagai setan, karena akhlak dan amalannya menyelisihi akhlak dan amalan makhluk sejenis, dan disebabkan jauhnya dia dari kebaikan.." (Tafsir Ibnu Jarir: 1/49)

"Syaithan adalah semua yang keluar darinya perangai keburukan..." (Tafsir Ibnu Katsir: 2/127)

Ayat serupa yang menerangkan bahwa setan terdiri dari jenis jin dan manusia dapat dijumpai dalam surat an-Naas.

Karena iblis dan bala tentaranya merupakan musuh yang nyata, maka mari kita lawan jangan malah dijadikan kawan.

Kita khan pasti tidak ingin menemani iblis di neraka...?

-----------------

* Beginilah Mereka Merusak Islam *

Banyak cara dari musuh-musuh Islam dalam merusak Agama ini. Diantaranya dengan menyebarkan hadits-hadits palsu.

A. Zindiq (orang yang berpura-pura ber-Islam)

"Ketika Ibnul Awjaa' (zindiq) ditangkap dan hendak dipenggal kepalanya oleh pemimpin Basrah, dia berkata:

"Aku telah membuat hadits palsu di tengah-tengah kalian sebanyak 4.000 hadits. Aku haramkan di dalamnya sesuatu yang halal, dan aku halalkan sesuatu yang haram..."

B. Hawa Nafsu Yang Menyimpang

Ibnu Yazid Al-Muqriy (guru Imam Malik) menceritakan,

”Sesungguhnya ada seorang
lelaki yang menyimpang dari ajaran Islam kemudian rujuk (kembali sadar) dari penyimpangannya berkata:

”Perhatikanlah hadits itu dari siapa kamu mengambilnya...!

Karena sesunggunya kami dahulu apabila berpendapat dengan satu pendapat, maka kami jadikan pendapat kami itu sebagai satu hadits (yakni kami palsukan menjadi hadits)...”

Dan banyak lagi pengakuan dari mereka yang telah memalsukan hadits Nabi.

Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un.

Walhamdulillah, senantiasa ada para ulama' ahli hadits yang memilah dan memilih hadits yang shahih dari yang lemah dan palsu.

Bagi Anda yang hendak membaca kumpulan hadits shahih, yang termudah dapat merujuk kepada Shahih Bukhari dan Shahih Muslim.

Atau kitab yang mengumpulkan hadits pada keduanya, diantaranya "al-Lu'lu wal Marjan"

Seluruh kitab di atas telah ada terjemahannya dalam Bahasa Indonesia.

-----------------

* Bekal Bepergian *

Libur panjang, hendak bepergian...?

Barang apa saja yang akan kita bawa...?

Pakaian sesuai kebutuhan...
Peralatan kebersihan diri seperlunya...

Kita tak akan membawa kulkas, dispenser, dan perabot rumah.

Tentu berharap seringkas mungkin.

Karena kita tahu, bepergian kita hanya sementara dan (berharap) kembali ke rumah asal.

A. Layaknya Orang Bepergian.

Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيْبٌ, أَوْ عَابِرُ سَبِيْلٍ

“Hiduplah engkau di dunia seakan-akan sebagai orang asing atau orang bepergian...” (HR. al-Bukhari: 6416)

Demikian halnya kehidupan kita di dunia. Kelak kita pun akan kembali ke rumah abadi di akhirat.

B. Bekal Amal.

Sebagai bekal perjalanan, mana yang kita pilih, membawa setumpuk uang atau cukup kartu ATM...?

Hendaklah demikian pula kita bersikap dalam mengumpulkan bekal di dunia ini.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَتْبَعُ الْمَيِّتَ ثَلاَثَةٌ: أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ، فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى وَاحِدٌ، يَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَيَبْقَى عَمَلُهُ

“Tiga perkara yang akan mengikuti mayat (ke kubur): keluarga, harta, dan amalnya.

Maka akan kembali dua dan menetap bersamanya satu.

Keluarga dan hartanya akan kembali (meninggalkannya) dan menetap bersamanya hanyalah amal...”

(HR. al-Bukhari, Muslim)

Bawalah seperlunya dan yang bermanfaat saja 'tuk bekal akhirat.

Amal shalih yang berlandaskan ilmu.

---------------

* Bekal Haji *

Tatkala hendak berhaji, kaum muslimin yang melaksanakan, pasti mempersiapkan bekal.

Ada yang berupa aneka makanan, pakaian, dan lainnya.

A. Takwa Sebaik-baik Bekal.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman,

الْحَجُّ أَشْهُرُُ مَّعْلُومَاتُُ فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلاَ رَفَثَ وَلاَ فُسُوقَ وَلاَ جِدَالَ فِي الْحَجِّ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللهُ

"(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya.

وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَاأُوْلِي اْلأَلْبَابِ

Berbekal-lah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepadaKu wahai orang-orang yang berakal" (QS Al-Baqarah: 197)

B. Berlipat Ganda Pahala Dan Dosa.

Sebagai penjelas firman Allah,

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ

”Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi.
Di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kalian mendzahalimi diri dalam bulan yang empat itu” (QS. At Taubah: 36)

Ibnu ’Abbas radhiyallahu 'anhuma berkata,

”Allah mengkhususkan empat bulan tersebut sebagai bulan haram, sebagai bulan suci.

Melakukan maksiat pada bulan haram tersebut dosanya akan lebih besar, dan amalan shalih yang dilakukan didalamnya akan menuai pahala lebih banyak...” (Lathaiful Ma’arif: 207)

Di Bulan Haram (Dzulhijjah) dan di Dua Tanah Haram (Makkah Madinah)

Sebagaimana ganjaran amalan kebajikan dilipatgandakan, balasan perbuatan buruk pun lebih besar dosanya.

Jangan diremehkan...!!

---------------

* Bekal Safar Secara Benar *

Berikut beberapa "bekal" berupa doa dan perihal lainnya bagi Anda yang akan maupun sedang bepergian (safar).

A. Bekal Safar.

Anas radhiyallahu’anhu berkata, "Seorang lelaki yang datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian berkata, “Wahai Rasulullah, saya hendak safar. Berilah saya bekal”

Beliau menjawab,

زودك الله التقوى

“Zawwadakallahut taqwa (semoga  Allah membekalimu takwa)”

Lalu dia berkata, “Tambahkan lagi bekal untukku.” Beliau menjawab,

وغفر ذنبك

“Wa ghafara dzanbaka (semoga Allah mengampuni dosamu)”

Dia berkata lagi,“Tambahkan lagi bekal untukku, Ayah dan Ibuku sebagai tebusan bagimu”

Beliau menjawab,

ويسر لك الخير حيثما كنت

“Wa yassara lakal khayra haitsuma kunta" (semoga Allah senantiasa memudahkan kebaikan untukmu di mana pun engkau berada)”
(HR. Tirmidzi, Hakim, Ibnu Hibban, Shahihul Jami': 3579)

Sungguh bekal yang indah. Sebaik-baik bekal adalah takwa, menjaga diri di perjalanan.

B. Doa Saat Berpisah,
yaitu sebelum melaksanakan safar.

Qoza'ah berkata, Ibnu Umar radhiyallahu ’anhuma berkata kepadaku, “Kemarilah, akan kulepas kepergianmu sebagaimana saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melepas kepergianku (dengan doa)

ﺃﺳﺘﻮﺩﻉ ﺍﻟﻠﻪ ﺩﻳﻨﻚ ﻭﺃﻣﺎﻧﺘﻚ ﻭﺧﻮﺍﺗﻴﻢ ﻋﻤﻠﻚ

"Astaudi’ullaha diinaka wa amaanataka wa khawaatima ‘amalik"
(Aku titipkan kepada Allah pemeliharaan agamamu, amanatmu, dan akhir penutup amalmu)”
(HR. Abu Dawud, Shahih Sunan Abu Dawud: 7/353)

C. Doa Apabila Singgah di Suatu Tempat.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Barangsiapa yang singgah di suatu tempat kemudian dia berdoa:

أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ

“Aku berlindung dengan kalimat Allah yang sempurna dari kejelekan makhluk yang Engkau ciptakan”

(maka) tidak akan ada sesuatupun yang dapat memudharatkan hingga ia berlalu dari tempat tersebut” (HR Muslim)

Semoga Allah senantiasa menaungi perjalanan Anda dan kembali ke rumah dalam limpahan rahmat dan barakahNya..

----------------

* Bekal Ujian Sekolah Tuk Buah Hatiku *

Wahai buah hati Bunda...

Berbekallah dalam menjalani Ujian sekolah dengan bekal takwa. Bila engkau bersungguh-sungguh, niscaya Allah membantumu.

Duhai penyejuk mata Ayah...

Jujurlah dalam mengerjakan soal. Jangan kau buat jiwamu gelisah, sebab itulah tanda dosa.

الْإِثْمُ مَا حَاكَ فِي نَفْسِكَ وَكَرِهْتَ أَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِ النَّاسُ

“Dosa adalah sesuatu yang membuat resah jiwa dan engkau tidak suka jika hal itu diketahui oleh orang lain...” (HR Muslim: 4633)

Ketahuilah, wahai belahan hatiku...
Ilmu itu adalah apa yang ada di dada, bukan nilai ujian semata.

Apalah gunanya mendapat nilai baik dari hasil kecurangan, namun kemudian dikeluarkan dari golongan Nabi kita nan mulia, Muhammad shallallahu'alaihi wasallam

مَنْ غَشَّنَا فَلَيْسَ مِنَّا

“Barangsiapa yang berbuat curang, maka ia bukan termasuk golongan kami...” (HR Muslim:146).

Camkanlah bagimu duhai darah dagingku...

Bila berdusta saat ujian, maka nilai yang engkau peroleh merupakan persaksian palsu.

Selama nilai itu tercantum dalam raportmu, kedustaan itu senantiasa melekat.

Panutan kita, Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam mengingatkan,

“Maukah aku kabarkan kepada kalian dosa-dosa besar yang paling besar...?”

-beliau mengucapkannya sebanyak tiga kali-

الْإِشْرَاكُ بِاللَّهِ وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ وَشَهَادَةُ الزُّورِ أَوْ قَوْلُ الزُّورِ

“Berbuat syirik kepada Allah, durhaka kepada kedua orang tua, persaksian palsu atau perkataan dusta..” (HR. Muslim: 126)

Dan bisa jadi, saat nilai itu kelak kau bawa dalam mencari kerja. Engkau termasuk memakan dari jalan haram.

Hingga darah dan daging pun akan mengalir perkara haram.

Doa tertolak, barakah lenyap, tiada lagi rahmat Allah yang hinggap.

Jauhi berbuat curang ya Nak...!!

------------------

* Belajar Nasab & Bersilaturrahim *

Apakah kita mengetahui silsilah nasab keluarga...?

Hingga berapa jalur ke atas dan ke bawah...?

Alih-alih sibuk bekerja dan merantau, hingga nasab pun tak lagi terpantau.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

تَعَلَّمُوْا مِنْ أَنْسَابِكُمْ مَا تَصِلُوْنَ بِهِ اَرْحَامَكُمْ، فَإِنَّ صِلَةَ الرَّحِمِ مَحَبَّةٌ فِيْ الأْهْلِ، مُشَرَّاةٌ فِيْ الْمَالِ، مُنْسَأَةٌ فِيْ الْعُمْرِ

"Pelajarilah nasab-nasab kalian agar dapat menyambung silaturrahim.

Karena sesungguhnya silaturrahim menimbulkan kecintaan terhadap keluarga, menjadi sebab banyaknya harta dan bertambahnya usia..."

(Shahih at-Tirmidzi: 2/190 Al-Albani)

Agar kita mengetahui siapa mahram kita...

Supaya tidak terluput karib keluarga 'tuk dikunjungi juga...

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِيْ رِزْقِهِ، وَيُنْسَاَ لَهُ فِيْ أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ

"Barangsiapa yang suka dilapangkan rizki dan dipanjangkan usia, hendaklah ia menyambung silaturrahim..." (HR Bukhari: 5986)

Yuks kunjungi karib keluarga...

---------------

* Belenggu Setan Di Bulan Ramadhan, Mengapa Masih Ada Maksiat..? *

Mungkin itu yang terlintas di benak kita,

Padahal Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam bersabda,

إِذَا دَخَلَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ جَهَنَّمَ ، وَسُلْسِلَتْ الشَّيَاطِين


"Apabila telah masuk bulan Ramadhan, maka pintu-pintu surga dibuka, pintu jahanam ditutup, dan setan-setan dibelenggu..." (HR. Bukhari: 2277, Muslim: 1079)

Dalam riwayat lain disebutkan,

وَتُغَلُّ فِيهِ مَرَدَةُ الشَّيَاطِينِ

'Dan setan pembangkang diikat' (HR an-Nasa'i: 2106)

Beberapa penjelasan atas makna "setan dibelenggu" diantaranya:

1. Kemampuan setan berkurang dalam menggoda hamba yang berpuasa apabila dia memperhatikan syarat-syarat dan adab-adabnya

2. Yang diikat adalah setan pembangkang, bukan seluruh setan.

3. Bisa juga bermakna bahwa yang dibelenggu itu hanyalah sebagian setan, yaitu para pembesar setan bukan seluruhnya, sebagaimana sebagian riwayat hadits.

4. Bukan berarti tidak ada pengaruh setan sama sekali, namun pengaruh setan menjadi lemah dan tidak mampu melakukan seperti di luar Ramadhan.

5. Bila pun seluruh setan diikat, bukan berarti tidak akan terjadi keburukan dan kemaksiatan. Sebab dapat saja terjadi dari selain setan, seperti keburukan jiwa, kebiasaan jelek atau sebab setan dari jenis manusia...." (Fathul Bari, Ibnu Hajar rahimahullah)

Layaklah bila dikatakan,

“Tatkala setan telah dibelenggu dari menggoda manusia, maka jangan lagi kalian menjadikan setan sebagai alasan tatkala meninggalkan ketaatan dan
melakukan kemaksiatan...“

Kumpulan BC dari Sahabat Ilmu

Kumpulan BC dari Sahabat Ilmu

* 10 Menit Tersisa *

Apakah yang akan dilakukan dari 10 menit yang tersisa...?

Masih pegang nikmat teknologi BB ini?
Semoga sudah membaca dzikir petang ya..?!

Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang memasuki waktu pagi mengucapkan

"لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ"

"Tiada tuhan (yang berhak disembah) kecuali Allah semata tiada sekutu bagiNya. Hanya milikNya segala kerajaan. Hanya milikNya segala pujian, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu"

Maka ucapan tadi menyamai (pahala) membebaskan budak dari keturunan Ismail, akan dituliskan baginya 10 kebaikan, dihapuskan darinya 10 kejelekan, diangkat baginya 10 derajat, dan dia dalam penjagaan dari setan sampai memasuki waktu petang.

Dan bila dia mengucapkan ketika memasuki waktu petang maka mendapatkan sama sepertinya sampai pagi hari”

(Shahih, HR Abu Daud: 5077, Ibnu Majah: 3867, Ahmad: 4 / 60, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 6418)

Imam an-Nawawi berkata, "ketahuilah, bahwa dzikir pagi dan petang sangat banyak sekali..

..Barangsiapa yang tidak mampu mengamalkan seluruhnya, maka cukup yang ringkas saja sesuai dengan keinginannya walaupun hanya satu jenis dzikir" (Al Adzkaar:1/174)

10 menit tersisa bisa dimanfaatkan untuk kebaikan, kesia-siaan, atau malah keburukan -na'udzubillah-

Bermuhasabah-lah (introspeksi diri).

Bayangkan bila tersisa 10 menit jelang ajal, apakah kita akan melakukan seperti yang kita jalani sekarang...?!

---------------

* 24 Jam Sama, Kemampuan Memanfaatkan Yang Membedakan *

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

نِعْمَتَانِ مَغْبُوْنٌ فِيْهِمَا كَثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَةُ وَالْفَرَاغُ

“Ada dua nikmat yang kebanyakan orang tertipu padanya: Kesehatan dan waktu luang.” (HR. Al-Bukhari: 6412)

A. Pagi Hari.

Hasan al-Bashri rahimahullah berkata,

"Tidaklah satu hari yang dilalui anak Adam melainkan ia berkata: "Wahai anak Adam, aku adalah hari yang baru. Apapun yang engkau lakukan maka aku menyaksikan.

Jika aku pergi maka aku tak akan kembali.

Lakukanlah apa yang ingin kau lakukan karena imbalannya akan diberikan dihadapanmu.

Tundalah sekehendakmu, namun ingatlah bahwa kesempatan itu tidak akan kembali padamu.."

(Arsyif Multaqa Ahlil Hadits: 119585, Syamilah)

B. Siang Hari.

Amir bin Abdul Qais rahimahullah berkata kepada seseorang yang mengajaknya berbincang-bincang, "Tahanlah matahari bila engkau mampu.."

*maksudnya jika waktu dapat dihentikan, baru kita berbincang.

C. Malam Hari.

Imam Bukhari tidur di atas tikarnya. Bila terlintas di benaknya sebuah masalah beliau bangun dari tidurnya. Mengambil korek api dan menyalakan lampu kemudian menulis hadits dan memberinya tanda.

Ketika beliau menaruh kepalanya untuk tidur terlintas kembali di hatinya suatu masalah. Sekali lagi beliau menyalakan lampu kemudian menulis haditsnya dan memberinya tanda.

Hal ini beliau lakukan 15-20 kali dalam semalam.

Demikian para ulama memanfaatkan waktunya. Jatah waktu mereka sama dengan kita, sehari 24 jam.

Kepandaian memanfaatkan waktu yang membedakan.

---------------

* 3 Bagian Mukmin *

Berkata Yahya bin Mu'adz rahimahullah,

ليكن حظ المؤمن منك ثلاثة:

إن لم تنفعه فلا تضره،

وإن لم تفرحه فلا تغمه،

وإن لم تمدحه فلا تذمه

(جامع العلوم والحكم 2 / 283)

"Hendaklah setiap orang mukmin  mendapat 3 bagian darimu:

Jika engkau tidak kuasa membantu maka jangan menyakitinya

Apabila engkau tak mampu membuat bahagia maka jangan menjadikan ia sedih

Jika engkau tak bisa memujinya maka jangan mencelanya

(Jami'ul Ulum wal Hikam: 2/283)


----------------

* Masa Lalu, Sekarang Dan Akan Datang *

Terdapat 3 hal yang dibenci hati:

✓ Jika berkaitan dengan masa lalu, ia akan memunculkan huzn (kesedihan).

✓ Dan jika berkaitan dengan masa sekarang, ia akan menghadirkan ghamm (keresahan).

✓ Bila berkaitan dengan masa yang akan datang, ia akan melahirkan hamm (kecemasan).

Oleh sebab itu, seorang hamba hendaknya memohon kepada Allah agar menghilangkan semua hal yang tidak disukai hati, baik yang berkaitan dengan masa lalu, sekarang, maupun yang akan datang, sehingga hati menjadi jernih mudah menerima kebenaran.

Tetaplah bersemangat untuk kehidupan kita, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam,

» اِحْرِصْ عَلَى مَايَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلاَ تَعْجَزْ، وَإِذَا أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلاَ تَقُلْ: لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَذَا كَانَ كَذَا وَكَذَا وَلَكِنْ قُلْ قَدَّرَ اللهُ وَمَا شَاءَ فَعَلَ، فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ

“Bersemangatlah atas perkara yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan Allah dan janganlah engkau melemah.

Jika ada sesuatu yang menimpamu, maka jangan engkau katakan: "Seandainya saya kerjakan ini niscaya akan menjadi begini dan begitu, akan tetapi katakanlah bahwa Allah yang telah menetapkannya, apa yang Dia kehendaki maka Dia perbuat"

Karena sesungguhnya (kata-kata) “seandainya” membuka peluang bagi perbuatan setan” (HR Muslim)

Sungguh nasihat yang mencakup perkara masa lalu, sekarang, dan akan datang.

---------------

* 40 Hari 40 Malam *

Ada banyak hadits yang menjadikan acuan 40 hari (atau malam) sebagai batasan.

A. Mendatangi Dukun

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةٌ
أَرْبَعِينَ لَيْلَةً

“Barangsiapa yang mendatangi dukun kemudian dia bertanya kepadanya perihal sesuatu, maka shalatnya tidak akan diterima selama 40 malam...” (HR. Muslim: 2230)

Bukan berarti malahan ia tidak perlu shalat 40 malam (hari). Tetap berkewajiban shalat namun tidak memperoleh pahala.

B. Masa Nifas.

Selepas melahirkan, seorang wanita menjalani masa nifas. Pada saat itulah ia tidak shalat dan berpuasa.

Ummu Salamah radhiyallahu 'anha berkata,

كَانَتِ النُّفَسَاءُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- تَقْعُدُ بَعْدَ نِفَاسِهَا أَرْبَعِينَ يَوْمًا أَوْ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً

“Dahulu di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, seorang wanita menanti selesai masa nifasnya hingga 40 hari atau 40 malam...” (Shahih, HR. Abu Daud: 311, at-Tirmidzi: 139, Ibnu Majah: 648)

C. Bersih-Bersih.

Islam memperhatikan kebersihan lingkungan, tak luput pula kebersihan diri.

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata,

وُقِّتَ لَنَا فِي قَصِّ الشَّارِبِ وَتَقْلِيم اْلأَظْفَارِ وَنَتْفِ اْلإِبْطِ وَحَلْقِ الْعَانَةِ، أَنْ لاَ نَتْرُكَ أَكْثَرَ مِنْ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً

“Telah ditetapkan jangka waktu dalam merapikan kumis, memotong kuku, mencabut bulu ketiak, dan mencukur rambut kemaluan, tidaklah kami biarkan melebihi 40 hari...” (HR. Muslim, Ahmad, an-Nasa'i)

Jangan dibiarkan memanjang..

Terakhir kapan...? Sudah lama khan...?!

Yuks laksanakan...

-----------------

* Empat Alam yang akan dilalui manusia *

01. Alam pertama adalah alam tatkala berada di perut sang ibu.

02. Alam kedua yaitu disaat ia berada di dunia.

03. Alam ketiga yakni ketika berada di alam barzakh.

04. Alam keempat adalah alam Surga atau Neraka, dan inilah alam terakhir.

(Tafsir surat al-Alaq, Syaikh al-Utsaimin rahimahullahu ta'ala)

"Mari gunakan lelah dan letih kita guna mencapai keselamatan di alam barzakh dan menggapai surga Allah nan di damba..."

-----------------

* 4 Kalimat Singkat Penuh Manfaat *

Dzikir pagi beragam bentuknya. Ada yang panjang, ada pula yang singkat.

Bila waktu kita tak banyak dan tak sempat, tetaplah berdzikir pagi walau sesaat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar dari rumah istri beliau Juwairiyyah binti al-Harits radhiyallahu 'anha.

Saat itu Juwairiyyah sedang beribadah di tempat shalatnya.

Tatkala beliau kembali, ternyata Juwairiyyah masih tetap berada di tempat shalatnya.

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Apakah engkau senantiasa berdiam di tempat shalatmu seperti ini...?”

“Ya...” Jawab Juwairiyyah.

Kemudian beliau bersabda,

“Sungguh aku telah membaca 4 kalimat sebanyak 3 kali selepas keluarku tadi.

Apabila ditimbang dengan apa yang engkau baca tadi, niscaya akan sebanding, yakni:

سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ، عَدَدَ خَلْقِهِ، وَرِضَا نَفْسِهِ، وَزِنَةَ عَرْشِهِ، وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ ...

“Maha Suci Allah, aku memujiNya sebanyak bilangan makhlukNya, dan sesuai keridaanNya, dan seberat timbangan ArsyNya, serta sebanyak kalimatNya...”

dibaca pada waktu pagi sebanyak tiga kali...

(Shahih, HR Muslim: 2726)

Kesibukan pagi hari memang menyita, namun sempatkanlah berdzikir pagi walau satu saja.

Semoga dengan memulai awal yang baik, seluruh hari kita barakah. Aamiin...

-----------------

* 4 Kalimat Yang Lebih Berat *

Ada banyak dzikir yang dapat diucapkan di pagi hari. Namun hendaknya kita tidak melewatkan dzikir berikut ini.

Ibunda Kaum Mukminin, Juwairiyah binti Harits radhiyallahu 'anha menuturkan,

Suatu ketika Nabi shallallahu 'alaihi wasallam keluar dari rumah untuk shalat subuh, sementara Juwairiyah berada di tempat shalatnya (di rumah).

Setelah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam kembali di waktu dhuha, Juwairiyah masih tetap duduk di tempat shalatnya semula.

Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bertanya, “Apa engkau tetap berada dalam kondisi seperti ini sejak aku tinggalkan subuh tadi...?”

Juwairiyah menjawab, “Iya.”

Kemudian Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

“Aku telah mengucapkan 4 kalimat sebanyak tiga kali, yang bila ditimbang dengan dzikir yang engkau baca semenjak pagi tadi, tentu akan lebih berat.

سُـبْحَانَ اللهِ وَ بِـحَمْـدِهِ؛ عَدَدَ خَـلْـقِـهِ ، وَ رِضَا نَفْسِهِ ، وَ زِنَـةَ عَـرْشِـهِ ، وَ مِـدَادَ كَـلِـمَاتِـهِ (ثلاث مرات)

“Mahasuci Allah, aku memujiNya sebanyak bilangan makhlukNya, Mahasuci Allah sesuai keridhaanNya, Mahasuci Allah seberat timbangan 'arsyNya, dan Mahasuci Allah sebanyak tinta (yang menulis) kalimatNya.”
(dibaca setiap pagi 3 kali)

(Shahih, HR Muslim: 2726)

Jangan luput dibaca setiap pagi, walau kesibukan meliputi diri...

-------------------

* 7 Pertanyaan *

Ada 7 pertanyaan yang harus kita jawab kelak setelah kematian.

Bisa jadi mudah bagi kita menjawabnya. Mungkin pula, keluh lidah ini bila saat dunia tidak dihiasi dengan amal kebajikan.

Terbagi menjadi 2 bagian:

A. Tiga Pertanyaan Di Alam Kubur.

Dalam hadits al-Bara’ bin ‘Azib radhiyallahu 'anhu yang panjang dikisahkan:

"Datanglah dua malaikat yang memerintahkan sang mayit (mukmin) untuk duduk.

Kedua Malaikat bertanya,
(مَنْ رَبُّكَ)

“Siapa Rabb (Tuhan)mu..?”
"Rabbku adalah Allah" jawabnya.

Kembali mereka bertanya,
(وَمَا دِيْنُكَ)
“Apa agamamu..?”
"Agamaku Islam" sahutnya.

Mereka bertanya lagi,
(وَمَا هَذَا الرَّجُلُ الَّذِيْ بُعِثَ فِيْكُم)

“Siapa orang yang telah diutus di antara kalian ini...?”
“Beliau adalah Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam” jawabnya.

(Shahih, HR. Ahmad, Abu Daud; Ahkamul Janaiz Syaikh al-Albani)

Nampaknya mudah kita hapal, tapi semuanya adalah jawaban spontan. Tak bisa mengada-ada.

B. Empat Pertanyaan Di Padang Mahsyar.

Nabi shallallahu'alaihi wasallam bersabda:

لا تزول قدما عبد يوم القيامة حتى يسأل عن أربع:

“Tidak akan bergeser kaki anak Adam pada hari kiamat hingga ia ditanya dengan empat (dalam riwayat lain: lima) pertanyaan:

عَنْ عُمْرِهِ فِيْمَ أَفْنَاهُ؟ وَعَنْ شَبَابِهِ فِيْمَ أَبْلاَهُ؟ وَمَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيْمَ أَنْفَقَهُ؟ وَمَاذَا عَمِلَ فِيْمَا عَلِمَ؟

"Tentang umurnya kemana ia habiskan, tentang masa mudanya dimana ia gunakan, tentang hartanya dari mana dia peroleh dan kemana ia belanjakan, dan apa yang sudah dia amalkan dari ilmunya...?” (Hasan, HR. At-Tirmidzi; Shahihul Jami’: 7299)

Siapkah kita menjawab 7 pertanyaan setelah kematian...?!

Tak perlu dijawab melalui lisan sekarang, amal ibadah kita yang akan membuktikan.

-----------------

* Ada Barakah di Balik Jual Beli *

Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman,

ﻭﺃﺣﻞ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺒﻴﻊ ﻭﺣﺮﻡ ﺍﻟﺮﺑﺎ
“Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba” (QS. Al Baqarah: 275)

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

ﺍﻟﺒﻴﻌﺎﻥ ﺑﺎﻟﺨﻴﺎﺭ ﻣﺎ ﻟﻢ ﻳﺘﻔﺮﻗﺎ، ﻓﺈﻥ ﺻﺪﻗﺎ ﻭﺑﻴﻨﺎ ﺑﻮﺭﻙ ﻟﻬﻤﺎ ﻓﻲ ﺑﻴﻌﻬﻤﺎ، ﻭﺇﻥ ﻛﺬﺑﺎ ﻭﻛﺘﻤﺎ ﻣﺤﻘﺖ ﺑﺮﻛﺔ ﺑﻴﻌﻬﻤﺎ

“Dua orang yang bertransaksi jual beli itu punya hak khiyar (memilih) selama belum berpisah.

Bila keduanya JUJUR dan menerangkan (apa adanya), maka keduanya akan diberi barakah dalam jual belinya.

Tapi bila mereka berdusta dan menyembunyikan (cacat) maka akan dihilangkan keberkahan jual beli atas keduanya”
(Shahih, HR Bukhari dan Abu Dawud)

Menjual dan membeli, dua perkara yang kita lakukan sehari-hari..
Jangan lupakan barakah Allah sungguhlah dinanti...

Agar kita tak lagi merasa harta habis entah kemana..
Padahal segala upaya telah terlaksana...

Tidak ada area abu-abu (samar) dalam berjual-beli.
Hanya ada dua pilihan,

Jujur atau Dusta..?
Barakah atau Nestapa..?

-----------------

* Pedagang Harus Berilmu dan Bertaqwa *

Dari Rifa’ah radhiyyallahu 'anhu bahwasanya ia keluar bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menuju Baqi’  sementara orang-orang sedang berjual beli. Maka beliau berseru,

ﻳﺎ ﻣﻌﺸﺮﺍﻟﺘﺠﺎﺭ. ﻓﺎﺳﺘﺠﺎﺑﻮﺍ ﻟﻪ ﻭﺭﻓﻌﻮﺍ ﺇﻟﻴﻪ ﺃﺑﺼﺎﺭﻫﻢ، ﻭﻗﺎﻝ: ﺇﻥ ﺍﻟﺘﺠﺎﺭ ﻳﺒﻌﺜﻮﻥ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﻘﻴﺎﻣﺔ ﻓﺠﺎﺭﺍ ﺇﻻ ﻣﻦ ﺍﺗﻘﻰ ﻭﺑﺮ ﻭﺻﺪﻕ

“Wahai para pedagang...!!
Maka mereka menyambut seruan beliau dan mengarahkan pandangan mereka kepadanya.

Beliau melanjutkan, “Sesungguhnya  nanti di hari kiamat para pedagang akan dibangkitkan sebagai orang-orang yang jahat, kecuali mereka yang bertakwa, berbuat baik, dan jujur”
(HR Ibnu Hibban: 4910, Shahih Jami’ ash-Shaghir: 1594)

Agar terhindar dari tipu-menipu, riba, mengambil harta orang lain dengan cara batil, ketidaktahuan hukum jual-beli dan transaksi terlarang lainnya maka hendaknya para pedagang mempelajari hukum-hukum syariat terkait dengannya.

Bahkan ‘Umar radhiyallahu’anhu memperingatkan dengan perkataannya,

“Jangan ada yang bertransaksi di pasar kami kecuali orang yang telah paham agama..”

(Riwayat disampaikan oleh Imam at-Tirmidzi, dihasankan oleh Syaikh al-Albani)

Dengan ilmu maka akan menjadikan harta kita,

"walaupun banyak namun tetap bertabur barakah...:)"

Semoga...

-----------------

* Adab Menguap *

Hari menjelang pertengahan siang. Badan mulai terasa letih, tak lagi riang.

Malam menjelang...
Rasa kantuk pun menyerang...

A. Tahan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

التَّثَاؤُبُ فَإِنَّمَا هُوَ مِنْ الشَّيْطَانِ فَلْيَرُدَّهُ مَا اسْتَطَاعَ فَإِذَا قَالَ هَا ضَحِكَ مِنْهُ الشَّيْطَانُ

"Menguap datangnya dari setan. Sebab itu, hendaklah ia menahan semampunya.

Apabila ia sampai berucap, "haaah (hoaaam)" maka setan akan mentertawakannya...” (HR. Bukhari: 6223, Muslim: 2994)

B. Tutup.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا تَثَاوَبَ أَحَدُكُمْ فَلْيُمْسِكْ بِيَدِهِ عَلَى فِيهِ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَدْخُلُ

“Apabila salah seorang dari kalian menguap maka hendaklah ia menahan (mulut) dengan tangannya. Karena sesungguhnya setan akan masuk...” (HR. Muslim: 2995)

Karena menguap itu dari setan, maka dianjurkan kita menutup mulut dengan tangan kiri...

----------------

* Ada Dosa Kecil Besar, Ada Dosa Besar *

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

إِنْ تَجْتَنِبُوا كَبَائِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَنُدْخِلْكُمْ مُدْخَلا كَرِيمًا

“Jika kalian menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang kalian dilarang mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosa kecil) dan Kami masukkan kalian ke tempat yang mulia (surga)..." (QS. An-Nisaa': 31)

Ketika Allah melarang dalam ayat ini, dosa-dosa yang merupakan dosa besar, maka Allah menjanjikan pengguguran dosa-dosa kecil sebagai balasan dari menghindari dosa-dosa besar tersebut...

(Al-Kaba'ir Imam Adz-Dzahabi)

Definisi:

Ada banyak definisi dosa besar yang disampaikan para ulama.

Ibnu Hajar rahimahullah berkata,

“Dan definisi yang paling bagus adalah ucapan Al-Qurthubi dalam Al-Mufhim,

"Setiap dosa yang dinyatakan nash Al-Qur’an, As-Sunnah, dan ijma’ bahwasannya ia merupakan dosa besar (dengan ungkapan 'kabiirah كبيرة' atau ‘adzhiim عظيم)

...atau diancamkan padanya siksa yang pedih (bagi pelaku), atau dikaitkan dengan hudud, atau diingkari dengan keras, maka seluruhnya itu adalah dosa besar...”

(Fathul Bari: 12/183-184)

InsyaAllah secara bertahap akan disampaikan jenis ragam dosa besar, untuk kemudian kita jauhi.

Sebagaimana ungkapan seorang penyair:

Aku mengetahui keburukan bukan untuk melakukannya, tetapi untuk menjauhinya…

Siapa yang tidak mengetahui keburukan dari kebaikan, dia akan terjatuh ke dalamnya…

----------------

* Agar ibadah Jum'at tidak Sia-Sia *

Menunaikan beragam ibadah di hari Jum'at dapat menghapus dosa dan menaikkan derajat di Surga.

Tetapi, waspadai perkara yang membuat runtutan ibadah Jum'at menjadi sia-sia.

A. Berucap Kawan Sebelah.

Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam bersabda,

إِذَا قُلْتَ لِصَاحِبِكَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَنْصِتْ وَاْلإِمَامُ يَخْطُبُ فَقَدْ لَغَوْتَ.

“Jika engkau berucap kepada kawanmu, "Diam" pada hari Jum’at dan imam sedang berkhutbah, berarti engkau telah berbuat sia-sia...” (HR al-Bukhari: 934; Muslim: 851)

Perhatikan khutbah yang disampaikan dengan seksama.

B. Memegang Apa Saja.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda saat menjelaskan tentang shalat Jum'at,

.. ﻭﻣﻦ ﻣﺲ ﺍﻟﺤﺼﻰ ﻓﻘﺪ ﻟﻐﺎ

“Dan barangsiapa yang memegang batu kerikil, maka dia telah berbuat sia-sia..” (HR. Muslim: 857)

Tidak juga memainkan kuku, peci, sarung, apalagi hp.

C. Melangkahi Jama'ah.

Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam bersabda,

وَمَنْ لَغَا وَتَخَطَّى رِقَابَ النَّاسِ كَانَتْ لَهُ ظُهْرًا.

Dan barangsiapa lalai dan melangkahi pundak orang, maka shalat Jum’atnya menjadi shalat Dzhuhur baginya...” (Hasan: HR Abu Dawud, Ibnu Khuzaimah; Shahih at-Targhib: 720 Al-Albani)

Tanya: Bagaimana bila melangkahi pundak untuk menuju shaf depan yang masih kosong...?

Jawab: Tentu memang maksudnya maju ke depan mengisi shaf. Apa mungkin kita melangkah ke depan padahal shaf sudah penuh rapat..?!

Kecuali kita sebagai khatib dan imam shalatnya. Apa iya..?

-----------------

* Agar Kalian Bertakwa *

Tujuan utama berpuasa terletak di akhir ayat yang membahas tentangnya yaitu:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa” (QS. Al-Baqarah: 183)

Taqwa berasal dari waqa - yaqi - wiqayatan, bermakna: memelihara dan menjaga.

'Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'annhu berkata:

“Takwa adalah takut kepada Allah Al-Jalil (Yang Maha Agung), mengamalkan tanzil (Al-Qur'an), rela dengan al-Qalil (yang sedikit) dan bersiap menuju Ar-Rahil (kematian)...”

Sedangkan Thalq bin Habib Al-’Anazi bertutur:

العَمَلُ بِطَاعَةِ اللهِ، عَلَى نُوْرٍ مِنَ اللهِ، رَجَاءَ ثَوَابِ اللهِ،

Takwa yaitu mengamalkan ketaatan kepada Allah..
dengan cahaya dari Allah (dalil).. mengharap ganjaran Allah...

وَتَرْكِ مَعَاصِي اللهِ، عَلَى نُوْرٍ مِنَ اللهِ، مَخَافَةَ عَذَابِ اللهِ

Dan meninggalkan maksiat kepada Allah..
Dengan cahaya dari Allah (dalil)..
Takut terhadap adzab Allah...”

(Siyar A’lamin Nubala: 8/175)

Ketakwaan itu dibalut ilmu tentangnya. Bukan "serabutan" beramal yang penting banyak.

Mengharap pahala dan takut akibat dosa dengan petunjuk Allah ta'ala.

Sudahkah kita usahakan...?!

------------------

* Agar Kita Bersyukur *

Kala melihat harta kawan dan tetangga yang melebihinya (kadangkala) seseorang merasa dunia menjadi sempit.

Padahal bila saja ia mau melihat orang yang di "bawah"nya, niscaya rasa syukur akan diucapkan.

A. Tidak Mengingkari Nikmat.

Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam bersabda,

اُنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلاَ تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَإِنَّهُ أَجْدَرُ أَنْ لاَ تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللهِ عَلَيْكُمْ

“Lihatlah orang yang berada di bawah kalian dan janganlah melihat orang yang berada diatas, karena hal tersebut lebih menjadikan kalian tidak mengabaikan nikmat-nikmat Allah atas kalian...” (HR Bukhari, Muslim)

B. Diantara Cara

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

قَالَ حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتٌّ قِيلَ مَا هُنَّ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ: ... وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ وَإِذَا مَاتَ فَاتَّبِعْهُ

“Kewajiban seorang muslim atas muslim yang lain ada enam”

Lalu ada yang bertanya,“Apakah itu ya Rasulullah?”

Maka beliau menjawab (diantaranya)
“...apabila dia sakit maka jenguklah dia, dan apabila dia meninggal maka iringilah jenazahnya...” (HR. Muslim)

Menjenguk orang sakit akan melembutkan hati. Banyak orang kaya namun terhalangi makan dan beraktivitas sebab sakitnya.

Mengiringi jenazah akan mengingatkan kita bahwa dunia hanyalah jembatan menuju akhirat, bukan tujuan.

Sabda Nabi shallallahu'alaihi wasallam,

إِنِّي كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَزُورُوهَا فَإِنَّهَا تُذَكِّرُكُمْ الْآخِرَةَ

"Dahulu aku melarang kalian menziarahi kubur. Adapun sekarang, kunjungilah karena akan mengingatkan kalian kepada akhirat.." (HR. Muslim)

---------------

* Aina Nahnu Minhum *
(Dimana Diri Kita Dari Mereka)

Orang yang fakih adalah orang yang dapat menahan diri dari perkara yang diharamkan Allah.

Sedangkan 'Alim adalah orang yang takut kepada Allah.

Kemudian, dimanakah kita dari mereka semua...?

('Amir bin Syurahabil asy-Sya'bi rahimahullah)

---------------

* Akhirat Bagi Kita, Biarlah Untuk Mereka Dunia *

Tatkala melihat orang kafir bergembira, terkadang sebagian kaum Muslimin terpesona.

Demikian pula menjelang pergantian tahun.

Biarlah menjadi kesenangan..

Bagi mereka... (kaum kuffar)
Tidak bagi kita... (muslimin)

Nabi shallallahu'alaihi wasallam bersabda,
"الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ، وَجَنَّةُ الكَافِرِ

"Dunia merupakan penjara bagi orang mukmin dan Surga bagi orang kafir..." (HR. Muslim: 2956)

Karena surga diliputi kepedihan dan kepayahan sedangkan neraka dikelilingi kesenangan dan hawa nafsu.

Namun jangan tertipu.

Sebab kelak mereka yang gemar berbuat dosa memohon dikembalikan ke dunia.

Allah Ta'ala berfirman,

وَلَوْ تَرَىٰ إِذِ الْمُجْرِمُونَ نَاكِسُو رُءُوسِهِمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ

Dan (alangkah ngerinya), jika sekiranya kamu melihat ketika orang-orang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Rabbnya, (mereka berkata),

رَبَّنَا أَبْصَرْنَا وَسَمِعْنَا فَارْجِعْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا إِنَّا مُوقِنُونَ

"Wahai Rabb kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami ke dunia. Kami akan mengerjakan amal shaleh. Sesungguhnya kami adalah orang-orang yakin" (QS as-Sajdah: 12)

Penyesalan tiada guna.

Akhirat bagi kita, biarlah untuk mereka kesenangan dunia. Itu pun bila mereka dapatkan...

---------------

* Akhir Kehidupan *

Tiada seorang pun yang mengetahui akhir perjalanan hidupnya kelak.

Akhir yang baik (husnul khatimah) ataukah akhir nan buruk (su'ul khatimah)...?

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَعْمَلُ فِيْمَا يَرَى النَّاسُ عَمَلَ أَهْلِ الْجَنَّةِ وَإِنَّهُ لَمِنْ أَهْلِ النَّارِ، وَيَعْمَلُ فِيْمَا يَرَى النَّاسُ عَمَلَ أَهْلِ النَّارِ وَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ، وَإِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِخَوَاتِيْمِهَا.

"Sesungguhnya ada seorang hamba yang beramal dengan amalan ahli Surga menurut apa yang tampak di hadapan manusia, (namun) sebenarnya dia adalah penghuni Neraka.

Ada pula seorang hamba beramal dengan amalan ahli Neraka menurut apa yang tampak di hadapan manusia, (namun) sebenarnya dia adalah penghuni Surga.

Sesungguhnya amal-amal itu tergantung pada akhirnya" (HR Bukhari:6493, Muslim:112)

A. Kisah Husnul Khatimah.

Siapa yang tidak mengenal Fudhail bin Iyadh...?

Dahulunya beliau adalah pembegal yang hampir setiap malam mendatangi rumah-rumah untuk dirampok. Hingga suatu malam tatkala melancarkan aksinya, ia memanjat dinding untuk menemui gadis impian. Pada saat yang bersamaan tiba-tiba dia mendengar suara lantunan Al Qur’an sedang dibacakan hingga ketika sampai pada ayat:

“Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah...” (QS. Al-Hadid: 16)

Air matanya pun berlinang, hingga akhirnya dia pun bertaubat dan menjadi ulama besar.
(Siyar A’lam An-Nubala’ adz-Dzahabi)

B. Kisah Su'ul Khatimah.

Seorang muadzin di Mesir. Wajahnya berwibawa dan penuh cahaya ibadah. Suatu hari dia naik ke menara untuk adzan. Di bawah menara ada rumah seorang Nashrani, dia melongok ke dalam rumah. Dilihatnya anak perempuan pemilik rumah dan akhirnya tergoda. Lalu dia tinggalkan adzan dan turun menemuinya.

Sang muadzin berhasrat dengan anak perempuan itu.

...Dan akhirnya lelaki itu masuk Nashrani dan tinggal bersama mereka.

-kedua kisah di atas disampaikan dengan ringkas-

---------------

* Akhir Ramadhan *

Tak terasa, bulan nan penuh kemuliaan itu 'kan berakhir.
Apakah hakikat berpuasa, yaitu ketakwaan mampu kita raih...?

Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata,

“Takwa ialah perasaan takut kepada Allah, beramal dengan apa yang datang dari Allah dan RasulNya, ridha dengan segala yang ada serta mempersiapkan diri menghadapi hari akhir...”

Mari manfaatkan saat-saat terakhir kita di Bulan pengampunan dosa, dikabulkan doa, ganjaran amal dilipatgandakan, dan beragam keutamaan lainnya..

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
وَإِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِخَوَاتِيْمِهَا

"Sesungguhnya amal-amal itu tergantung pada akhirnya.."
(HR. Bukhari:6493, Muslim:112)

Ma'la bin Al-Fadhl rahimahullah bertutur,

"Generasi terbaik umat ini memanjatkan doa kepada Allah sejak enam bulan SEBELUMnya untuk berjumpa dengan Ramadhan dan selama enam bulan BERIKUTnya agar ibadah puasa mereka diterima oleh Allah...”

Yahya bin Abi Katsir rahimahullah bersaksi bahwa diantara doa mereka adalah,

اَللَّهُمَّ سَلِّمْنِيْ إِلَى رَمَضَانَ وَسَلِّمْ لِيْ رَمَضَانَ وَتُسَلِّمْهُ مِنِّيْ مُتَقَبَّلاً

"Yaa Allah antarkanlah aku hingga sampai Ramadhan, dan antarkanlah Ramadhan kepadaku, dan terimalah amal-amalku di bulan Ramadhan..."
(Lathaif Al-Ma'arif oleh Ibnu Rajab: 376 tahqiq As-Salus tanpa sanad)

Kala kesedihan menyeruak di saat-saat akan berpisah dengan bulan tercinta...

-------------

* Aku Ingin Kalian Merasakan Nikmat Yang Kurasakan *

Merasakan nikmatnya mengenal Islam yang sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, merupakan kebahagian tersendiri.

Tidakkah kita menginginkan orang-orang tercinta disekitar pun turut merasakan nikmat tersebut..?

A. Seperti Diri Sendiri.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يُؤْ مِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبُّ لأَِخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

“Tidak sempurna keimanan salah seorang dari kalian hingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri..”
(HR al-Bukhari: 13 dan Muslim: 45)

B. Lebih Utama Keluarga Dan Kerabat.

“Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, tatkala turun ayat:
(وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الأَقْرَبِينَ)

“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat" (QS. Asy-Syu’ara: 214)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri di bukit Shafa dan bersabda,

"Wahai Fathimah bintu Muhammad, wahai Shafiyyah Bintu Abdul Muthallib, wahai keturunan Abdul Muthallib, aku tidak memliki untuk kalian dari Allah sedikitpun. Mintalah kepadaku dari hartaku sekehendak kalian” (HR. Muslim)

Pertama kali yang beliau seru adalah keluarga terdekat.

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bila hendak shalat witir, membangunkan Aisyah radhiyallahu 'anha" (HR Muslim)

Tak luput pula, putri dan menantu beliau mendapatkan perhatian.

Suatu malam, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi rumah Ali dan Fathimah radhiyallahu 'anhuma. Beliau berkata, “Tidakkah kalian berdua mengerjakan shalat malam...?” (HR. al-Bukhari, Muslim)

Memang hidayah di tangan Allah semata, namun sudahkah kita berusaha maksimal menyampaikan nikmat ilmu yang telah didapat kepada keluarga tercinta...?

Bukankah akan lebih indah apabila menjalani bersama kehidupan dunia dalam naungan ridhaNya...?

Jangan sampai sibuk menyampaikan dakwah kepada orang lain, namun luput memberikan bagian besarnya tuk sanak dan keluarga.

------------

* Aku Sedang Berpuasa *

Terkadang saat kita sedang berpuasa, masih saja didapati orang lain mengganggu.

Baik dengan ucapan maupun perbuatan...

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الصِّيَامُ جُنَّةٌ فَلاَ يَرْفُثْ وَلاَ يَجْهَلْ

“Puasa adalah tameng. Maka janganlah ia berkata kotor dan berbuat bodoh.

وَإِنِ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أَوْ شَاتَمَهُ فَلْيَقُلْ: إِنِّي صَائِمٌ, إِنِّي صَائِمٌ (مَرَّتَيْنِ)

Apabila seseorang memerangi atau mencelanya, maka berucaplah:

"aku sedang berpuasa, aku sedang berpuasa..." (dua kali)

(HR al-Bukhari: 1904, Muslim: 2697)

Maka bila didapati seseorang mengganggu dan mengusik emosi, cukup kita katakan:

إِنِّي صَائِمٌ, إِنِّي صَائِمٌ

"aku sedang berpuasa, aku sedang berpuasa..."

Tidak berarti riya' namun agar orang itu mengetahui dan semoga tersadarkan dari kesalahan.

Demikianlah petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saat kita diganggu.

Tentu petunjuk Nabi adalah yang terbaik.

Bukan mengelus dada sembari berkata:

"Aku rapopo..."

----------------

* Aku Tak Dapat Tidur Sebelum... *

Dalam berumah tangga, ada saja konflik yang mengiringi.

Harus ada yang mengalah walau bukan kalah.

Meminta maaf, walau mungkin bukan yang salah.

Menasihati tanpa membuat sakit hati.

A. Sebab Bengkok.

Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam mengingatkan,

اِسْتَوْصُوْا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا فَإِنَّهُنَّ خُلِقْنَ مِنْ ضِلَعٍ، وَإِنَّ أَعْوَجَ مَا فِي الضِّلَعِ أَعْلاَهُ،

“Berilah nasihat kepada para wanita (isteri) dengan cara yang baik. Karena sesungguhnya mereka diciptakan dari tulang rusuk lelaki yang bengkok.

Dan bagian yang paling bengkok terdapat pada tulang rusuk yang paling atas.

فَإِنْ ذَهَبْتَ تُقِيْمُهُ كَسَرْتَهُ، وَإِنْ تَرَكْتَهُ لَمْ يَزَلْ أَعْوَجَ

Apabila berkeinginan meluruskannya (dengan paksa), maka kalian akan mematahkannya.

Adapun jika hendak membiarkannya, maka ia akan tetap bengkok.

فَاسْتَوْصُوْا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا

Maka berilah nasihat kepada istri dengan cara yang baik....”

(HR. al-Bukhari: 5186, Muslim: 1468).

B. Ku Pinta Maaf.

Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam bersabda,

“Maukah aku kabarkan kepada kalian, wanita-wanita penghuni surga...?

اَلْوَدُوْدُ الْوَلُوْدُ الْعَؤُوْدُ عَلَى زَوْجِهَا، الَّتِى إِذَا غَضِبَ جَاءَتْ حَتَّى تَضَعَ يَدَهَا فِي يَدِ زَوْجِهَا، وَتَقُوْلُ:

(Mereka adalah) istri yang penuh kasih sayang lagi banyak anak serta senantiasa kembali kepada suaminya.

(yang) apabila suami marah, ia pun mendatangi suaminya dan meletakkan tangannya pada tangan suami seraya berkata,

لاَ أَذُوقُ غَضْمًا حَتَّى تَرْضَى

“Aku tak 'kan dapat tidur sebelum engkau ridha...” (HR. An-Nasai, Silsilah ash-Shahihah: 287 Al-Albani)

Perkataan yang menenangkan diri...

Kalau sudah begini, siapa pula yang sanggup berpaling darimu wahai penyejuk hati...

Aaah, indahnya...
Semoga bukan sekedar impian jelang tidur...

--------------

* Alihkan Pandangan *

Seringkali di berbagai media sosial, FB, Twitter, dan BB kita menjumpai gambar lain jenis terpasang.

Lantas apa yang diperbuat...?

A. Alihkan Pandangan.

Jarir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu berkata,

سَأَلْتُ رَسُوْلَ اللهِ عَنْ نَظْرَةِ الْفَجَاءَةِ, فَأَمَرَنِيْ أَنْ أَِصْرِفَ بَصَرِيْ

“Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang pandangan yang tiba-tiba (tidak sengaja), maka beliau memerintahkan aku untuk memalingkan pandangan...” (HR Muslim: 45)

B. Pertama Tak Mengapa, Tidak 'Tuk Selanjutnya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada Ali radhiyallahu 'anhu,

يَا عَلِيّ ُ! لاَتُتْبِعِ النَّظْرَةَ النَّظْرَةَ, فَإِنَّمَا لَكَ الأُولَى وَلَيْسَتْ لَكَ الأَخِيْرَةُ  

“Wahai Ali janganlah engkau mengikuti pandangan (pertama yang tidak sengaja) dengan pandangan (berikutnya), karena bagi engkau pandangan yang pertama dan tidak boleh bagimu pandangan yang terakhir...” (HR at-Tirmidzi: 2777, Abu daud: 2149, Shahih Abu Daud lil Albani)

Maka...

Apabila tak sengaja kita melihat picture dari lain jenis, bersegeralah palingkan bukan malah disimak dan disimpan.

Demikian pula berhati-hati memasang picture profile.

Bisa jadi yang kita pasang menjadi pesan dakwah yang 'tak bersuara.
Atau petaka fitnah yang menyebar kemana-mana...

--------------

* Kesempatan Di Hari Ini *

Kita tak pernah mengetahui bilakah maut kan datang menghampiri...?

Persiapkan amal shalih dan taubat yang sebenarnya sejak saat ini tanpa menunda lagi.

Allah ta'ala berfirman,

ﻭﻟﻜﻞ ﺃﻣﺔ ﺃﺟﻞ ﻓﺈﺫﺍ ﺟﺎﺀ ﺃﺟﻠﻬﻢ ﻟﺎ ﻳﺴﺘﺄﺧﺮﻭﻥ ﺳﺎﻋﺔ ﻭﻟﺎ ﻳﺴﺘﻘﺪﻣﻮﻥ

“ Dan tiap-tiap umat mempunyai batas ajal. Maka apabila telah datang waktunya mereka tidak akan dapat mengundurkannya sesaat pun dan
tidak dapat (pula) memajukannya” (QS. Al-A’raf: 34)

Kematian bukanlah milik orang lanjut usia...

Datangnya ajal tidaklah harus ditandai dengan sakit semata...

Petiklah pelajaran dari kisah berikut,

Seorang komandan tinggi di jajaran Angkatan Bersenjata, ia tak pernah mengeluhkan suatu penyakit apapun, tubuhnya padat berisi, otot-ototnya kekar, lincah dan gesit dalam melakukan tugas-tugas di teritorial-nya.

Seperti biasa, pada suatu malam, ia pergi tidur. Di pagi hari, sang ibu membangunkannya. Tak ada jawaban.
Apa yang terjadi..?

Ternyata tubuhnya sudah dingin dan terbujur kaku. Ia menemui ajalnya dalam keadaan tidur.

(Saudariku Apa Yang Menghalangimu untuk Berhijab, hal. 38, Syaikh Abdul Hamid al-Bilaly)

Sebab itu wahai sahabat...

Bersyukurlah hari ini engkau masih diberi kesempatan memperbaiki diri..

Bangun dari tidur dalam keadaan berseri..

Merasakan berbagai nikmat sebelum ajal mendekat...

Yuks "warnai" hari ini dengan berbagai kebajikan.

Kami berharap, engkau telah merengkuh al-Qur'an sebelum membaca risalah singkat yang -semoga- bermanfaat.

--------------

* Dalam Naungan Kitabullah Al- Qur'an *

Bacalah Al-Qur'an...
Pelajari dan ajarkan bacaan al-Qur'an kepada anak, adik, saudara, kerabat bahkan tetangga kita.

A. Keutamaan Belajar dan Mengajarkan Al-Qur'an

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda,

ﺧﻴﺮﻛﻢ ﻣﻦ ﺗﻌﻠﻢ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﻭﻋﻠﻤﻪ

“Sebaik-baik kalian adalah seseorang yang mempelajari Al-Qur'an dan mengajarkannya”
(HR. Bukhari: 4639)

Setidaknya kita dapat saling menyimak bacaan Al-Qur'an dari anggota keluarga selepas shalat maghrib, atau di saat-saat kumpul bersama. Walau hanya sejenak.

Semoga menambah kehangatan keluarga.

B. Apabila Masih Terbata-bata

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

ﺍﻟﻤﺎﻫﺮ ﺑﺎﻟﻘﺮﺁﻥ ﻣﻊ ﺍﻟﺴﻔﺮﺓ ﺍﻟﻜﺮﺍﻡ ﺍﻟﺒﺮﺭﺓ ﻭﺍﻟﺬﻱ ﻳﻘﺮﺃ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ
ﻭﻳﺘﺘﻌﺘﻊ ﻓﻴﻪ ﻭﻫﻮ ﻋﻠﻴﻪ ﺷﺎﻕ ﻟﻪ ﺃﺟﺮﺍﻥ

“Orang yang pandai membaca Al-Qur'an akan bersama para Malaikat utusan yang mulia lagi berbakti.
Dan orang yang membaca Al-Qur'an dengan terbata-bata dan kesulitan dalam membacanya, maka baginya dua pahala”. (HR Muslim no: 244)

Al-Mulla 'Ali al-Qari menjelaskan bahwa dua pahala yang didapatkan oleh orang yang membaca al-Qur'an dengan terbata-bata yaitu, pahala atas bacaan itu sendiri dan pahala sebab jerih payahnya dalam melantunkan bacaan tersebut.
Dengan kata lain, motivasi ini merupakan penguat anjuran agar seseorang tetap membaca al-Qur'an (Mirqaatul Mafaatih: 4/618)

--------------

* Amanah *

Seringkali kita mendapat amanah. Ada berbagai ragam bentuknya.

Bisa berupa jabatan, barang titipan, maupun jenis lainnya.

A. Tunaikan.

Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman,

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا

"Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya…" (QS. an-Nisa': 58)

Perintah ini menunjukkan wajib.

B. Bila Ada Yang Khianat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَدِّ الأَمَانَـةَ إِلَى مَنِ ائْـتَمَنَكَ، وَلاَ تَـخُنْ مَنْ خَانَكَ .

“Tunaikan amanah kepada orang yang engkau dipercaya (untuk menyampaikannya) dan jangan khianati orang yang mengkhianatimu"

(HR Abu Dawud: 3535, at-Tirmidzi: 1264, Shahih al-Jami’: 240, Silsilah ash-Shahihah: 423)

Perbuatan baik harus dibalas dengan kebaikan...

Adapun sifat buruk jangan diikuti dan dilakukan...