6 September 2014

Manusia Ada 4 Jenis, Pilih Mana?

Manusia Ada 4 Jenis, Pilih Mana?

Siapa di antara kita yang tidak ingin menjadi orang kaya yang bergelimang harta? Tua muda, lelaki perempuan, berkulit hitam atau putih, semuanya memiliki keinginan serupa.

Salahkah keinginan tersebut? Tidak juga! Tetapi sayangnya, banyak di antara kita lupa untuk berusaha memiliki ’pengawal’ yang membantu kita menjaga harta tersebut; agar tidak berubah menjadi petaka. Pengawal setia tersebut adalah ilmu agama.

Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam menjelaskan,

“مَثَلُ هَذِهِ الْأُمَّةِ مَثَلُ أَرْبَعَةِ نَفَرٍ (1) رَجُلٌ آتَاهُ اللهُ مَالًا وَعِلْمًا، فَهُوَ يَعْمَلُ بِهِ فِي مَالِهِ يُنْفِقُهُ فِي حَقِّهِ. (2)  وَرَجُلٌ آتَاهُ اللهُ عِلْمًا وَلَمْ يُؤْتِهِ مَالًا، فَهُوَ يَقُولُ: “لَوْ كَانَ لِي مِثْلُ مَالِ هَذَا؛ عَمِلْتُ فِيهِ مِثْلَ الَّذِي يَعْمَلُ”. قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “فَهُمَا فِي الْأَجْرِ سَوَاءٌ”. (3) وَرَجُلٌ آتَاهُ اللهُ مَالًا وَلَمْ يُؤْتِهِ عِلْمًا، فَهُوَ يَخْبِطُ فِيهِ يُنْفِقُهُ فِي غَيْرِ حَقِّهِ. (4) وَرَجُلٌ لَمْ يُؤْتِهِ اللهُ مَالًا وَلَا عِلْمًا، فَهُوَ يَقُولُ: “لَوْ كَانَ لِي مَالٌ مِثْلُ هَذَا؛ عَمِلْتُ فِيهِ مِثْلَ الَّذِي يَعْمَلُ”. قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “فَهُمَا فِي الْوِزْرِ سَوَاءٌ”.

”Perumpamaan umat ini bagaikan empat orang.

Orang pertama: adalah seorang yangdikaruniai Allah harta dan ilmu. Dengan ilmunya ia mengatur harta sehingga bisa mengalokasikannya dengan benar.

Orang kedua: adalah seorang yang dikaruniai Allah ilmu, namun tidak dikaruniai harta. Dia berkata, ”Andaikan aku memiliki harta seperti fulan (orang pertama), niscaya akan kugunakan seperti apa yang dilakukannya”. Rasulullah shallallahu ’alaihiwasallam bersabda, ”Pahala dua orang tersebut sama”.

Orang ketiga: adalah seorang yang dikaruniai Allah harta namun tidak dikaruniai ilmu. Dia bertindak asal-asalan dalam hartanya, menghamburkannya tanpa aturan.

Orang keempat:seorang yang tidak dikaruniai Allah harta maupun ilmu. Ia berujar, ”Andaikan aku memiliki harta seperti fulan (orang ketiga); niscaya akan kugunakan seperti apa yang dilakukannya”. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam berkomentar, ”Dosa keduanya sama”. (HR. Ahmad dari Abu Kabsyah al-Anmâry radhiyallahu ’anhu  dan dinyatakan sahih oleh al-Albany).

Dalam hadits di atas, Nabiyullah shallallahu’alaihi wasallam menerangkan pada kita bagaimana efek dari ilmu agama terhadap sikap seseorang kepada hartanya.

Orang kaya yang berilmu, berkat bekal ilmu yang dimilikinya, ia bisa memanfaatkan hartanya untuk mengantarkan ke surga. Ini adalah orang pertama. Adapun orang yang miskin harta namun memiliki ilmu agama, diapun juga bisa memanfaatkan ilmu tersebut sebagai kendaraan untuk masuk surga. Sebab ia berpeluang meraih pahala yang sama dengan orang pertama, berkat niat baik yang ada dalam hatinya. Inilah orang kedua.

Adapun orang ketiga, adalah golongan yang malang, walaupun kelihatannya ia hidup sejahtera. Sebab ia gagal menjadikan hartanya sebagai tunggangan menuju surga. Ia serampangan dalam mengalokasikan hartanya, karena keminiman ilmu agamanya.

Yang paling naas nasibnya adalah orang keempat. Sudah miskin harta, miskin ilmu agama pula. Di dunianya ia hidup dalam kesusahan, dan kelak di akhiratnya ia sengsara masuk ke dalam neraka. Na’udzubillah min dzalik…

Nah, memilih manakah Anda? Yang penting, jangan sampai memilih menjadi orang ketiga, apalagi keempat. Minimal jadilah orang kedua. Syukur-syukur Anda bisa menjadi orang pertama. Selamat memilih…

Penulis: Ustadz Abdullah Zaen, Lc. MA

4 September 2014

EMPAT KEBAHAGIAAN DUNIA

EMPAT KEBAHAGIAAN DUNIA
( Al-Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah)

«1»
Kebahagiaan adalah cita-cita setiap insan, Tak ada manusia yang hidup di dunia, bagaimana pun keadaannya, kecuali ia pasti mendambakan kebahagiaan di dunia, apalagi di akhirat. Kebahagiaan dunia yang didambakan oleh mereka adalah kebahagiaan yang panjang dan abadi, bukan hanya kebahagiaan semu dan sementara saja. Walapun memang banyak juga yang salah jalan ketika mencari kebahagiaan tersebut, sehingga terkadang ia menyangka bahwa dirinya telah bahagia, padahal ia adalah manusia yang sengsara.

Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- sebagai rasul yang pengasih dan penyayang kepada umat manusia telah menjelaskan sebagian diantara bentuk dan jalan kebahagiaan yang mungkin dan selayaknya ditempuh oleh para pendamba kebahagiaan.

Di dalam sebuah hadits dari sahabat Sa’ad bin Abi Waqqosh,  Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,

أربعٌ مِنَ السعادةِ : المرأةُ الصالحةُ والمسكنُ الواسعُ والجارُ الصالِحُ والمركبُ الهِنِيْءُ، وأربعٌ من الشقاوةِ : الجارُ السوءُ والمرأةُ السوْءُ وَالْمَسْكَنُ الضَّيِّقُ وَالْمَرْكَبُ السُّوْءُ

“Ada empat diantara kebahagiaan : istri yang sholihah (baik), tempat tinggal yang luas, tetangga yang sholih (baik), dan kendaraan yang nyaman. Ada empat kesengsaraan: tetangga yang buruk, istri yang buruk, rumah yang sempit, dan kendaraan yang buruk”. [HR. Ibnu Hibban dalam Shohih-nya (no. 4032), Al-Baihaqiy dalam Syu'abul Iman (9556), Adh-Dhiyaa' Al-Maqdisiy dalam Al-Mukhtaroh (no. 1048). Hadits ini dinilai shohih oleh Syu'aib Al-Arna'uth dalam Takhrij Al-Musnad (no. 1445)]

Hadits ini merupakan hadits yang agung dan luas maknanya. Karena, ia mengandung banyak faedah dan manfaat imaniyyah. Di dalamnya Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- menerangkan sebagian kebahagiaan dunia. Inilah kebahagian hakiki yang didambakan oleh setiap orang yang berakal saat ia hidup di dunia. Sebab kebahagiaan ini juga akan memberikan pengaruh bagi kebahagiaan di akhirat.

«2»
Empat kebahagian dunia itu adalah “tetangga yang sholih (yang baik) adalah tetangga muslim yang tidak menyakiti tetangganya. Tempat tinggal yang luas, yaitu yang banyak manfaatnya bagi penghuninya. Jadi, keluasannya tentu berbeda sesuai dengan perbedaan orangnya. Sebab, terkadang luas bagi seseorang, namun sempit bagi yang lain atau sebaliknya. Kendaraan yang nyaman adalah kendaraan yang cepat, tidak lamban, tak terlalu kencang dan kasar larinya sehingga ditakutkan jatuh, kagetnya badan dan tidak mengganggu badan”. [Lihat Faidh Al-Qodir (3/302) oleh Al-Munawiy, Al-Maktabah At-Tijariyyah Al-Kubro, Mesir, 1356 H]

Al-Imam Abul Hasan As-Sindiy berkata, “Tetangga yang sholih adalah tetangga yang mendorongnya kepada dzikir (mengingat Allah) dan taqwa serta menyadarkannya dari kelalaian dan hawa nafsu. Sabdanya, “…yang nyaman”, yang cocok (digunakan) di jalan Allah, tidak membuatnya terlambat dari rekan-rekannya. Sabdanya, “…yang luas”, yaitu rumah yang di dalamnya hati akan menjadi lapang dan tidak sempit. Karena, sempitnya dada akan menghalangi dari berbagai macam kebaikan”. [Lihat Takhrij Al-Musnad (no. 15372)]

Kebahagian lain, wanita sholihah, yaitu wanita yang mampu menemani suaminya yang sholih (baik) dalam rentang waktu yang panjang. Dia adalah perhiasan yang dibanggakan oleh suaminya dimanapun ia berada.

Ciri wanita sholihah (yang baik), jika ia dipandang oleh suaminya, maka ia membuat suaminya bahagia; jika ia diperintah dengan sesuatu yang baik, maka ia taati suaminya; jika suami pergi, maka menjaga kehormatan dirinya dan harta benda suami.

Umar pernah bertanya kepada Nabi  tentang harta benda yang perlu diambil? Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,

لِيَتَّخِذْ أَحَدُكُمْ قَلْبًا شَاكِرًا وَلِسَانًا ذَاكِرًا وَزَوْجَةً مؤمنة تعين أحدكم على أمر الآخرة

“Hendaknya seorang diantara kalian mengambil hati yang bersyukur, lisan yang berdzikir (selalu ingat Allah), dan wanita (istri) mukminah yang membantu salah seorang diantara kalian di atas urusan akhirat”. [HR. Ibnu Majah dalam Sunan-nya (no. 1856). hadits ini dinilai shohih oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (2176)]

Ulama Negeri India, Al-Imam Muhammad bin Abdir Rahman Al-Mubarokfuriy -rahimahullah- berkata,

((أي : على دينه ، بأن تذكره الصلاة ، والصوم ، وغيرهما من العبادات ، وتمنعه من الزنا ، وسائر المحرمات)) .” تحفة الأحوذي ” ( 8 / 390 ) .

“Maksudnya, (ia istri yang mukminah itu akan menolongnya) di atas agamanya, dengan mengingatkan suaminya tentang sholat, puasa dan lainnya diantara berbagai jenis ibadah serta menghalanginya dari zina dan seluruh perkara yang diharamkan”. [Lihat Tuhfah Al-Ahwadziy (8/390)]

Wanita yang sholihah selalu merindukan suaminya, sayang dan cinta kepadanya. Hatinya tak tenang jika suaminya jauh. Ia ingin selalu mendampinginya, melayaninya dan mengingatkan suaminya. Jika terpaksa suami jauh, maka ia mendoakan suaminya agar selamat dan selalu diberkahi seraya menjaga kehormatan diri, anak dan harta benda suaminya. Tak ada dipikirannya, selain membahagiakan suami dan menyayanginya. Sebab, ia yakin bahwa suami adalah pintu surga baginya. Dia tahu bahwa ia tak mungkin masuk surga jika durhaka kepadanya dan membuat suaminya susah. Ini merupakan sifat-sifat yang Allah anugrahkan bagi wanita sholihah.

Perpisahan dengan suami bagi wanita sholihah adalah lebih menyedihkan dan berat baginya dibandingkan kematian; lebih berat baginya dibandingkan hilangnya harta benda; lebih berat baginya dibandingkan meninggalkan kampung halaman. Terlebih lagi, jika memang diantara ia dan suaminya punya hubungan cinta yang amat erat di atas iman ataukah mereka telah memiliki anak yang akan terlantar dengan sebab perpisahan dan merusak kondisi mereka. [Lihat Majmu Fatawa (35/299) oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah]

«3»
Diantara keberkahan istri yang sholihah (yang baik), ia akan menjadi sebab keluasan dan kelapangan rezki.

Allah -Ta’ala- berfirman,

وَأَنْكِحُوا الْأَيَامَى مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ  [النور : 32]

“Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian (belum kawin) diantara kalian, dan orang-orang yang layak (kawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui”. (QS. An-Nuur : 32)

Inilah kebahagiaan dunia yang akan diraih oleh seseorang jika ia mendapatkan empat golongan yang disebutkan dalam hadits ini. Barangsiapa yang diberi kesholihan (kebaikan) dalam empat perkara ini, maka hidupnya akan nyaman dan sentosa. Sebab, semua perkara ini merupakan hal-hal yang menyenangkan jiwa dan raga serta menjadikan kehidupan lebih indah dan bahagia. Namun jika ia diberi keburukan dalam empat hal itu, maka ia akan hanya merasakan penat dan capek. Barangsiapa yang diuji dengan istri yang buruk, maka ia akan merasakan beratnya beban kehidupan dunia. Tak ada dalam pikirannya, kecuali segudang problema yang muncul gara-gara istri yang buruk agama dan perangainya. Tak heran bila sebagian suami cepat beruban sebelum masanya, akibat ia memelihara istri yang buruk akhlaqnya.

Oleh karena itu, Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- memerintahkan berdoa agar dijauhkan dari istri yang buruk sebagaimana dalam hadits berikut.

Abu Hurairah -radhiyallahu anhu- berkata,

كَانَ مِنْ دُعَاءِ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ جَارِ السُّوءِ وَمِنْ زَوْجٍ تُشَيِّبُنِي قَبْلَ الْمَشِيبِ وَمِنْ وَلَدٍ يَكُونُ عَلَيَّ رِبًا وَمِنْ مَالٍ يَكُونُ عَلَيَّ عَذَابًا وَمِنْ خَلِيلٍ مَاكِرٍ عَيْنَهُ تَرَانِي وَقَلْبُهُ تَرْعَانِي إِنْ رَأَى حَسَنَةً دَفَنَهَا ,
وَإِذَا رَأَى سَيِّئَةً أَذَاعَهَا

“Diantara doa Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam-,

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ جَارِ السُّوءِ وَمِنْ زَوْجٍ تُشَيِّبُنِي قَبْلَ الْمَشِيبِ وَمِنْ وَلَدٍ يَكُونُ عَلَيَّ رِبًا وَمِنْ مَالٍ يَكُونُ عَلَيَّ عَذَابًا وَمِنْ خَلِيلٍ مَاكِرٍ عَيْنَهُ تَرَانِي وَقَلْبُهُ تَرْعَانِي إِنْ رَأَى حَسَنَةً دَفَنَهَا وَإِذَا رَأَى سَيِّئَةً أَذَاعَهَا

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari tetangga yang buruk, dari istri yang membuatku beruban sebelum masa beruban, dari anak yang menjadi tuan bagiku, dari harta yang menjadi siksaan atasku dan dari kawan yang berbuat makar; matanya memandangiku, sedang hatinya mengawasiku. Jika ia melihat kebaikan, maka ia tanam (sembunyikan) dan jika melihat keburukan, maka ia menyebarkannya”. [HR. Hannad dalam Az-Zuhd (no. 1038) dan Ath-Thobroniy dalam Al-Mu'jam Al-Awsath (no. 1339). Hadits ini dinilai shohih oleh hasan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (no. 3138)]

Seseorang yang ingin mencari pasangan hidup hendaknya berlindung kepada Allah agar ia dihindarkan dari istri yang buruk perangainya. Saking buruknya, ia telah membuat suaminya beruban dan tua, akibat ulah sang istri yang amat memberatkan pikiran dan jasmani suaminya.

«4»
Para pembaca yang budiman, demikian pula jika seorang hamba memiliki rumah yang buruk dan kendaraan yang buruk, maka ia lebih banyak capek dan lelah dalam mengurusinya. Karena, sempitnya rumah akan membuat hati sempit, menciptakan kegelisahan dan menyibukkan pikiran. Kendaraan yang buruk akan membuat kita sibuk dengannya dari mengerjakan berbagai jenis ibadah dan ketaatan atau minimal ia akan membuat kita lambat mendatangi kebaikan.

Disyariatkan bagi seorang muslim untuk memohon kepada Tuhannya agar diberi keluasan tempat tinggal dan berkah padanya.

Dari Abu Hurairah -radhiyallahu anhu- bahwa Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- pernah berdoa di suatu malam seraya berkata,

(اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي ذَنْبِي، وَوَسِّعْ لِي فِي دَارِي ، وَبَارِكْ لِي فِيمَا رَزَقْتَنِي)

“Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku, berilah keluasan bagiku dalam rumahku dan berkahilah bagiku dalam sesuatu yang Engkau berikan kepadaku”. [HR. At-Tirmidziy dalam Sunan-nya (3500). Hadits ini di-hasan-kan oleh Al-Albaniy dalam Shohih Al-Jami' (1265)]

Keluasan rumah tergantung kepada keluasan hati seorang hamba. Jika ia bersyukur dengan rumah yang diberikan kepadanya, bagaimanapun ukurannya, maka ia selalu merasakan kelapangan. Tak heran bila Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- dengan rumah yang begitu sederhana, tapi beliau merasakan kebahagian dan kelapangan, karena hati beliau lapang dan selalu bersyukur terhadap pemberian Allah -Azza wa Jalla-.

Seorang tabi’in, Dawud bin Qois Al-Farro’ -rahimahullah- berkata

, رَأيتُ الحُجراتِ مِن جَريدِ النَّخلِ مُغشَّاة مِن خَارجٍ بمسُوح الشَّعرِ وَأظُنُ عَرْضَ البَيتِ مِن بَاب الحُجرةِ إلى بَاب البيتِ نحواً مِن سِتِ أَو سبعِ أَذرعٍ ، وأحْزِرُ البيتِ الدَّاخِلَ عَشرَ أَذرعٍ ، وأَظنُ سُمكَهُ بَين الثَّمانِ والسَّبْعِ نَحو ذَلك ، ووقَفتُ عِند بَاب عَائشةَ فَإذا هُو مُستَقبِلَ المَغربَ .

“Aku telah lihat rumah-rumah (milik istri Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam-) yang terbuat dari pelepah korma dalam keadaan tertutup dari luar dengan jalinan bulu. Aku perkirakan lebar rumah beliau dari pintu kamar sampai pintu rumah sekitar enam sampai tujuh hasta. Aku ukur rumah beliau dari dalam sekitar 10 hasta. Aku perkirakan tingginya antara delapan dan tujuh sekisaran itu. Aku berdiri di pintu A’isyah, ternyata pintunya menghadap ke barat”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Al-Adab Al-Mufrod (no. 451). Hadits ini di-shohih-kan oleh Al-Albaniy dalam Shohih Al-Adab (no. 352)]

Seseorang boleh saja memperluas ukuran rumahnya sesuai hajat dengan cara yang dibenarkan agama. Namun perlu dipahami bahwa keimanan dan amal sholih merupakan asas kebahagiaan dunia dan akhirat. Karena itu, Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- walaupun dengan kehidupan yang sederhana tersebut, namun beliau adalah manusia yang paling bahagia hidupnya. Jadi, luas-sempitnya rumah bukanlah ukuran hakiki bagi seorang hamba!!

2 September 2014

Kumpulan BC dari Sahabat Ilmu

Kumpulan BC dari Sahabat Ilmu

* Bersabar Sejak Awal Musibah *
(Ust Rizal Yuliar, Lc)

Ini adalah hal yang sering kali luput atau bahkan dilalaikan sebagian orang yang menghadapi musibah.

Padahal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّمَا الصَّبْرُ عِنْدَ الصَّدْمَةِ اْلأُوْلَى

"Sesungguhnya kesabaran adalah pada saat awal kejadian (musibah)"
[HR. Bukhâri: 1283, 1302, Muslim: 926]

Yakni apabila bersikap tegar dan tabah pada saat hati terguncang akibat suatu musibah maka itulah sabar yang sempurna yang akan mendatangkan pahala.

Al-Khaththâbi rahimahullah berkata:
"Sesungguhnya sabar yang terpuji adalah ketika musibah baru saja terjadi, adapun setelah itu beberapa hari maka dia akan lupa kemudian merelakan kepergiannya"
[Fathul Bâri 3/179, Tuhfatul Ahwadzi 4/62]

Imam Nawawi rahimahullah berkata:
"Sungguh makna hadits tersebut adalah kesabaran yang sempurna dan akan mendatangkan pahala yang agung, karena ujian kesulitan yang berat di dalamnya…"
[Syarah Muslim 6/481]

Dan jika ia berjuang untuk dapat bersabar maka Allah Azza wa Jalla akan memberikan kemudahan baginya untuk tegar dan bersabar.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Barangsiapa berusaha untuk bersabar maka Allah Azza wa Jalla akan membuatnya bersabar, tidaklah seseorang diberikan kebaikan yang menyeluruh dan lebih luas dari kesabaran"
[HR Bukhâri: 1469, Muslim: 1054]

Tentang definisi kesabaran Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:
"Sabar adalah menahan diri dari sikap kesal dan marah, menahan lisan dari keluh kesah serta menahan anggota badan dari melakukan kekacauan atau kebodohan".[Madârijus sâlikîn, Ibnul Qayyim 2:129]

---------------

* Bersama Malaikat Atau Dua Pahala *

Bagi seorang pembaca Al-Qur'an, baik mahir maupun terbata-bata, hanya ada 2 kemungkinan.

A. Seluruhnya Utama.

Nabi shallallahu'alaihi wasallam bersabda:

الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ وَالَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ

“Orang yang mahir membaca al-Qur’an bersama malaikat yang mulia lagi taat.
Adapun orang yang terbata-bata membaca al-Qur’an dengan terbata-bata dan berat atasnya dalam membaca maka baginya dua pahala...”
(HR Bukhari, Muslim)

Pahala membaca Al-Qur'an dan mempelajarinya.

B. Belajar Al-Qur'an: Berpahala Besar.

Dari Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam bersabda,

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya.." (HR Bukhari: 4739)

Untukmu Guru TPA, tetaplah bersemangat mengajarkan Al-Qur'an. Pahala berlimpah menanti...

Bagimu Ayah dan Bunda, ajarkan buah hati mengenal kitab suci. Kebahagian niscaya menyelimuti tanpa henti...

-----------------

* Bersih-Bersih Diri *

Islam sangat menjaga kebersihan dan keindahan. Tidak hanya lingkungan, bahkan anggota badan.

A. Lima Fithrah.

Nabi shallallahu'alaihi wasallam mengingatkan,

خَمْسٌ مِنَ الْفِطْرَةِ: الْخِتَانُ، وَالْاِسْتِحْدَادُ، وَتَقْلِيمُ

اْلأَظْفَارِ، وَنَتْفُ الْإِبْطِ، وَقَصُّ الشَّارِبِ

“Lima hal yang termasuk fitrah: khitan, mencukur rambut kemaluan, memotong kuku, mencabut bulu ketiak, dan merapikan kumis...” (HR. Bukhari 5891 dan Muslim 257)

B. Jangka Waktu Pelaksanaan.

Sahabat Anas radhiyallahu ‘anhu menjelaskan,

وُقِّتَ لَنَا فِي قَصِّ الشَّارِبِ وَتَقْلِيم اْلأَظْفَارِ وَنَتْفِ اْلإِبْطِ وَحَلْقِ الْعَانَةِ، أَنْ لاَ نَتْرُكَ أَكْثَرَ مِنْ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً

“Telah ditetapkan jangka waktu dalam merapikan kumis, memotong kuku, mencabut bulu ketiak, dan mencukur rambut kemaluan, tidaklah kami biarkan melebihi 40 hari...” (Shahih Muslim)

Berhias diperbolehkan, namun bukan pada bagian yang dianjurkan untuk dipotong dan dirapikan.

Jangan dibiarkan memanjang. Akhir pekan, saat tepat 'tuk bersih-bersih diri.

Terakhir kapan...?
Sudah lama khan...?!

-----------------

* Bersin *

Perkara yang setiap kita pernah mendapatkannya adalah bersin.

Islam mengatur adab ketika bersin maupun menjumpai orang yang bersin.

A. Berdoa Dan Doakan.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا عَطَسَ أَحَدُكُمْ فَلْيَقُلْ الْحَمْدُ لِلَّهِ وَلْيَقُلْ لَهُ أَخُوهُ أَوْ صَاحِبُهُ يَرْحَمُكَ اللَّهُ فَإِذَا قَالَ لَهُ يَرْحَمُكَ اللَّهُ فَلْيَقُلْ يَهْدِيكُمُ اللَّهُ وَيُصْلِحُ بَالَكُمْ

“Apabila salah seorang dari kalian bersin, hendaklah dia mengucapkan, 'Alhamdulillah' (segala puji bagi Allah)

Adapun saudara atau temannya mengucapkan, 'yarhamukallah' (semoga Allah merahmatimu)

Dan jika saudaranya berucap ‘yarhamukallah’ maka hendaklah ia membalas ucapkan,

'yahdikumullah wa yushlihu baalakum' (semoga Allah memberimu petunjuk dan memperbaiki keadaanmu)...”

(HR al-Bukhari: 6224, Muslim: 5033)

B. Lebih Dari Tiga Kali.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

إِذَا عَطَسَ أَحَدُكُمْ، فَلْيُشَمِّتْهُ جَلِيْسُهُ، وَإِنْ زَادَ عَلَى ثَلاَثَةٍ، فَهُوَ مَزْكُوْمٌ، وَلاَ يُشَمَّتْ بَعْدَ ثَلاَثٍ

'Apabila salah seorang dari kalian bersin hendaklah orang yang berada di dekatnya (tasymit) mendoakannya.

Apabila bersin lebih dari tiga kali berarti dia terkena sakit flu, dan tidaklah ia mentasymit setelah tiga kali..." (HR ibnu Sunni: 252, Shahihul Jami' : 684)

Dalam riwayat lain, Rasulullah bersabda,
الرّجلُ مَزْكُوْمٌ

"Orang ini sedang sakit..." (HR Muslim: 2993)

Sungguh indah ajaran Islam, berdoa dan saling mendoakan dalam setiap perbuatan dan keadaan.

---------------

* Bersyukur *

Allah Ta'ala berfirman,

وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ

“Dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang bersyukur...” (QS Saba':13)

Bukankah Allah telah menciptakan kita dalam sebaik-baik keadaan...?

Maka bersyukurlah,,,

Tidak hanya di lisan dengan ucapan Alhamdulillah, namun juga tercermin dalam seluruh anggota badan.

Abu Hazim Salamah bin Dinar rahimahullah berkata,

"Setiap anggota badan memiliki kewajiban untuk bersyukur...

Syukur kedua mata adalah ketika melihat kebaikan engkau menyebarkannya, dan apabila melihat kejelekan engkau menutupinya...

Syukur kedua telinga ialah tatkala mendengar kebaikan engkau meresapinya, dan jika mendengar kejelekan engkau menguburkannya...

Syukur kedua tangan yaitu engkau tidak mengambil apa yang tidak halal bagimu, dan tidak menahan sebuah hak dari hak-hak Allah dengan keduanya...

Dan seorang yang hanya bersyukur dengan lisannya tanpa diikuti oleh seluruh anggota badannya, maka dia seperti seseorang yang memiliki sebuah pakaian dan dia hanya memegang ujung-ujungnya saja tanpa pernah memakainya..

Sehingga pakaian itu tidak melindunginya dari panas dan dingin sama sekali..."

-------------

* Bertamu: Sarana Meraih Kecintaan Allah *

Mengunjungi sanak kerabat atau pun bertamu ke saudara muslim, hendaklah didasari niat meraih pahala dan kecintaan Allah Ta'ala.

A. Niat Sangat Menentukan.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Seseorang mengunjungi saudaranya di tempat lain. Kemudian Allah mengutus malaikat untuk mencegat orang tersebut di tengah perjalanan.

Malaikat bertanya kepadanya, "Hendak kemanakah anda..?”

Orang itu menjawab, “Aku hendak mengunjungi saudaraku yang berada di tempat ini”

Malaikat itu bertanya lagi, “Apakah ada suatu nikmat darinya yang akan engkau capai..?”

Ia menjawab, “Tidak, hanya saja aku mencintainya karena Allah Azza wa Jalla...”

Kemudian berkata malaikat,

فَإِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكَ بِأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَبَّكَ كَمَا أَحْبَبْتَهُ فِيهِ

“Sesungguhnya aku adalah utusan Allah yang diutus kepadamu (untuk menyampaikan) bahwa Allah telah mencintaimu sebagaimana engkau mencintai saudaramu karenaNya...” (HR. Muslim: 2567)

B. Ada Surga Menanti.

Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,

“Barangsiapa yang menjenguk orang sakit atau menziarahi (mengunjungi) saudaranya karena Allah semata, maka akan ada penyeru berkata,

طِبْتَ وَطَابَ مَمْشَاكَ وَتَبَوَّأْتَ مِنْ الْجَنَّةِ مَنْزِلًا

“Engkau telah berlaku baik dan perjalananmu adalah kebaikan pula.

Engkau telah menyiapkan tempat tinggal di surga...” (Hasan, HR. At-Tirmidzi: 2008, Shahihul Jami’: 6387 Al-Albani)

Dengan niat yang benar, perjalanan kita menjadi ganjaran pahala dan kecintaan Allah Ta'ala.

Luruskan niat, agar lelah letih kita tak lagi sia-sia...

-----------

* Bertaubat Sebelum Terlambat *

Setiap kali berbuat dosa dan maksiat maka bersegeralah bertaubat, sebelum....

A. Hari Kiamat.

Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ النَّهَارِ وَيَبْسُطُ يَدَهُ بِالنَّهَارِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ اللَّيْلِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا

“Sesungguhnya Allah 'Azza wa Jalla senantiasa membuka lebar tanganNya di malam hari untuk menerima taubat orang yang melakukan dosa di siang hari.

Dan Allah senantiasa akan membuka lebar tanganNya di siang hari untuk menerima taubat orang yang melakukan dosa di malam hari.

Dan demikian ini terus berlaku hingga matahari terbit dari barat (kiamat)..” (HR. Muslim: 2760)

Bila pun tidak menjumpai kiamat (karena seburuk-buruk orang adalah yang mengalami hari kiamat) maka tentu setiap kita akan menjalanii saat-saat dahsyat sakaratul maut.

B. Nyawa Di Kerongkongan.

Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ

“Sesungguhnya Allah menerima taubat seorang hamba sebelum nyawa sampai di kerongkongan (sakaratul maut)...” (Shahih, HR. At-Tirmidzi: 1531, Ibnu Majah: 3407; Shahih al-Jami’: 1309)

Mari sudahi perbuatan dosa dan maksiat...

Apakah kita dapat menjamin esok pagi masih dapat menatap indahnya mentari...?!

---------------

* Berwudhu Masuk Surga Dan Hapus Dosa *

Terkadang sesuatu yang telah menjadi rutinitas, luput darinya perkara pernyerta.

Berwudhu, karena setiap kali dilakukan, kerap kali kita lupa berdoa setelahnya. Padahal ada keutamaan yang besar.

A. Masuk Surga dari Pintu Mana Saja.

Sebagaimana sabda Nabi shallallahu'alaihi wasallam,

"Tidaklah seseorang dari kalian berwudhu kemudian menyempurnakan wudhunya selanjutnya berucap:

 أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاََّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسوْلُهُ


Melainkan akan dibukakan baginya pintu surga yang delapan dan dia dipersilahkan masuk dari pintu surga mana pun yang dia kehendaki..." (HR Muslim: 234)

B. Menghapuskan Dosa dan Kesalahan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam :

مَنْ تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوْءَ, خَرَجَتْ خَطَايَاهُ مِنْ جَسَدِهِ, حَتَّى تَخْرُجَ مِنْ تَحْتَ أَظْفَارِهِ

"Barangsiapa yang berwudhu kemudian membaguskan wudhunya, maka akan keluar kesalahan-kesalahan dari jasadnya bahkan hingga keluar dari bawah kuku-kukunya..." (HR Muslim: 245)

Sebagian ulama menganjurkan untuk tidak menyeka/mengelap bekas wudhu dengan kain, handuk atau pun semisalnya sebab dapat menghilangkan tetesan wudhu.

Wallahu a'lam.

---------------

* Betapa Tak Berhingga Nilai Tetangga Dan Anak *

Alhamdulillah barusan saja kami pulang dari 2 (dua) Rumah Sakit.

Sekira pukul 10:30 WIB saat beberes rumah dan pekarangan, tiba-tiba putri bungsu, anak ke-5 kami berusia 7 bulan kesulitan bernapas.

Ternyata menelan potongan kecil plastik. Memang sedang masa merangkak.

Kebingungan melanda...
Minta bantuan siapa...?!

Tentu pertama kali bukan saudara.
Bukan pula  kawan sejawat.

Pastilah tetangga...

Di antar tetangga menuju bidan terdekat. Si kecil sempat membiru dan berhenti bernapas...

Sembari berdzikir dan berdoa kami berupaya...

Lepas dari sesak, kami diarahkan ke RS. Kembali di antar tetangga...

Dilakukan penanganan dan di beri oksigen.

"Benda" sudah tidak nampak. Bila ke saluran pencernaan, maka tidak mengapa. Namun dikhawatirkan masuk ke paru-paru.

Karena di kota kecil, kami pun disarankan ke RS kota besar terdekat guna penanganan lebih lanjut.

Tak berpikir berapa pun biaya yang harus kami keluarkan.

Kembali kami di antar tetangga menuju RS kota besar terdekat, jazahumullahu khayran...

Sesampai di sana, langsung tim dokter beraksi.

Karena baru usia 7 bulan, dokter tidak berani melakukan rontgen dan tindakan lainnya. Apalagi si kecil sudah mau menyusui.

Mereka menyarankan observasi selama 1 hari ini. Bila timbul sesak, segera bawa ke RS lagi.

Dengan sigap tetangga berucap sewaktu-waktu siap mengantar.

Alhamdulillah...

Allah ta'ala berfirman,

وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ

"Dan terhadap nikmat Rabbmu, maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur)" (QS adh-Dhuha: 11)

Berharap ada manfaat yang dapat dipetik dari sepenggal kisah ini.

Betapa tak berhingga nilai tetangga dan anak. Jangan disia-siakan...

Dan terakhir...
Kami memohon untaian doa, agar tidak terjadi apa-apa dengan anak sulung kami.

-----------------

* Bicara Atau Pindah *

Salah satu manfaat shalat sunnah ialah penyempurna kekurangan yang dilakukan saat shalat wajib.

Yang mengiringi shalat wajib, ada shalat qabliyah (sebelum) juga ba'diyah (sesudah)

Bagi kita yang hendak shalat ba'diyah, dianjurkan berbicara atau berpindah sebelum melaksanakannya.

Mu’awiyyah radhiyallahu ‘anhu berkata kepada as-Saaib ibnu Yazid,

“Apabila engkau selesai shalat Jum’at, janganlah menyambung dengan shalat lainnya sebelum berbicara atau pindah dari tempat shalat.

Demikianlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam perintahkan kami.

Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

أَنْ لاَ تُوصَلَ صَلاَةٌ حَتَّى نَتَكَلَّمَ أَوْ نَخْرُجَ

“Janganlah menyambung shalat yang satu dengan shalat lainnya, sebelum kita berbicara atau berpindah dari tempat shalat...” (HR. Muslim: 883)

Berlaku pula di shalat wajib, bukan hanya shalat Jum'at saja.

Sering melihat orang berpindah tempat saat hendak shalat sunnah ba'diyah...?

Ternyata ada dalilnya ya..

-------------------

* Bila Ada Ghibah *

Bagi sebagian insan, membicarakan orang (ghibah) terasa "mengasyikan"

Seakan majlis belum lengkap tanpa menu satu itu...

Padahal...

Petaka ghibah sudah diketahui bersama...

Bagai memakan daging bangkai saudara...

Lalu bagaimana sikap kita bila ada kawan mulai membuka majlis ghibah..?

A. Tak Berguna.

Allah Ta'ala berfirman,

وَالَّذِيْنَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضِيْنَ

"Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna" (QS Al-Mu’minun: 3)

Dan ghibah termasuk di dalamnya...

B. Cegah Kemungkaran.

Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَراً فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ اْلإِيْمَانِ

"Barangsiapa yang melihat kemungkaran maka cegah dengan tangannya.

Jika tidak mampu maka cegah dengan lisannya.

Bila tidak juga mampu maka (tolak) dengan hati. Dan menolak dengan hati adalah selemah-lemah iman..." (HR Muslim)

Diantara tanda penolakan hati saat terjadi ghibah adalah meninggalkan majlis itu.

Imam an-Nawawi rahimahullah berkata,

"Sebagaimana diharamkan bagi seseorang mengghibah, maka diharamkan pula bagi orang untuk mendengarkan dan menyetujuinya..."

Satu lagi...

Bila kita turut mendengarkan seseorang mengghibahi lainnya, niscaya kelak kita akan menjadi obyek ghibah orang tersebut juga...

Waspadalah... Waspadalah...

---------------

* Bila Ayam Berkokok *

Suasana pagi, membawa keteduhan hati. Terlebih saat mendengar kokok ayam, maka berdoalah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا سَمِعْتُمْ صِيَاحَ الدِّيْكَةِ  (مِنَ اللّيْلِ) فَاسْأَلُوا اللهَ مِنْ فَضْلِهِ، فَإِنَّهَا رَأَتْ مَلَكًا، وَإِذَا سَمِعْتُمْ نَهِيْقَ الْحِمَارِ  (مِنَ اللّيْلِ) فَتَعَوَّذُوْا بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ، فَإِنَّهُ رَأَى شَيْطَانًا

“Apabila kalian mendengar ayam jantan berkokok (di waktu malam), mintalah karunia kepada Allah, sesungguhnya ia melihat malaikat.

Namun apabila kalian mendengar keledai meringkik (di waktu malam), maka mintalah perlindungan (ta'awwudz) kepada Allah dari gangguan setan, sesungguhnya ia melihat setan...” (HR. Bukhari: 3303; Muslim: 2729, tambahan dalam kurung merupakah riwayat al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad, Shahih al-Adabul Mufrad: 938; Silsilah ash-Shahihah: 3183)

Lihat juga buku Doa & Wirid al-Ustadz Yazid Jawas hafidzhahullahu ta'ala

Maka keterangan kokok ayam dan lolongan keledai dikhususkan pada malam hari dan tidak ada doa khusus, melainkan meminta keutamaan fadhilah dan memohon perlindungan.

Berhenti pada apa yang Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam berhenti, tidak mengada-adakan doa khusus padanya.

Ada doa dan perlindungan di setiap keadaan.

Wallahu a'lam.

--------------

* Bila Harus Masuk Pasar *

Termasuk dalam kriteria pasar adalah mall dan pusat perbelanjaan sebagai pasar modern.

A.Paling Dicintai dan Dibenci

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أحب البلاد إلى الله مساجدها و أبغض البلاد إلى الله أسواقها

“Tempat yang paling dicintai Allah adalah masjid-masjidnya dan yang paling dibenci Allah adalah pasar-pasarnya...” (HR. Muslim: 671)

Perbanyak menghadiri tempat yang Allah cintai dan kurangi lokasi yang Allah benci.

B.Awal dan Akhir.

Bila pun memasuki pasar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan tuntunan,

لا تكونن إن استطعت أول من يدخل السوق ولا آخر من يخرج منها

"Janganlah engkau menjadi orang pertama kali masuk pasar, bila mampu, dan jangan juga menjadi orang yang terakhir keluar”

فإنها معركة الشيطان وبها ينصب رايته

sebab pasar merupakan arena pertempuran para syaitan. Dan padanya ditancapkan bendera…" (HR Muslim: 2451)

Bersegeralah keluar dari pasar apabila urusan telah selesai agar terlepas dari kedustaan, maksiat mata dan beragam kemungkaran lainnya.

Adapun bila memang aktivitas menggapai rizki kita adalah di pasar, maka perbanyaklah berdzikir dan beristighfar.

--------------

* Bila Sempat *

Beberapa hari bulan Sya'ban telah kita lewati. Ramadhan pun 'kan menjelang.

bila kemarin belum sempat...

hutang puasa, segera dibayar...
jangan abaikan juga dibiar...

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
فَدَيْنُ اللَّهِ أَحَقُّ أَنْ يُقْضَى

“Hutang kepada Allah lebih berhak untuk dilunasi...” (HR. al-Bukhari: 1953, Muslim: 1148)

bila kemarin belum sempat...

mulailah berhitung kewajiban zakat...
biasanya penghujung ramadhan dijadikan saat yang tepat...

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ صَاحِبِ ذَهَبٍ وَلَا فِضَّةٍ لاَ يُؤَدِّيْ مِنْهَا حَقَّهَا
إِلاَّ إِذَا كاَنَ يَوْمُ اْلقِيَامَةِ صُفِّحَتْ لَهُ صَفَائِحُ مِنْ نَارٍ فَأُحْمِيَ عَلَيْهَا فِيْ نَارِ جَهَنَّمَ فَيُكْوَى بِهَا جَنْبُهُ وَجَبِيْنُهُ وَظَهْرُهُ

“Tidaklah pemilik emas maupun perak yang tidak membayar zakat melainkan kelak pada hari kiamat akan dibuatkan lempengan dari api untuknya, kemudian dipanaskan di neraka Jahanam dan disetrika dahi, lambung dan punggung dengan lempengan itu...” (HR. Muslim)

bila kemarin belum sempat...

tuntaskan jual beli di bulan ini...
agar ramadhan fokus berbenah diri...
tidak lagi kesibukan kirim barang kesana kemari...
hilanglah keutamaan bulan yang dinanti...

Sufyan ats-Tsauri rahimahullah apabila datang bulan Ramadhan beliau meninggalkan manusia dan memfokuskan diri membaca Al-Qur’an.

Jangan sampai Ramadhan menghampiri...

Namun kita belum bersiap diri...

Yang ada hanyalah penyesalan sembari berucap:

"Bila saja masih diberi kesempatan..."

--------------

* Bila Tak Percaya, Belah Saja Dadanya *

Kita hanya berhak menghukumi yang dzhahir (nyata) dari seseorang.

Adapun isi hatinya, serahkan kepada Allah Ta'ala.

Sebagaimana kisah yang dialami Usamah bin Zaid radhiyallahu 'anhu ia berkata,

"Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus kami dalam sebuah pasukan. Kami menyerang beberapa dusun dari kabilah Juhainah.

Tatkala aku telah berhadapan dengan seseorang (ia telah kalah dan hendak aku bunuh) lalu orang itu mengucapkan:
لا إله إلا الله

"Laa ilaaha illallah.."

Namun aku tetap menikamnya hingga mati.

Setelah itu rasa hatiku tidak enak.

Maka aku menceritakan peristiwa itu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أقال لا إله إلا الله وقتلته

“Apakah ia mengucapkan Laa ilaaha illallah lantas engkau tetap membunuhnya...?!”

Aku (Usamah) berkata,

يا رسول الله إنما قالها خوفا من السلاح

“Wahai Rasulullah, sesungguhnya ia mengucapkannya hanya sebab takut akan kibasan pedangku..!”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أفلا شققت عن قلبه حتى تعلم أقالها أم لا

“Mengapa engkau tidak membelah hatinya saja sehingga engkau pun dapat mengetahui apakah ia mengucapkannya sebab takut atau tidak...?!”

Usamah berkata,

فما زال يكررها علي حتى تمنيت أني أسلمت يومئذ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terus mengulang-ulang ucapan tersebut kepadaku hingga aku pun berangan-angan bila saja saat itu baru masuk Islam...” (HR Muslim: 1/96)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengulang-ulang perkataannya, tanda beliau mengingkari dengan pengingkaran yang keras.

Demikian menyesalnya Usamah radhiyallahu 'anhu sebab ia tetap membunuh orang itu hanya dengan dasar dugaan bahwa musuh mengucapkan "Laa ilaaha illallah" sebab takut kibasan pedang.

Hendaknya berlaku pula dalam pergaulan kita sehari-hari.

Hukumi seseorang dengan dzhahir yang nampak, tak perlu menyibukkan diri menduga isi hati.

Bila tak percaya, belah saja dadanya...

--------------

* Bismillah Itu Pembeda *

Saat hendak memulai suatu kebaikan kita akan membaca bismillah.

A. Hendak Makan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَا غُلاَمُ سَمِّ اللَّهَ ، وَكُلْ بِيَمِينِكَ وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ

"Wahai anak muda, bacalah “bismillah”, makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah makanan yang ada terdekat di hadapanmu...” (HR. Bukhari: 5376, Muslim: 2022)

B. Akan Berhubungan Intim

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Apabila salah seorang dari kalian hendak menggauli istrinya, dan membaca doa:

بِاسْمِ اللَّهِ، اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا

"Bismillah (dengan menyebut Nama Allah),

Ya Allah jauhkanlah kami dari setan dan jauhkan setan agar tidak mengganggu apa yang Engkau rizkikan kepada kami (anak)..."

Apabila ditakdirkan lahir anak dari hubungan intim tersebut, maka setan tidak akan mampu membahayakan anak tersebut selamanya...” (HR. Bukhari: 141, Muslim: 1434)

Demikianlah ucapan "bismillah" dalam setiap perbuatan baik..

Maka tidak pernah kita lihat seorang yang akan berzina membaca "bismillah..."

Juga...

Belum pernah kita temui seorang yang akan mengunjungi tempat kemaksiatan atau memulai kejahatan, terlebih dahulu membaca "bismillah..."

Dan..

Belum pernah pula kita dengar seorang yang hendak merokok terlebih dahulu membaca "bismillah..."

Ternyata memang benar, ucapan "bismillah" itu memang pembeda.

---------------

* Boleh Dibeli Waktunya...?! *

Ada orang yang merasa kehabisan waktu, berlalu sedemikian cepat.

Ada pula yang bingung cara menghabiskan waktu.

A. Kelebihan Waktu (Nganggur)

Suatu ketika di hari raya, al-Qadhi Syuraih keluar menuju sekelompok penenun kain yang sedang bermain.

Tatkala al-Qadhi bertanya, "Mengapa kalian bermain..?"

Mereka menjawab, "Kami sedang mengisi waktu luang.."

Al-Qadhi kemudian menasihati cara mengisi waktu luang seraya membaca firman Allah,

فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ وَ إِلَى رَبِّكَ فَارْغَبْ

"Maka apabila engkau telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. Dan hanya kepada Rabb-mu hendaknya engkau berharap..." (QS al-Insyirah: 7-8)

Yahya bin Ma'in bertanya kepada gurunya sembari berjalan karena takut tidak sempat mencatat saat gurunya mengambil kitab (Asy-Syama'il lit-Tirmidzi: 60)

Lihatlah...

Bila saja waktu luang kita dijual, niscaya para ahli ilmu akan berucap,

"Boleh dibeli waktunya...?!"

B. Kekurangan Waktu (Sibuk)

Sebagaimana pun sibuknya kita, jangan sampai tiada waktu bercengkrama dengan keluarga, terutama anak.

إِنَّ لِرَبِّكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَلِنَفْسِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَلأَهْلِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، فَأَعْطِ كُلَّ ذِى حَقٍّ حَقَّهُ

“Sesungguhnya Rabbmu mempunyai hak atas dirimu, dirimu memiliki hak atasmu, dan keluarga pun ada hak atas dirimu, maka berikan hak kepada setiap yang memilikinya...” (HR al-Bukhari)

Oleh sebab itu,

Ketika di luar rumah kita telah lama meninggalkan keluarga. Maka saat berada di rumah, bercengkramalah bersama anak dan seluruh anggota keluarga.

Tak perlu membawa pekerjaan kantor ke rumah.

Jangan lagi sibuk "memijit-mijit" benda kecil dalam genggaman (baca: hp) sembari senyum sendirian.

Sungguh miris tatkala saking inginnya bercengrama dengan kita, sampai terucap dari lisan polos si kecil :

"Boleh dibeli waktunya...?!"

-------------

* Bolehkah berkurban atas diri orang lain yang telah meninggal dunia...? *

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin rahimahullahu ta'ala menyebutkan rincian penjelasan ini (dalam kitab Ahkam Al-Udhhiyah wa Adz-Dzakah hal 18-19) sebagai berikut:

1. Apabila si mayit merupakan bagian dari yang masih hidup.

Sebagaimana apabila seseorang berkurban atas dirinya dan seluruh keluarganya (padahal di antara mereka ada yang telah meninggal dunia). Hal ini dibenarkan sebab Nabi shallallahu'alaihi wasallam berkurban dan bersabda,

“Ya Allah, (kurban) ini dari Muhammad dan keluarga Muhammad”

(Shahih, HR. Ibnu Majah no: 3122 dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu)

2. Menyembelih kurban atas diri mayit secara khusus sebagai wujud sedekah baginya.

Para Ulama Hanabilah membenarkannya, namun sebagian yang lain tidak membenarkannya kecuali bilamana ia sempat berwasiat sebelum wafatnya.

Dan merupakan KEKELIRUAN besar bilamana yang masih hidup memperhatikan kurban atas diri yang telah wafat tapi mereka mengabaikan ibadah ini atas diri mereka sendiri.

3. Menyembelih kurban atas diri mayit dengan dorongan wasiatnya sebelum wafat.

Wasiat semacam ini harus diwujudkan sebagaimana diwasiatkan tanpa ditambahkan maupun dikurangi.

Wallahu a'lam bishshawab..

Sumber:

"Meraih Bahagia di Dua Bulan Mulia, Ramadhan Dan Dzulijjah"

Buku Gratis, dibagikan cuma-cuma.

buah pena: Ust Rizal Yuliar, Lc (alumnus Univ Islam Madinah, jurusan hadits)

------------

* BOROS (Tabdzir) *

Merupakan perilaku yang selayaknya dijauhi seorang mukmin. Baik dia memiliki harta, terlebih lagi bila tak punya.

A. Teman Setan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَلا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ

“Dan janganlah kalian menghambur-hamburkan (harta) secara boros.
Sesungguhnya orang-orang pemboros itu adalah saudara setan...” (QS. Al-Isra’: 26-27).

B. Diantara Pengertian Boros.

Mujahid rahimahullah berkata,

“Apabila seseorang mengeluarkan seluruh hartanya pada jalan yang benar, bukanlah dikatakan boros.

Namun jika ia menginfakkan satu mud (ukuran telapak tangan) saja pada jalan yang salah, maka itulah yang disebut pemborosan...”
(Tafsir Ibnu Katsir)

Bijaklah di akhir Ramadhan dan jelang Hari Raya, waspadai sikap boros dalam membelanjakan harta.

Pakaian akan lapuk.
Perabotan akan usang..
Sedekah di jalan Allah saja yang tak akan lekang...

Bukankah dalam perkara harta di tanya dua hal; diperoleh darimana dan dihabiskan kemana..?

-------------

* Buang Dengki Sebelum Tidur *

Diantara surat yang dianjurkan dibaca sebelum tidur adalah surat al-Falaq.

Di ayat terakhir berbunyi:

وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ

“Dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki” (QS Al-Falaq: 5)

Syaikh Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan,

"Hasad (dengki) adalah benci kepada orang lain karena mendapat nikmat Allah.

Bisa berupa harta, kedudukan, ilmu, dan lainnya. Keadaan ini menyesakkan dada si pendengki..."

Kita pun harus menghilangkan seluruh iri dengki yang sempat timbul di hari ini.

'tak ada gunanya mendengki, sebab seluruh rizki sudah diatur dan dibagi.

Mari tidur dalam keadaan dada lapang, pikiran tenang.

Jangan ajak dengki mengusik tidur indah kita...

---------------

* Bukan Harta Dan Tahta *

Tujuan seruan dakwah setiap orang bisa berbeda-beda. Apa sesungguhnya yang hendak dicapai..?

A. Tawaran Quraisy.

“Disaat bertemu dua pasukan, kafir Quraisy dengan kaum muslimin, terjadilah negosiasi. ‘Utbah bin Rabi’ah selaku utusan Quraisy berkata:

“Wahai anak saudaraku (keponakan), bila engkau menghendaki dari apa yang kau lakukan ini adalah harta benda, maka akan kami kumpulkan untukmu seluruh harta orang-orang Quraisy, sehingga engkau menjadi orang paling kaya dari kami.

Dan jika yang engkau kehendaki ialah kedudukan, maka akan kami jadikan engkau sebagai pemimpin kami, hingga kami tidak akan pernah memutuskan suatu perkara melainkan atas perintahmu.

Dan bila engkau menghendaki menjadi raja, maka akan kami jadikan engkau sebagai raja kami.."
(Sirah Ibnu Hisyam: 2/131, Dalail an-Nubuwah: 1/194, dihasankan oleh Syaikh al-Albani)

... hingga akhirnya Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam menjawab tawaran utusan Quraisy ini dengan membacakan surat Fushshilat: 1-5

B. Lalu Apa Inti Dakwah Beliau..?

Sesungguhnya Tujuan Dakwah seluruh Nabi dan Rasul adalah sama.

Nabi Nuh ‘alaihis salam (QS. al-A’raaf: 59).

Nabi Hud ‘alaihis salam kepada kaum 'Aad (QS. al-A’raaf: 65)

Nabi Shalih ‘alaihis salam kepada kaum Tsamud (QS. al-A’raaf: 73)

Nabi Syu’aib ‘alaihis salam kaum Madyan (QS. al-A’raaf: 85)

Nabi Ibrahim ‘alaihis salam kepada kaumnya (QS. al-Mumtahanah: 4)

Bahkan dakwah seluruh Rasul ‘alaihimussalam (QS. an-Nahl: 36)

Seruan mereka adalah satu, yaitu:
يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ

"Wahai kaumku, sembahlah Allah. Tiada bagi kalian sesembahan selainNya...”

Mari kita menyeru sebagaimana seruan para Nabi.
Ayo kita memulai dakwah dengan inti dakwah yang Allah tetapkan.

Tauhid, prioritas pertama dan utama.
Mencegah pemiliknya dari korupsi, manipulasi, dusta dan perbuatan nista lainnya...

----------------

* Bukan Karena Banyak *

Indahnya bintang bukan karena jumlahnya yang banyak bertebaran...

Tetapi, karena Allah telah menyatakan bahwa ia merupakan hiasan langit...

Allah Taa'la berfirman,

وَلَقَدْ زَيَّنَّا السَّمَاءَ الدُّنْيَا بِمَصَابِيحَ

“Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang” (QS. Al-Mulk: 5)

إِنَّا زَيَّنَّا السَّمَاءَ الدُّنْيَا بِزِينَةٍ الْكَوَاكِبِ

“Sesungguhnya Kami telah menghias langit yang terdekat dengan hiasan, yaitu bintang-bintang” (QS. Ash-Shafaat: 6)

Baiknya amalan bukan disebabkan jumlahnya yang banyak dikerjakan..

Namun ia akan bermanfaat tatkala menjadi ibadah yang diterima Allah ta'ala...

Sebagaimana firman Allah 'Azza wa Jalla,

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلا

“(Allah) Yang menciptakan mati dan hidup, supaya Dia menguji kalian, siapakah yang paling baik amalnya…” (QS. Al-Mulk: 2)

Disebutkan “ahsanu amala” (paling baik amalnya) bukan “aktsaru ‘amala” (paling banyak amalnya)

---------------------

* Bukan Kemiskinan *

Seringkali kita sangat mengkhawatirkan kemiskinan dan kefakiran menimpa.

Benarkah demikian...?

A. Banyak Di Surga.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

اطلعت في الجنة، فرأيت أكثر أهلها الفقراء

“Aku pernah melihat surga, maka aku lihat kebanyakan penduduknya adalah orang miskin...” (HR. al-Bukhari, Muslim)

B. Khawatir Dunia Terhampar.

Nabi 'alaihish shalatu wasallam bersabda,

فَوَاللَّهِ مَا الْفَقْرَ أَخْشَى عَلَيْكُمْ وَلَكِنِّيْ أَخْشَى عَلَيْكُمْ أَنْ تُبْسَطَ الدُّنْيَا عَلَيْكُمْ كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ فَتَنَافَسُوْهَا كَمَا تَنَافَسُوْهَا وَتُهْلِكَكُمْ كَمَا أَهْلَكَتْهُمْ

“Demi Allah, bukanlah kefakiran yang aku khawatirkan menimpa kalian. Akan tetapi, aku mengkhawatirkan dunia dihamparkan bagi kalian sebagaimana telah dihamparkan untuk kaum sebelum kalian.

Maka kalian akan saling berlomba mendapatkannya seperti umat sebelum kalian berlomba mendapatkannya.

Lalu kalian pun dibinasakan oleh dunia sebagaimana orang sebelum kalian telah dibinasakan olehnya..”
(HR al-Bukhari, Muslim)

Orang yang memiliki harta, mudah berbangga dan lupa diri. Seakan dunia telah dimiliki.

Hingga saat kebinasaan menghancurkan.

Mengingatkan kembali perkataan Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu berkata,

"Di dunia ini, setiap manusia adalah tamu dan harta bendanya adalah pinjaman.

Sedangkan tamu pasti kembali pulang dan harta pinjaman harus dikembalikan..." (Syu'abul Iman al-Baihaqi: 7/376)

----------------

* Bukan Lonceng, Bukan Terompet *

Adzan merupakan panggilan nan mulia penanda tiba waktu shalat.

Cara yang digunakan pun sangat mulia, tidak pernah ditemui di agama lain.

Dikisahkan dalam hadits yang shahih:

Dahulu tatkala kaum muslimin tiba di Madinah, mereka berkumpul dan memperkirakan waktu shalat, tanpa ada seorang pun yang menyerunya.

Hingga pada suatu hari, mereka membicarakan tentang hal tersebut.

Sebagian mereka berkata:

اتَّخِذُوا نَاقُوسًا مِثْلَ نَاقُوسِ النَّصَارَى

“Buatlah lonceng seperti lonceng Nashara..”

Sebagian yang lain berkata:

بَلْ بُوقًا مِثْلَ قَرْنِ الْيَهُودِ

“Buatkan saja terompet semisal terompet Yahudi...”

Maka Umar berkata:

أَوَلاَ تَبْعَثُونَ رَجُلاً يُنَادِي بِالصَّلاَةِ

“Tidakkah kalian menyuruh seseorang untuk menyeru shalat...?”

Maka Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam bersabda,

يَا بِلاَلُ قُمْ فَنَادِ بِالصَّلاَةِ

”Wahai, Bilal.. berdiri dan serukanlah adzan untuk shalat...” (HR Al-Bukhari: 604, Muslim: 674)

Maka bersegeralah memenuhi panggilan kemenangan ini, wahai kaum Muslimin... Niscaya ketenangan dan kebahagiaan kalian peroleh...

--------------

* Bukan Pribadi STMJ (Shalat Terus Maksiat Jalan) *

Telah diketahui bahwa shalat dapat mencegah seseorang dari melakukan perbuatan buruk.

Sebagaimana firman Allah Ta'ala,

إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ

“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar” (QS. Al-Ankabut: 45).

Tatkala ada sahabat yang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata,

“Didapati ada seseorang yang shalat di malam hari tetapi saat pagi hari ia mencuri. Bagaimana halnya demikian...?”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّهُ سَيَنْهَاهُ مَا يَقُوْلُ

“Sungguh shalatnya tersebut akan mencegah dari apa yang ia katakan (mencuri dan perbuatan buruk lainnya)...” (Shahih, HR. Ahmad: 2/447)

Lalu apa yang salah...?

Mungkin tidak terpenuhi rukun, syarat dan hukum-hukum shalat...

Bisa jadi hanya menunaikan shalat, bukan menegakkan shalat...

Sekedar gugur kewajiban, khusyu' tak lagi didapatkan...

Mari benahi shalat kita...
Jangan jadi pribadi STMJ (Shalat Terus Maksiat Jalan)...

--------------

* Bukan Pukulan Mencelakakan *

Termasuk bagian dalam mendidik adalah berupa pukulan.

Namun pukulan yang memberikan pengajaran, bukan pukulan yang mencelakakan.

A. Istri Membangkang.

Allah subhanahu wa ta'ala berfirman,

وَاللَّاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ...

“Dan wanita-wanita yang kalian khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka...” (QS. An-Nisa’: 34).

B. Shalat Anak.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مُرُوْا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَهُمْ أَبْناَءُ سَبْعِ سِنِيْنَ، وَاضْرِبُوْهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَْبْناَءُ عَشْرٍ..

"Perintahkanlah anak kalian untuk shalat tatkala umur mereka mencapai tujuh tahun, dan pukullah mereka apabila meninggalkan shalat setelah berumur sepuluh tahun..." (Shahih Abu Daud: 465, 466)

Asy-Syaikh al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan,

"Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan orang tua untuk memukul bukanlah dalam rangka menyakiti anak, namun agar mendidik dan meluruskan kesalahan..." (Syarh Riyadhush Shalihin: 2/124)

C. Jangan Di Wajah.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi peringatan,

“Apabila salah seorang di antara kalian memukul, hindarilah (memukul) wajah...” (HR. al-Bukhari: 2559, Muslim: 2612)

Memukul wajah tanda amarah...
Apalagi bila dibarengi makian...

Padahal, pukulan yang diperbolehkan bukan untuk melukai. Tetapi agar jera tidak mengulangi...

Ketegasan tanpa kelembutan, yang tersisa hanyalah kekerasan...

---------------

* (bukan) Sehidup Semati *

Seakan bukti kesetiaan cinta..
Ada pasangan yang berharap, bisa sehidup semati selamanya...

Benarkah demikian adanya...?

A. Hanya Amal Yang Menemani.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَتْبَعُ الْمَيِّتَ ثَلاَثَةٌ: أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ، فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى وَاحِدٌ، يَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَيَبْقَى عَمَلُهُ

“Tiga perkara yang akan mengikuti mayat (ke kubur): keluarga, harta, dan amalnya.

Maka akan kembali dua dan menetap bersamanya satu.

Keluarga dan hartanya akan kembali (meninggalkannya) dan menetap bersamanya hanyalah amal...”

(HR. al-Bukhari, Muslim)

Dunia tak pernah setia, ia kembali saat kita di kubur nanti...

Termasuk suami/istri yang katanya mencintai sehidup semati...

Tak akan mau setia bersama menemani di kuburan kita nanti...

B. Bersama Di Surga.

Apabila terjadi perceraian atau sang suami meninggal kemudian istri menikah lagi, maka di surga kelak ia akan menjadi istri dari suami terakhir.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الْمَرْأَةُ لِآخِرِ أَزْوَاجِهَا

“(di surga nanti) seorang wanita itu bagi suaminya yang terakhir...”

(Shahih, HR. ath-Thabrani, Shahihul Jami': 6691, Silsilah ash-Shahihah: 1281)

Karenanya sahabat Hudzaifah radhiyallahu 'anhu bertutur kepada istrinya tercinta,

“Apabila engkau ingin menjadi istriku di surga maka janganlah menikah lagi sepeninggalku. Karena wanita di surga diperuntukkan untuk suaminya terakhir saat di dunia..”

(Sunan al-Kubra lil Baihaqi: 13199)

Jadi...

Cinta itu bukan sehidup semati, tetapi hingga di surga nanti... Abadi...

1 September 2014

Kumpulan BC dari Sahabat Ilmu

Kumpulan BC dari Sahabat Ilmu

* Benar Sejak Awal Hingga Akhir *

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ

”Sesungguhnya amal itu tergantung dengan niatnya..."
(HR. Bukhari: 1, 54; Muslim: 1908)

Dalam hadits lain Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

وَإِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِخَوَاتِيْمِهَا

"Sesungguhnya amal itu tergantung pada akhirnya.."
(HR. Bukhari:6493, Muslim:112)

Maka perbuatan itu harus benar sejak dari awal (niat), tengah (pelaksanaan) dan akhir (takabur).

Jauhilah berbagai penyakit hati berupa riya' (ingin dilihat orang), sum'ah (ingin didengar orang), ujub (bangga diri), serta semisalnya.

Agar jerih payah amal kita tidak menjadi debu yang berterbangan tanpa hasil di akhirat kelak..

----------------

* Bendahara Amanah *

Adakalanya diperlukan seorang pengelola bantuan...

Terkadang dibutuhkan seseorang yang mau "merepotkan" diri menerima dan menyalurkan donasi...

Walau mungkin belum mampu turut menyumbang, asalkan bersikap amanah, maka ia memperoleh pahala bersedekah.

Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

الْخَازِنُ الْمُسْلِمُ الأَمِينُ الَّذِى يُنْفِذُ مَا أُمِرَ بِهِ كَامِلاً مُوَفَّرًا طَيِّبٌ بِهِ نَفْسُهُ، فَيَدْفَعُهُ إِلَى الَّذِى أُمِرَ لَهُ بِهِ ، أَحَدُ الْمُتَصَدِّقَيْنِ

“Seorang bendahara muslim yang amanah yang melaksanakan sesuai dengan apa yang ia diperintahkan secara sempurna, memuliakan dan senang hati.

Lalu ia menyerahkan amanah tersebut kepada orang yang telah diperintahkan untuk diberi, maka ia terhitung seorang yang juga turut bersedekah...”

(HR. al-Bukhari: 1438, Muslim: 1023)

Ingat...
Bendahara (khazin) muslim, bukan kafir.

Maka..
Pengelola zakat, bantuan palestina, ifthar jama'i (buka puasa bersama) maupun kegiatan dakwah sosial lainnya termasuk di dalam keutamaan hadits ini.

Mari berlaku amanah.

------------------

* Bentuk Terbaik *

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya” (QS at-Tiin: 4)

As-Sa'di rahimahullah berkata, “Maksudnya adalah diciptakan dengan sempurna, anggota tubuh yang sesuai dan perawakan yang pantas, tidak kurang sesuatu apa pun yang ia butuhkan...” (Taisir Karimir Rahman: 929)

"Allah bersumpah bahwa Dia telah menciptakan manusia dalam bentuk yang paling baik, yakni dalam keadaan dan rupa yang paling baik secara fitrah. Karena kenyataannya tidak ada makhluk yang lebih baik bentuknya daripada bani Adam.
Seluruh makhluk yang ada di bumi, keelokannya jauh di bawah keelokan bani Adam.." (Tafsir Juz ‘Amma, Syaikh al-‘Utsaimin)

Bila demikian keadaannya,,
Layakkah bila ada yang hendak merubah bentuk tubuh dengan anggapan belum sesuai kehendak..?
Mengapa kita enggan bersyukur...?

-----------------

* Berbaik Sangkalah *

Apapun yang menjumpai hari kita, maka berbaik sangkalah kepadaNya.

A. Sesuai Persangkaan Hamba.

Sebagaimana firman Allah dalam sebuah hadits Qudsi,

أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِيْ بِـيْ

“Aku (Allah) akan memperlakukan hambaKu sesuai dengan persangkaannya kepadaKu...” (HR al-Bukhari: 7066, Muslim: 2675)

Maknanya:

"Allah akan memperlakukan hambaNya bersesuaian dengan harapan baik atau buruk dari sang hamba.

Maka hendaklah seorang hamba senantiasa berprasangka dan berharap baik kepada Allah..." (Faidhul Qadir: 2/312)

B. Kembalikan Seluruhnya.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman,

الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ () أُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ

"(Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan,“inna lillahi wa inna ilaihi raji'un” (sesungguhnya kami kepunyaan Allah dan hanya kepadaNya kami kembali)

Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Rabb mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk" (QS al-Baqarah: 156-157)

Apapun yang terjadi, kembalikan seluruhnya kepada Allah.

Dan berprasangka baiklah atas setiap perkara.

Selalu ada hikmah dan berharap ganjaran pahala.

------------------

* Berbelanja Secara Patut *

Seorang istri harus menjaga harta suami. Dan seorang suami harus menafkahi keluarga secara patut.

A. Sesuai kadar Kemampuan.

Dalam kemudahan rizki, ada yang dilebihkan ada pula yang kurang.

Sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala,

لِيُنْفِقْ ذُوْ سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنْفِقْ مِمَّا آتَاهُ اللهُ لاَ يُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا إِلاَّ مَا آتَاهَا

“Hendaklah orang yang diberi kelapangan memberikan nafkah sesuai dengan kelapangannya dan barangsiapa disempitkan rizkinya maka hendaklah ia memberi nafkah dari harta yang Allah berikan kepadanya” (QS Ath-Thalaq: 7)

B. Apabila Kurang.

Seorang shahabiyyah (sahabat wanita) datang mengadu kepada Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam,

يَا رَسُوْلَ اللهِ، إِنَّ أَبَا سُفْيَانَ رَجُلٌ شَحِيْحٌ وَلَيْسَ يُعْطِيْنِي مَا يَكْفِيْنِي وَوَلَدِي إِلاَّ مَا أَخَذْتُ مِنْهُ وَهُوَ لاَ يَعْلَمُ

“Wahai Rasulullah, sungguh Abu Sufyan seorang yang kikir. Dia tidak memberiku nafkah yang dapat memenuhi kebutuhan aku dan anakku kecuali apabila aku mengambil sebagian dari hartanya tanpa sepengetahuannya...”

Maka Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam bersabda,

خُذِي مَا يَكْفِيْكِ وَوَلَدَكِ بِالْمَعْرُوْفِ

“Ambillah dari harta suamimu sekadar mencukupi kebutuhanmu dan anakmu secara patut...” (HR. Al-Bukhari: 5364, Muslim: 4452)

Sesuai kadar kebutuhan harian, bukan tambahan perabotan dan memperbanyak pengeluaran.

Bersyukur dan bersabar, dua poros yang harus ada dalam kehidupan.

-------------------

* Berbuat Dosa, Jangan Putus Asa *

Kita tidak boleh meremehkan maksiat yang dilakukan. Namun jangan pula larut dalam kepedihan dosa.

A. Tak Boleh Putus Asa.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman,

وَلَا تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ

“Dan janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir" (QS. Yusuf: 87)

B. Allah Maha Pengampun.

Selama seorang hamba tertaubat, maka Allah akan mengampuni,

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا

“Katakanlah: "Wahai hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah.  Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya” (QS. Az-Zumar: 53)

C. Seperti Tidak Berdosa.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
التَّائِبُ مِنَ الذَّنْبِ كَمَنْ لاَ ذَنْبَ لَهُ

“Orang yang bertaubat dari perbuatan dosa maka ia seperti orang yang tidak berdosa...” (Hasan, HR Ibnu Majah: 4250)

Ingatlah...!!

Setan itu akan selalu menggoda orang yang masih memiliki keimanan, sehingga bila berdosa ia akan menyesal.

Adapun orang yang tak lagi menyesal saat berbuat dosa, setan pun enggan mendekatinya.

---------------

* Berbuka Mengikuti Nabi *

Berpuasa merupakan ibadah agung. Maka selayaknya sejak awal sahur hingga berbuka kita berusaha mencontoh Nabi shallallahu'alaihi wasallam.

A. Doa Berbuka Puasa.

Diantara doa berbuka puasa, sebagiannya ada yang tidak shahih.

Berikut diantara yang shahih dari Rasulullah,

ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوْقُ وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللهُ
"Dahaga telah berlalu, urat-urat telah basah dan (semoga) Allah menetapkan pahala (puasa) Insya Allah..." (Hasan, HR. Abu Daud: 2357)

B. Menu Berbuka Puasa.

Anas bin Malik radiyallahu ‘anhu berkata;

"كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُفْطِرُ عَلَى رُطَبَاتٍ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ، فَإِنْ لَمْ يَكُنْ رُطَبَاتٌ فَتَمَرَاتٌ، فَإِنْ لَمْ يَكُنْ تَمَرَاتٌ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ..."

"Dahulu Nabi Shallallahu'alaihi wa Sallam berbuka dengan berberapa butir ruthab (kurma basah) sebelum menunaikan shalat (maghrib).

Apabila tidak ada kurma basah maka berbuka dengan tamr (kurma kering).

Dan jika tidak ada kurma kering maka beliau berbuka dengan beberapa teguk air..." (HR Ahmad, ash-Shahihah 2840)

Demikianlah Nabi shallallahu'alaihi wasallam berbuka puasa. Sungguh penuh kesederhanaan.

Mari kita contoh dengan penuh kecintaan dan pengharapan pahala.

Dengan apa kita akan berbuka puasa hari ini...?!

------------------

* Berbuka Puasa *

Berikut beberapa hal terkait berbuka puasa:

A. Segera.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ

“Manusia senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka puasa...” (HR al-Bukhari: 1957, Muslim :2549)

B. Berdoa.

Adapun doa yang shahih dan dianjurkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah:

ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوْقُ وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللهُ

"Dahaga telah berlalu, urat-urat telah basah dan (semoga) Allah menetapkan pahala (puasa) Insya Allah..." (Hasan, HR. Abu Daud: 2357)

C. Bahagia.

Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَ فَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِرَبِّهِ

"Terdapat dua kegembiraan bagi orang yang berpuasa. Kegembiraan saat ia berbuka dan kegembiraan saat berjumpa dengan Allah ta'ala (di akhirat kelak)..." (HR Muslim: 2700, 2701)

Semoga Allah mempertemukan kita di surgaNya kelak, negeri bertabur suka tiada lagi duka dan nestapa. Aamiin...

--------------------

* Berburu Lailatul Qadr *

Memasuki sepertiga akhir bulan Ramadhan, kita akan bersiap menyambut malam keutamaan...

Dialah (malam) lailatul Qadr...

A. Sepuluh Hari Terakhir.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِيْ الْوِتْرِ مِنْ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

“Carilah (malam) lailatul qadar pada malam-malam ganjil di sepuluh hari akhir bulan Ramadhan...” (HR. al-Bukhari: 2017).

B. Ganjil/Genap?

Timbul pertanyaan, manakah malam ganjil yang dimaksud?

Dari awal atau belakang?

Terlebih ada hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

الْتَمِسُوهَا فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى تَاسِعَةٍ تَبْقَى ، فِى سَابِعَةٍ تَبْقَى ، فِى خَامِسَةٍ تَبْقَى

“Carilah lailatul qadar di sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan pada sembilan, tujuh maupun lima malam yang tersisa...” (HR. al-Bukhari: 2021)

Beberapa ulama berpendapat, lafadzh "tersisa" menunjukkan terhitung dari belakang akhir Ramadhan.

Lalu timbul (lagi) pertanyaan...

Akan berlaku malam ganjil bagi yang mengikuti ketetapan awal Ramadhan pemerintah namun menjadi malam genap bagi pengikut (Ormas Islam) lainnya.

Demikian pula sebaliknya...

Lalu bagaimana...?

Maka hidupkanlah seluruh malam di penghujung ramadhan ini...

C. Jangan Lupa Berdoa

Ibunda Kaum Mukminin pernah bertanya,

"Wahai Rasulullah, apa pandangan engkau apabila aku mengetahui bahwa suatu malam merupakan lailatul qadar.

Apa yang sebaiknya aku ucapkan di malam itu...?”

Beliau menjawab, ”Katakanlah:

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى

"Ya Allah... Sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf yang menyukai permintaan maaf maka maafkanlah aku..."

(Shahih, HR. at-Tirmidzi: 3513, Ibnu Majah: 3850)

Singsingkan lengan, kencangkan ikat pinggang...

Penghujung Ramadhan telah datang...

-------------------

* Bercanda Bersama *

Pada umumnya permainan yang bernuansa canda adalah kesia-siaan.

Namun tidak halnya bagi sepasang suami istri.

Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

كُلُّ شَيْئٍ يَلْهُوْبِهِ ابْنُ آدَمَ فَهُوَ بَاطِلٌ إِلاَّ ثَلاَثًا: رَمْيُهُ عَنْ قَوْسِهِ، وَتَأْدِيْبُهُ فَرَسَهُ، وَمُلاَعَبَتُهُ أَهْلَهُ، فَإِنَّهُنَّ مِنَ الْحَقِّ.

“Setiap sesuatu yang dijadikan permainan Bani Adam adalah kesia-siaan semata kecuali tiga perkara: memanah dari busur, melatih kuda dan bercanda dengan istri.

Sesungguhnya seluruh perkara itu adalah hak, benar adanya”

(Shahih, HR An-Nasa'i, Ath-Thabrani, Shahih al-Jami' ash-Shaghir: 4532 Al-Albani)

Hmm... Indahnya menyambut suami datang, bercanda layaknya pengantin baru.

Semoga saat-saat itu tidak hilang mengisi kehidupan rumah tangga.

Yuks, kita mulai sekarang... Senang, riang, berpahala...

-----------------

* Berdoa Di Kala Sehat Dan Sakit *

Abdul A'la at-Taimi rahimahullah berkata,

"Perbanyaklah memohon kesehatan kepada Allah ta'ala, karena orang yang diuji dengan sakit meskipun berat ujiannya tidak lebih berhak (memperbanyak) berdoa daripada orang yang sehat, dimana orang sehat tidak merasa aman dari ujian berupa sakit (orang sehat juga harus memperbanyak berdoa).

Dan orang yang sedang diuji dengan sakit pada hari ini, tidak lain adalah orang yang sehat pada hari kemarin.

Dan orang yang akan diuji sakit esok hari tidak lain adalah orang sehat di hari ini.

(Fiqhul Ad'iyyah wal Adzkar, Syaikh 'Abdurrazzaq al-Badr)

Demikianlah nikmat sehat, salah satu dari dua kenikmatan yang seringkali manusia lalai pada keduanya.

Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam,

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

“Dua kenikmatan, kebanyakan manusia tertipu pada keduanya: kesehatan dan waktu luang...” (HR. Bukhari: 5933)

“Kenikmatan adalah keadaan yang baik, ada pula yang berkata bahwa kenikmatan merupakan perbuatan bermanfaat dalam bentuk melakukan kebaikan untuk orang lain...” (Fathul Bari, Ibnu Hajar al-Asqalani)

Apapun keadaan kita hari ini, sehat atau sakit, berdoalah dan manfaatkan aktivitas ini sebagai bekal akhirat kelak.

------------------

* Berdzikir Di Setiap Kondisi *

Hendaknya kita senantiasa berdzikir dengan berbagai jenis dzikir mutlak.

Dari Abu Ishaq maula (budak yang dibebaskan oleh majikannya)
Al Harits, dari Nabi shallallahu'alaihi wasallam bersabda,

ما من قوم جلسوا مجلساً، فلم يذكروا الله فيه، إلا كان عليهم تِرَةٌ،

“Tidak ada sekelompok kaum yang duduk di sebuah majlis dan di dalamnya mereka tidak berdzikir kepada Allah, melainkan akan ditimpakan atas mereka penyesalan.

وما من رجل مشى طريقاً، فلم يذكر الله عز وجل، إلا كان عليه تِرَةٌ

Dan tidaklah seseorang yang berlalu di jalan dan dia tidak berdzikir kepada Allah, melainkan akan ditimpakan atasnya penyesalan.

، وما من رجل أوى إلى فراشه، فلم يذكر الله، إلا كان عليه تِرَةٌ..
Dan tidaklah seseorang yang berbaring di kasurnya dan dia tidak berdzikir kepada Allah, melainkan akan ditimpakan atasnya penyesalan.."

[Shahih, HR Ahmad: 2/432. Lihat Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah karya Syaikh al-Albany no.79]

Penjelasan Hadits;
>> (التِرَة)
dengan mengkasrahkan huruf “ta”, artinya aib atau kekurangan

✓ Berkumpul dalam suatu majlis, jangan lupa berdzikir.
✓ Berlalu di suatu perjalanan, tetap berdzikir..
✓ Bahkan jelang tidur pun, dianjurkan berdzikir...

Ada Dzikir di Setiap Kondisi. Pagi, petang, jelang tidur, dijalan, di rumah, kapanpun dimanapun. Hingga tak sempat lagi lisan ini membicarakan aib orang lain...

--------------

* Bergaul Dengan Tetangga *

Tetangga, orang terdekat dengan kita.

Saat mengalami musibah, sebelum sanak keluarga membantu, tetangga lebih dahulu.

Maka bersabarlah dengan gangguan tetangga.

A. Lebih Besar Pahala.

Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam bersabda,

الْمُؤْمِنُ الَّذِي يُخَالِطُ النَّاسَ وَيَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ أَعْظَمُ أَجْرًا مِنْ الْمُؤْمِنِ الَّذِي لَا يُخَالِطُ النَّاسَ وَلَا يَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ

“Seorang mukmin yang berbaur dengan manusia dan bersabar atas gangguan mereka lebih besar ganjarannya daripada seorang mukmin yang tidak berbaur dengan manusia dan tidak sabar atas gangguan mereka....”

(Shahih, HR. At-Tirmidzi: 2507, Ibnu Majah: 4022,Shahihul Jami’: 6651 Al-Albani)

Baik bergaul dengan manusia secara umum, terlebih khusus tetangga.

B. Tetangga Terbaik.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

وَخَيْر الْجِيْرَانِ عِنْدَ اللهِ خَيْرُهُمْ لِجَارِهِ

“...Dan sebaik-baik tetangga di sisi Allah yaitu mereka yang terbaik (bergaul) dengan tetangganya...”
(Shahih, HR at-Tirmidzi, ash-Shahihah: 103)

Yuks, rangkul tetangga...
Dan bersabar dengan gangguan yang ada...
Berharap ganjaran pahala dari Allah semata...

---------------

*Berhari Raya Tanpa Berbuat Dosa *
(Jabat Tangan Bukan Mahram)

Kebahagiaan meliputi kaum muslimin di hari raya..
Berjabat tangan ucap selamat tidak mengapa..

Namun, jangan sampai berbuat maksiat dan dosa...
Menyentuh bukan mahram berakibat petaka...

Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam bersabda,

لَأنْ يُطعَنَ في رأسِ أحدِكم بمِخيَطٍ من حديدٍ خيرٌ لهُ مِنْ أن يَمَسَّ امرأةً لا تَحِلُّ لهُ

"Sungguh,, ditusuknya kepala seseorang kalian dengan jarum dari besi lebih baik baginya dibandingkan menyentuh seorang wanita yang tidak halal baginya..." (HR. Ath-Thabrani dalam Al-Kabir, Shahihul Jami' al-Albani: 4921)

Lafadz "Sungguh"; menunjukkan penekanan dari Rasulullah..

Kepala ditusuk jarum besi; siapa diantara kita dapat membayangkan apalagi merasakan. Na'udzubillah..

Kenali mahram kita, agar tak salah langkah..

---------------

* Berhias Untuk Siapa...? *

Ketika berada di luar rumah, seseorang berpakaian bagus, rapi, dan wangi layaknya hendak menemui orang spesial.

Namun sekembali di rumah, mulailah berganti daster kumel, atau pun kaos oblong bolong.

Sesungguhnya berhias itu untuk siapa..?

A. Wanita Indah Dipandang.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,

خَيْرُ النِّسَاءِ الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ إِلَيْهَا ...

“Sebaik-baik wanita adalah yang menyenangkan apabila suami memandangnya..." (Hasan; HR an-Nasa'i, Ahmad, ash-Shahihah: 1838 al-Albani).

B. Lelaki Pun Berhias Diri.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ

“Dan bergaullah dengan mereka dengan baik” (QS. An-Nisa’: 19)

Ibnu Katsir rahimahullah menafsirkan,

“Berkatalah yang baik, perbaguslah amalan dan tingkah laku kalian kepada istri. Berlaku baiklah sebagai kalian menyukai apabila istri berbuat demikian...” (Tafsir Ibnu Katsir 3: 400)

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu anhuma berkata,

“Sesungguhnya aku berhias diri untuk istriku sebagaimana ia menghias diri untukku...” (Tafsir Ibnu Jarir: 2/453).

Bila hati telah terjaga, tak ada keinginan tuk "bebas" melepas pandangan mata.

Suami istri, yuks berhias diri...


--------------

* Beri Hadiah Tetangga *

Apabila hendak memberi oleh-oleh hadiah selepas berpergian maupun liburan berhari raya, kepada siapa..?

A. Dahulukan Tetangga.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda,

وَخَيْر الْجِيْرَانِ عِنْدَ اللهِ خَيْرُهُمْ لِجَارِهِ

“...Dan sebaik-baik tetangga di sisi Allah yaitu mereka yang terbaik (bergaul) dengan tetangganya...”
(Shahih, HR at-Tirmidzi, ash-Shahihah: 103)

B. Walau Hanya.

Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam menasihati,

يَا أَبَا ذَرٍّ، إِذَا طَبَخْتَ مَرَقَةً فَأَكْثِرْ مَاءَهَا، وَتَعَاهَدْ جِيْرَانَكَ

“Wahai Abu Dzar, apabila engkau memasak yang berkuah, perbanyak airnya. Kemudian bagikan kepada tetangga...!” (HR. Muslim: 2625)

Tentu kita memiliki lebih dari sekedar kuah sup. Berbagilah dengan tetangga.

Bukankah jika rumah -na'udzubillah- tertimpa musibah, tetangga yang akan lebih dahulu membantu kita...?

Bahkan sebelum sanak saudara.

---------------

* Berilmu Jangan Sombong *

Seringkali para penuntut ilmu terjebak dalam sifat sombong, membanggakan diri atas ilmu yang dimiliki.

Perkara ini, kerap didapatkan justru pada para pemula.

Sebagaimana disampaikan dalam kitab Tadzkiratus Sami’ wal Mutakallim hal.65:

العلم ثلاثة أشبار من دخل
في الشبر الأول تكبر،
والثاني تواضع
الثالث علم أنه ما يعلم..

"Ilmu itu ada tiga langkah, barangsiapa yang baru masuk pada langkah pertama ia sombong, langkah kedua akan tawadhu’ dan langkah ketiga akan mengetahui dirinya tidak mengetahui..."

(Kitabul ‘ilmi Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin)

Padahal kesombongan tidak selayaknya terdapat dalam hati seorang muslim, apalagi penuntut ilmu.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً قَالَ إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

“Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi”

Ada sahabat yang bertanya, “Bagaimana halnya seseorang yang suka memakai baju dan sandal yang bagus...?”

Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah itu Maha Indah dan menyukai keindahan.

Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain...“
(HR. Muslim: 91)

Yuks, jauhi sifat sombong agar ilmu yang kita miliki menjadi barakah.

----------------

* Berita Tak Jelas *

Si fulan itu begini yaa...
Kalau fulanah sekarang begitu lho...

Hmm...
Sungguh banyak informasi simpang-siur bertebaran saat ini...

A. Termasuk Pendusta.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

“Cukuplah seseorang dikatakan sebagai pendusta apabila ia menceritakan segala hal yang ia dengar...” (HR. Muslim: 5, Abu Daud: 4992)

Imam an-Nawawi rahimahullah menjelaskan,

"Hadits ini merupakan celaan terhadap orang yang menceritakan setiap yang ia dengar.

Sebab umumnya, berita yang ia dengar tidak terlepas dari kebenaran dan kedustaan (bercampur).

Jika ia menceritakan segala yang didengarnya maka besar kemungkinan ia akan berdusta atas kabar yang tidak bersesuaian dengan kenyataan..."

(Syarh Shahih Muslim: 1/69)

B. Kehormatan Seorang Muslim.

Apalagi bila yang dibicarakan adalah seorang muslim. Kehormatannya terjaga oleh syariat Islam.

Tatkala Haji Wada, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَإِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ عَلَيْكُمْ حَرَامٌ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا، فِي شَهْرِكُمْ هَذَا، فِي بَلَدِكُمْ هَذَا

“Sungguh darah, harta, dan kehormatan kalian adalah haram (suci, terjaga) atas kalian.

Seperti terjaganya hari ini (hari Arafah), sucinya bulan ini (Dzulhijjah) dan haramnya negeri ini (Makkah)...” (HR al-Bukhari, Muslim)

Teliti sebelum menerima informasi apalagi bila hendak menyebarkannya lagi...

Alih-alih semangat berbagi informasi, malah petaka yang di dapat.

Ingatlah...!!

Lisan dan tulisan kita, kelak akan dimintai pula pertanggungjawaban di akhirat.

--------------

* Berkacalah Saat Musibah *

Air mengalir, banjir. Tanah bergerak, longsor. Gunung meletus, debu pun terendus, bertebangan hingga ratusan kilometer.

Jangan menyalahkan siapa-siapa. Bisa jadi setiap orang memiliki “andil” atasnya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (QS. Ar-Ruum: 41)

“Abul ‘Aliyah berkata,

“Barangsiapa yang berbuat maksiat di muka bumi, maka ia telah melakukan kerusakan di muka bumi”

Karena kebaikan bumi dan langit lantaran ketaatan...

(Tafsir Ibnu Katsir: 3/572)

Lebih lanjut Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,

“Diantara hukuman perbuatan dosa ialah hilangnya berbagai nikmat dan datangnya beragam siksa cobaan.

Tidaklah hilang suatu nikmat dari seorang hamba melainkan karena sebab dosa.

Dan tidaklah turun siksa ujian melainkan karena dosa...” (Ad-Da'u Wal Dawa': 49)

Saatnya introspeksi diri dan tidak perlu menyalahkan orang lain.

Apapun musibah yang menimpa.

-------------

* Berkumpul Dua keutamaan *

Seringkali kita berusaha meraih bermacam cara dan waktu agar doa dikabulkan.

Bepergian ke suatu tempat hingga mencari waktu yang tepat.

Di hari ini, bulan Ramadhan, Jumat selepas Ashar, berkumpul padanya dua keutamaan saat doa terkabulkan.

A. Orang Berpuasa.

Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam bersabda,

ثَلاَثٌ لَا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ : المُسافِر، الصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ، وَدَعْوَةُ الْمَظْلُوْمِ

“Ada tiga orang yang tidak tertolak doanya; seorang musafir, seorang yang berpuasa sehingga ia berbuka, serta doa seorang yang terzhalimi”

(Shahih, HR. Ibnu Majah: 1752, Silsilah ash-Shahihah: 596 dan 1797)

B. Jum'at selepas Ashar.

Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam bersabda,

"(Siang) hari Jum'at itu dua belas jam. Tidaklah seorang hamba muslim berdoa memohon sesuatu kepada Allah melainkan akan Allah kabulkan.

Maka carilah saat tersebut pada akhir waktu setelah Ashar..."

(HR Abu Daud:1408, an-Nasa'i: 1389, Shahihut Targhib:703 Syaikh al-Albani)

Manfaatkan dua keutamaan saat dikabulkan doa, yakni berpuasa dan akhir saat Ashar.

-------------

* Berkurban Atas Nama Mayit? *

Menyembelih kurban atas nama seseorang yang telah meninggal diperbolehkan apabila si mayit berwasiat untuk berkurban.

A. Tiga Keadaan.

Sebagaimana penjelasan asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin rahimahullahu ta'ala:

1. Apabila si mayit merupakan bagian dari yang masih hidup.

Sebagaimana apabila seseorang berkurban atas dirinya dan seluruh keluarganya (padahal di antara mereka ada yang telah meninggal dunia).

Hal ini dibenarkan sebab Nabi shallallahu'alaihi wasallam berkurban dan bersabda,

“Ya Allah, (kurban) ini dari Muhammad dan keluarga Muhammad”

(Shahih, HR. Ibnu Majah no: 3122 dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu)

2. Menyembelih kurban atas diri mayit secara khusus sebagai wujud sedekah baginya.

Para Ulama Hanabilah membenarkannya, namun sebagian yang lain tidak membenarkannya kecuali bilamana ia sempat berwasiat sebelum wafatnya.

Dan merupakan KEKELIRUAN besar bilamana yang masih hidup memperhatikan kurban atas diri yang telah wafat tetapi mereka mengabaikan ibadah ini atas diri mereka sendiri.

3. Menyembelih kurban atas diri mayit dengan dorongan wasiatnya sebelum wafat.

Wasiat semacam ini harus diwujudkan sebagaimana yang diwasiatkan tanpa ditambah maupun dikurangi.

(Ahkam Al-Udhhiyah wadz-Dzakah:18-19)

Jika tidak ada wasiat, maka berkurbanlah atas nama seseorang yang masih hidup.

B. Potong Kuku Rambut

Hal yang lebih menegaskan lagi adalah sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam,

إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّيَ فَلاَ يَأْخُذْ مِنْ شَعْرِهِ وَلاَ مِنْ أَظْفَارِهِ شَيْئًا حَتَّى يُضَحِّيَ

“Apabila telah masuk 10 hari pertama (Dzulhijjah) dan salah seorang kalian hendak berkurban, maka janganlah dia mengambil rambut dan kukunya sedikitpun hingga dia menyembelih kurbannya...” (HR Muslim: 1977)

Apabila berkurban atas nama mayit, kuku dan rambut mana yang "akan" dipotong..?

Terlebih lagi, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan para sahabat tidak melakukannya.

-----------

* Berlama-Lama Di Sujud Terakhir *

Ada sebagian kita yang keliru memahami makna hadits tentang anjuran berdoa ketika sujud dengan memperlama sujud terakhir dan berdoa padanya.

Padahal anjuran tersebut berlaku di seluruh sujud di setiap raka'at....

Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam,

أَقْرَبُ مَا يَكُوْنُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ

"Sedekat-dekat posisi hamba dengan Rabbnya adalah tatkala ia sedang sujud. Maka perbanyaklah doa (pada saat itu)..." (HR Muslim: 482)

Dalam kesempatan lain, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

وَأَمَّا السُّجُوْدُ فَاجْتَهِدُوا فِي الدُّعَاءِ فَقَمِنٌ أَنْ يُسْتَجَابَ لَكُمْ

"Adapun sujud maka bersungguh-sungguhlah berdoa pada saat itu.

Karena lebih mendekati bagi kalian untuk dikabulkan..." (HR Muslim: 479)

Syaikh Al-Utsaimin rahimahullah berkata,

“Memperpanjang sujud terakhir (untuk berdoa) tatkala shalat bukanlah bagian sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam...."

Maka jangan dibatasi dengan sujud terakhir di rakaat terakhir.

Pembatasan terhadap sesuatu ibadah yang tidak dibatasi Allah dan RasulNya merupakan perbuatan yang diada-adakan dan tertolak.

----------------------

* Berlemah Lembutlah *

A. Hiasi Diri Dengan Kelembutan.
Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam bersabda,

ﻣﺎ ﻛﺎﻥ ﺍﻟﺮﻓﻖ ﻓﻲ ﺷﻲﺀ ﺇﻟﺎ ﺯﺍﻧﻪ، ﻭﻟﺎ ﻧﺰﻉ ﻣﻦ ﺷﻲﺀ ﺇﻟﺎ ﺷﺎﻧﻪ

“Tidaklah sifat lemah lembut terdapat pada sesuatu melainkan akan memperindah dan tidaklah dicabut dari sesuatu kecuali akan menjadikannya buruk” (HR. Muslim)

B. Allah pun Mencintai Kelembutan.
Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam bersabda,

ﺇﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﺭﻓﻴﻖ ﻳﺤﺐ ﺍﻟﺮﻓﻖ ﻭﻳﻌﻄﻲ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺮﻓﻖ ﻣﺎ ﻻ ﻳﻌﻄﻲ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻌﻨﻒ ﻭﻣﺎ ﻻ ﻳﻌﻄﻲ ﻋﻠﻰ ﻣﺎ ﺳﻮﺍﻩ

“Sesungguhnya Allah Maha Lembut serta mencintai kelembutan.
Dan Allah memberikan kepada sifat lembut yang tidak diberikan pada sifat kasar dan sifat lainnya”
(HR. Muslim: 2593)

C. Bahkan Kepada Orang Yang Paling Dzhalim

Allah memerintahkan Nabi Musa dan Harun 'alahimas salam untuk mendakwahi Fir’aun dengan lembut.

Allah Ta’ala berfirman.

ﺍﺫﻫﺒﺎ ﺇﻟﻰ ﻓﺮﻋﻮﻥ ﺇﻧﻪ ﻃﻐﻰ ﻓﻘﻮﻟﺎ ﻟﻪ ﻗﻮﻟﺎ ﻟﻴﻨﺎ ﻟﻌﻠﻪ ﻳﺘﺬﻛﺮ ﺃﻭ ﻳﺨﺸﻰ

“Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, karena dia telah berbuat melampui batas. Berbicaralah kepadanya dengan kata-kata yang lembut, mudah-mudahan ia mau ingat atau takut”
[QS Thaha : 43-44]

Berlemah lembutlah...
✓ Kepada anak agar nasehat lebih mudah diterima.
✓ Kepada Orang Tua sebagai bentuk bakti kita.
✓ Kepada seluruh makhluk, sebab kita pun senang bila diperlakukan dengan penuh kelembutan.

------------

* Berlibur Bukan Berarti Libur Baca al-Qur'an *

Senangnya menikmati libur bersama keluarga maupun orang tercinta.

Namun jangan lupa tetap membaca al-Qur'an ya...

Rasulullah shallallahu 'alahi wasallam bersabda,

 اِقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيْعًا لِأَصْحَابِهِ

"Bacalah Al-Qur’an, sesungguhnya ia  menjadi syafa'at bagi yang membacanya pada hari kiamat”
(HR Muslim no: 1871 dari Abu Umamah Al-Bahili radhiyyallahu 'anhu)

Bahkan bisa ditambah dengan membaca terjemahan al-Qur'an agar kita lebih memahami isinya.

-----------

* Berlindung Dari 4 Perkara *
(Ust Abu Khansa' Suharlan, Lc)

Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam bersabda,

“Apabila seorang dari kalian bertasyahud, maka hendaknya dia berlindung kepada Allah dari 4 perkara. Hendaknya dia mengucapkan:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ،
وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ،
وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ،
وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ...

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu
✓ dari siksa neraka Jahannam,
✓ dari siksa kubur,
✓ dari fitnah (cobaan) kehidupan dan fitnah setelah kematian, serta
✓ dari keburukan fitnah Ad-Dajjal”
(HR Muslim: 128, 588, Nasa'i: 1309, Abu Daud: 983, Ibnu Majah: 919)

Penjelasan hadits :
☑ (عذاب جهنم) :
Siksaan yang ada di dalam jahannam.
“العذاب”
Al-'Adzab artinya adalah segala sesuatu yang melemahkan manusia dan menyulitkannya.

Jadi, berlindung dari siksa jahannam mencakup juga berlindung dari amalan-amalan yang menjerumuskan ke dalamnya, dan berlindung dari siksanya jika terlanjur mengerjakan amalan-amalan yang menjerumuskan ke dalamnya.

Karena manusia berada antara dua keadaan:
(1).  Terlindungi dari dosa-dosa, maka di sini dia berlindung dari amalan-amalan dosa.
(2). Dimaafkan dari dosa-dosa, maka disini dia berlindung dari akibat amalan-amalan dosa tadi.

☑ (عذاب القبر) :
Pada hakikatnya setiap orang tidak mengetahui apakah apabila dia mati, dia akan dikubur...?

atau mungkin dia mati lalu dimakan binatang buas....?

atau bahkan dia mati terbakar hingga menjadi abu...?

☑ (فتنة المحيا) :
Segala yang di hadapi oleh manusia semasa hidupnya dari berbagai macam ujian, yaitu cobaan dunia, syahwat, kejahilan, dan kezhaliman.

☑ (فتنة الممات) :
Cobaan yang menimpanya pada saat kematian, yaitu agar dimudahkan untuk mengucapkan kalimat syahadat dan selamat dari sakarat maut.

☑ (فتنة المسيح الدجال):
Merupakan cobaan yang sangat dahsyat yang ada di muka bumi sejak terciptanya Adam sampai hari kiamat nanti.

(Shahih Dzikir dan Doa Shalat hal. 133-138)

------------

* Berlindung Dari Harta Haram *

Hendaknya kita senantiasa menjaga diri dari berbagai bentuk harta haram.

A. Akan Datang Masanya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيَأْ تِيَنَّ عَلَى النَّاسِ زِمَانٌ لاَ يَبَالِي الْمَرْءُ بِمَا أَخَذَ الْمَالَ أَمِنْ حَلاَلٍ أَمْ مِنْ حَرَامٍ

“Sungguh akan datang suatu zaman dimana seseorang tidak lagi peduli dia memperoleh harta, dari jalan yang halal ataukah dari yang haram...”
(HR. al-Bukhari: 2083)

B. Bila Mampu, Lakukanlah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ أَوَّلَ مَا يُنْتِنُ مِنَ اْإلاءِنْسَانِ بَطْنُهُ، فَمَنِ اسْتَطَاعَ أَنْ لاَيَأْكُلَ إِلاَّ طَيِّبًا فَليَفْعَلْ

“Sesungguhnya yang pertama kali busuk dari seorang insan adalah perutnya.

Maka barangsiapa yang mampu untuk tidak memakan melainkan yang baik maka hendaknya lakukanlah...”

(HR. al-Bukhari: 7152)


B. Senantiasa Berdoa dan Menasehati.

Sisipkan doa berikut disela doa yang Anda panjatkan,

اللَّهُمَّ اكْفِنِى بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنِى بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ

"Ya Allah, cukupkanlah aku dengan yang halal dariMu dan jauhkanlah aku dari yang Engkau haramkan.

Dan cukupkanlah aku dengan karuniaMu dan jauhkanlah dari bergantung pada selainMu)

(HR. Tirmidzi: 3563, Ahmad; Silsilah ash-Shahihah: 1/474)

Demikian pula, hendaknya kita tak bosan menasehati diri sendiri dan juga Ayah, Suami, Anak serta siapa pun yang akan mencari rezeki agar menjaga diri dari perkara haram.

Sebagaimana kebiasaan istri para pendahulu kita nan shalih tatkala mengantar suaminya yang hendak berangkat bekerja, mereka berkata,

"Bertakwalah kepada Allah dalam menjaga kami.
Janganlah engkau memberi makan kami dari yang haram.

Kami dapat bersabar saat lapar di dunia, namun kami tak mampu bertahan akan panasnya api neraka di akhirat.." (Mafatih Sa'adah Zaujiyyah)

Mari, ucapkan esok pagi dengan penuh kasih sayang.

--------------

* Semangat Bermanfaat *

Selepas berlibur cukup panjang, terkadang sebagian kita melemah semangat berbuat yang bermanfaat. Apalagi bila itu adalah rutinitas.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

"...  احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ..."

“...Bersemangatlah atas perkara yang bermanfaat bagimu. Minta tolonglah pada Allah, janganlah engkau lemah..." (HR. Muslim)

Perbuatan kita tidak terlepas dari 3 hal:
1. Perbuatan yang bermanfaat.
2. Perbuatan yang haram.
3. Perbuatan yang mubah (boleh-boleh saja)

Maka...
Saat menuntut ilmu, bersemangatlah..
Kala mencari nafkah halal, bersemangatlah...

"hidup di dunia hanya sekali, berbuatlah yang berarti..."

--------------

* Berobatlah Di Kala Sakit *

Saat ini sebagian saudara kita ada yang mengalami sakit. Baik berupa sakit kepala, flu, batuk, maupun sakit selainnya.

Hendaknya kita tidak menyandarkan penyakit disebabkan perubahan musim atau dampak dari cuaca tak menentu.

A. Allah Yang Maha Kuasa.
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

ﻣﺎ ﺃﻧﺰﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﻣﻦ ﺩﺍﺀ ﺇﻻ ﺃﻧﺰﻝ ﻟﻪ ﺷﻔﺎﺀ، ﻋﻠﻤﻪ ﻣﻦ ﻋﻠﻤﻪ ﻭﺟﻬﻠﻪ ﻣﻦ ﺟﻬﻠﻪ
“Tidaklah Allah menurunkan suatu penyakit melainkan Allah turunkan pula obat baginya.
Mengetahui bagi orang-orang yang tahu, dan tidaklah diketahui bagi orang yang tidak mengetahuinya...”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Maka, segala penyakit sesungguhnya Allah yang menurunkan. Bersamaan dengan obatnya pula.

B. Dengan Cara Dan Bahan Yang Halal.
Dari Abu Darda' radhiyallahu 'anhu secara marfu’

ﺇﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﺧﻠﻖ ﺍﻟﺪﺍﺀ ﻭﺍﻟﺪﻭﺍﺀ ﻓﺘﺪﺍﻭﻭﺍ ﻭﻻ ﺗﺪﺍﻭﻭﺍ ﺑﺤﺮﺍﻡ

“Sesungguhnya Allah menciptakan penyakit dan juga obatnya. Maka berobatlah kalian, dan jangan berobat dengan sesuatu yang haram”
(Hasan, Ash-Shahihah Al-Albani: 1633)

Cara berobat yang haram, misal: ke dukun, menggunakan bacaan-bacaan ajimat, dll.

Bahan obat yang haram, misal: alkohol, olahan babi dan anjing, dsb.

"Semoga dengan kesabaran di saat sakit menyapa, dapat menghapus dosa dan menaikkan derajat di surga..."

---------------------

* Diantara Pengobatan Syar'I *

Terdapat beberapa keterangan dari Ayat Al-Qur'an dan hadits Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam terkait pengobatan bagi si sakit.

Diantaranya:

A. Al-Habbatus sauda' (jintan hitam).

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

ﺍﻟﺤﺒﺔ ﺍﻟﺴﻮﺩﺍﺀ ﺷﻔﺎﺀ ﻣﻦ ﻛﻞ ﺩﺍﺀ ﺇﻻ ﺍﻟﺴﺎﻡ

“Al-Habbatus Sauda' (jintan hitam) merupakan obat bagi segala penyakit, kecuali as-saam yakni kematian...”
(HR. Al-Bukhari: 5687, Muslim: 5727)

B. Madu

Allah ta’ala berfirman,

ﻳﺨﺮﺝ ﻣﻦ ﺑﻄﻮﻧﻬﺎ ﺷﺮﺍﺏ ﻣﺨﺘﻠﻒ ﺃﻟﻮﺍﻧﻪ ﻓﻴﻪ ﺷﻔﺎﺀ ﻟﻠﻨﺎﺱ

“Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia.."
(QS An-Nahl: 69)

C. Bekam (Hijamah)

Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

ﺍﻟﺸﻔﺎﺀ ﻓﻲ ﺛﻠﺎﺛﺔ: ﺷﺮﺑﺔ ﻋﺴﻞ، ﻭﺷﺮﻃﺔ ﻣﺤﺠﻢ، ﻭﻛﻴﺔ ﻧﺎﺭ، ﻭﺃﻧﺎ ﺃﻧﻬﻰ ﻋﻦ ﺍﻟﻜﻲ – ﻭﻓﻲ ﺭﻭﺍﻳﺔ: ﻭﻻ ﺃﺣﺐ ﺃﻥ ﺃﻛﺘﻮﻱ

“Pengobatan terdapat pada tiga hal: meminum madu, berbekam, dan kay dengan api, namun aku melarang
kay”  (HR. Al-Bukhari: 5680)

Dalam riwayat lain: “Aku tidak senang berobat dengan kay..”

*kay yakni besi yang dipanaskan

D. Ruqyah.

Yaitu berupa bacaan dari ayat Al-Qur'an ataupun doa-doa yang telah diajarkan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam.

Baik dilakukan oleh si sakit maupun yang mengunjunginya.

Doa untuk Orang Sakit,

اللّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ اَذْهِبِ الْبَأْسَ اشْفِ فَأَنْتَ الشَّافيِ لاَ شِفَاءَ إِلاَّ شِفَاؤُكَ شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقَماً

“Ya Allah Wahai Tuhan segala manusia, hilangkanlah penyakit ini, sembukanlah.
(hanya) Engkaulah Dzat Yang Maha Menyembuhkan, tiada kesembuhan melainkan kesembuhan dari-Mu.
Kesembuhan yang tidak akan  kambuh lagi. (HR. Bukhari, Muslim)

Dapat pula dengan doa berikut,

أَسْأَلُ اللهَ الْعَظِيْمَ رَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ أَنْ يَشْفِيَكَ ×7

“Aku mohon kepada Allah Yang Maha Agung, Tuhan yang menguasai Arsy yang agung, agar menyembuhkan penyakitmu. 7x ...”
(HR. At-Tirmidzi, Abu Dawud, Shahihul Jami’ 5/180)

-------------

* Berpikir Ulang Sebelum Berucap *

Abu Musa al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu bertanya kepada Rasulullah,

"Wahai Rasulullah, Islam manakah yang paling mulia...?"

Beliau shallallahu'alaihi wasallam berkata,

"من سَلِمَ المسلمون من لسانه ويده".

"Seseorang yang kaum muslimin selamat dari (kejahatan) lisan dan tangannya..." (HR al-Bukhari: 11, Muslim: 42)

Imam an-Nawawi rahimahullahu ta'ala berkata,

وينبغي لمن أراد النطق بكلمة أو كلام، أن يتدبره في نفسه قبل نطقه، فإن ظهرت مصلحته تكلم، وإلا أمسك.

"Hendaknya seseorang yang hendak berucap dengan suatu kalimat atau perkataan agar merenungkan kembali dalam dirinya sebelum ia sampaikan.

Jika nampak terdapat kebaikan (dari ucapannya) maka ia ungkapkan.

Namun bila tidak (ada kebaikan) maka hendaknya ia diam.." (Syarh Shahih Muslim: 18/117)

Betapa banyak permusuhan yang terjadi akibat lisan yang tak terjaga.

Sekali terucap, tak mudah ditarik kembali.

Ucapan yang telah menyinggung kawan, walau sudah dimaafkan, terkadang tetap tersimpan..

Di hati dan sanubari...